The First Romance

You’re my first love, but am I your last love?

Jawabannya…

hanya Tuhan yang tahu, dan waktu yang akan menjawab.

yang jelas, dalam menjalani suatu hubungan, gue akan berusaha melakukan yang terbaik yang gue bisa dan pada akhirnya Tuhan yang menentukan.



Menjelang valentine, sesekali gue ingin membuat sebuah postingan tentang hal-hal yang romantis. Walau gue tidak yakin hasilnya akan seperti yang diharapkan, karena gue penganut paham realistis. Huft -_-

Beberapa minggu kemarin, di acara wedding saudara gue sempat dengar lagu yang sepertinya pernah dinyanyikan oleh Christian Bautista dan BCL (versi Indonesia), tapi saat itu versi bahasa inggrisnya. Ternyata lirik dalam versi bahasa inggrisnya jauh lebih bagus maknanya dan entah kenapa gue jadi suka lagu itu. Langsung deh gue searching di google. Ternyata itu lagu bisa terbilang sudah lama. Tapi gue baru aja tau karena maklum aja, gue bukan tipe cewek yang suka lagu romantis ataupun galau, gue lebih suka lagu-lagu dengan dominan drum dan lead gitarnya (read: rock/metal). Dan ini termasuk suatu fenomena yang langka, gue bisa suka lagu romantis. Namun se’rocker-rocker’nya gue sebagai perempuan masih tetap punya sisi feminim hehehe.

Hal yang gue suka dari lagu ini adalah menurut gue liriknya memiliki nilai esensi yang sesuatu banget (bikin melting di hati) hehehe. Dan mungkin juga true story buat gue berdasarkan lirik yang dinyanyikan si perempuan “You are my first romance, and I’m willing to take a chance”.

Yap, first romance. Di tahun 2016 ini gue telah dipertemukan Tuhan dengan cinta pertama gue, sebut saja dia Mas Paul (bukan Paul Walker lho ya, karena dia bukan pacar gue, tapi idola gue). Dan berharapnya sih bisa jadi cinta terakhir juga (semua orang pasti berharap langgeng bersama pasangannya kan, kalau awal pacaran udah berharap putus untuk apa jadian?). Akan tetapi gue nggak mau gegabah/buru-buru mengatakan cinta terakhir, terlalu cepat untuk saat ini. Karena cinta terakhir bisa dibilang benar-benar cinta terakhir kalau sudah berakhir di pelaminan, gue dan pasangan berdiri mengucapkan janji sehidup semati dihadapan Tuhan dan pendeta serta keluarga besar menjadi saksinya. That’s the last love! 🙂

Jadi beginilah lagunya:

‘Please Be Careful With My Heart’

If you love me, like you tell me

Please be careful with my heart

You can take it, just don’t break it

Or my world will fall apart



You are my first romance, and I’m willing to take a chance

That til life is through, I’ll still be loving you

I will be true to you, just a promise from you will do

From the very start, please be careful with my heart



I love you and you know I do

There’ll be no one else for me

Promise I’ll be always true, for the world and all to see

Love has heard some lies softly spoken

And I have had my heart badly broken

I’ve been burned and I’ve been hurt before



So I know just how you feel, trust my love is real for you

I’ll be gentle with your heart, I’ll caress it like the morning dew

I’ll be right beside you forever

I won’t let our world fall apart

From the very start, I’ll be careful with your heart



You are my first (and you are my last) romance

And I’m willing to take a chance (I’ve learned from the past)

That til life is through, I’ll still be loving you

I will be true to you

Just a promise from you will do (only to you)

From the very start (from the very start)

From the very start (from the very start)

From the very start (from the very start)

Please be careful with…(I’ll be careful with…)

(your) (my) heart….



Gue sekalian mau curhat nih, boleh kan? Boleh dong? Ini kan blog gue, suka-suka gue lah hahaha *abaikan*

Padahal sebelumnya gue udah beberapa kali ditembak sama cowok tapi gue gak mati-mati juga, gue heran kenapa nggak ada yang dapat jawaban iya. Jawaban yang gue berikan pertama: ‘cukuplah saja berteman denganku, janganlah kau meminta lebih, ku tak mungkin mencintaimu, kita berteman saja’ *nyanyi* dan kedua: antara ya/tidak alias nggak gue kasih jawaban apa-apa (itu karena gue bingung dan ragu-ragu, gue ingin menunggu beberapa waktu lagi sebelum bilang ya, melihat seberapa serius mereka, tapi di saat keraguan gue itu mereka bukannya berusaha meyakinkan gue, malah pergi. Yaudah, bye-bye…) Simpel aja! Itu tandanya emang bukan jodoh.

Bahkan sempat ada teman gue (sebut saja dia Mbak Mawar) memberikan saran yang menyesatkan “udah terima aja, lumayan kan kalo tuh cowok tajir, lu dijajanin, dibeli-beliin barang, terus kalau emang gak cocok tinggal putusin.” Gue cuma senyum aja dengerinnya, padahal dalam hati “Duh sist! Murah banget sih lu jadi cewek. Dan lagian itu perasaan orang, jangan seenak jidat lu gitu dong. Kalo kena karma baru tau rasa lu.” Sebenarnya, bisa aja sih gue ikutin sarannya Mbak Mawar, tapi… maaf gue bukan tipe perempuan seperti itu!

Jujur aja, menurut gue untuk memutuskan bilang ‘ya’ dalam memulai suatu hubungan itu gak gampang, sulit banget. Alasan gue karena: Pertama, dalam suatu hubungan pasti perlu banyak perjuangan & pengorbanan (perasaan, tenaga, waktu, materi, dsb) dan gue nggak mau asal-asalan berjuang & berkorban untuk orang yang salah. Kedua, gue nggak mau ‘terlalu sering’ menjalin hubungan yang akhirnya sia-sia, daripada begitu mendingan gue single aja 😀 Lalu alasan ketiga, sepertinya gue ada sedikit Philophobia *silahkan search sendiri di google*

Saran tambahan aja nih, untuk philophobic (kalau penyembuhan phobia harus dihadapkan dengan sumber ketakutannya, berarti cara penyembuhan philophobia ya harus punya pacar 😛 hehehe).

quote.png