Pacaran menurut Iman Kristen

Menurut saya pribadi, berpacaran adalah masa pengenalan antara dua pribadi dengan tujuan pernikahan. Tetapi pengenalan yang dimaksud di sini merupakan pengenalan karakter dan kepribadian, bukan pengenalan tubuh.

Manusia adalah makhluk sosial, dan kita saling berhubungan pada tiga tingkat: roh, jiwa dan tubuh. Dengan kata lain, kita saling berinteraksi dalam dimensi rohani, jiwani dan jasmani. Urutan ini sangat penting. Hubungan-hubungan yang sehat seharusnya selalu dimulai pada tingkat rohani dan jiwani/intelektual (keinginan, motivasi, minat, kepribadian dan visi), bukan pada tingkat jasmani (kedekatan/kontak fisik). Dimensi jasmani adalah yang paling tidak penting di antara ketiganya.

Namun faktanya, generasi sekarang memiliki cara berpacaran yang tidak sehat karena lebih menuntut hubungan fisik untuk kesenangan. Contoh seperti halnya berciuman (bibir) yang bisa “terjun bebas” alias dianggap biasa untuk ditujukan pada pasangannya dengan alasan sebagai ungkapan rasa sayang.

Jujur saja, saya miris mendengarnya. Bukankah rasa sayang bisa ditunjukan dengan cara yang lebih positif selain berciuman?

Dosa memang bisa terlihat samar-samar alias sengaja membutakan mata rohani supaya yang sebenarnya dosa dianggap bukan dosa & merasa wajar dilakukan, dengan berbagai dalih.

Berpacaran seharusnya sebagai suatu proses pengenalan dua pribadi saling mencintai yang berpegang pada kasih Kristus, saling membangun satu sama lain sehingga keduanya bisa semakin dekat dengan Tuhan. Bukannya justru malah menyeret ke jurang dosa.

Oleh karena itu, jika suatu saat pasangan saya kelewat batas alias melakukan hal-hal yang “tidak pantas” seperti itu saya akan menamparnya mengingatkannya, namun jika ia mengulanginya lagi, saya pastikan hubungan saya akan berakhir saat itu juga. Karena itu pertanda kalau dia sudah tidak respect pada saya dan tidak menyayangi saya berdasarkan kasih, tetapi hanya berdasarkan nafsu semata.

Tuhan Yesus menghendaki yang terbaik bagi kita, maka jangan menawarkan diri kita terlalu “murah” hanya demi mendapatkan orang yang kita idam-idamkan itu. Ingat, untuk bisa mendapatkan diri kita sendiri saja, Yesus rela mengorbankan diriNya untuk mati disalib. Maka dari itu, selalu jaga kekudusan dirimu.

Dan saya bersyukur pada Tuhan, saya baru mulai mengenal pacaran saat kuliah (dengan pemikiran yang lebih dewasa), sewaktu sekolah dulu saya nggak ada minat sama sekali untuk punya pacar, mungkin kalau saya sudah pacaran waktu SMP tidak menutup kemungkinan saya akan seperti itu juga karena masih minimnya pengetahuan tentang berpacaran yang baik dan pengaruh lingkungan.

“Kalau diibaratkan hubungan seperti sawah, maka cinta adalah padi dan nafsu adalah rumput liar. Nah, ketika ketika seseorang menanam padi (cinta) di sawah (hubungan) maka secara otomatis akan tumbuh juga rumput liar (nafsu). Kalau orang itu sudah mengetahui dan memahami apa itu padi (apa itu cinta), maka dia akan segera memangkas rumput liar itu (nafsu) yang tumbuh di sawahnya (hubungan). Ketika tiba masa panen, orang ini akan menuai hasil sawahnya (hubungan) yang ditanami padi (cinta) itu tadi berupa buah padi (kebahagiaan). Lain dengan orang-orang yang terkecoh yang menyangka rumput liar (nafsu) sebagai padi (cinta). Mereka akan memelihara rumput liar (nafsu) dan tanaman padinya (cinta) akan mati. Pada saat panen, tentu yang mereka dapat hanyalah sekarung rumput liar (nafsu) yang tidak berharga (kekecewaan).”

PacaranKristiani

Berikut ini adalah pacaran sesuai firman Tuhan yang sudah saya rangkum dari beberapa sumber, semoga bermanfaat 🙂 Tuhan Yesus memberkati…

 

 

PACARAN MENURUT IMAN KRISTEN

Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan  dengan hati  yang murni.

(2 Timotius 2:22)

Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih?  Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.

(Mazmur 119:9)

 

Jangan sampai terjebak pada motivasi yang salah

Sebelum menjalin sebuah hubungan ada baiknya kita melihat kembali tujuan awal ketika kita akan memulai suatu hubungan berpacaran itu apa? Karena keinginan mata saja ataukah karena kita ingin membangun suatu hubungan serius dengan komitmen? Jaman sekarang seringkali manusia mencobai dirinya sendiri dengan asal saja menjalin hubungan pacaran. Ada yang beranggapan

“Daripada jomblo, mending pacaran saja meskipun tidak serius” ada juga yang beranggapan pacaran adalah sebuah lifestyle yang wajar dilakukan meskipun tanpa komitmen yang jelas.

Sebagian wanita cenderung melihat sosok pasangan ideal berdasarkan materi atau jabatan yang dimiliki sedangkan pria seringkali tertarik kepada wanita karena penampilan fisiknya, apakah dia seksi dan good looking atau tidak. Pemikiran-pemikiran seperti ini yang justru menjebak anak-anak Tuhan sehingga mereka memberikan dirinya untuk dikuasai dosa.

Yakobus 1:14, Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena dia diseret dan dipikat olehnya.

Mereka beranggapan dosa seperti itu adalah hal wajar dan lumrah yang dilakukan oleh manusia jaman sekarang. Oleh sebab itu anak-anak Tuhan jaman sekarang mudah sekali terjebak oleh hal-hal yang seperti di atas.

Apa yang terjadi jika hubungan tidak disertai dengan komitmen yang benar?

Hubungan tanpa komitmen yang jelas menghasilkan pacaran yang tidak sehat, karena mereka tidak tahu kemana arah dari hubungan kasih yang mereka jalin. Sejak awal menjalin hubungan sudah dikuasai dosa, oleh sebab itu ketika hubungan itu berjalan bukan Tuhan yang berkuasa tapi keinginan daging mereka masing-masing.

Anak-anak Tuhan mengerti betul kalau berciuman di bibir, leher dan sebagainya dapat menimbulkan hawa nafsu yang justru akan menjebak mereka. Sehingga tidak jarang anak-anak Tuhan bisa jatuh dalam dosa seks sebelum pernikahan. Dan tidak jarang mereka menjadikan seks sebagai suatu tindakan wajar yang dilakukan oleh pasangan kekasih. Ketika dosa itu sudah tumbuh dan berkembang dalam suatu hubungan, maka kita akan merasa jauh dari Allah. Hal ini dikarenakan terdapat dosa yang belum kita bereskan dan dosa tersebut akan terus mengintimidasi sehingga membuat kita makin merasa bersalah dan merasa tidak layak menyembah Tuhan. Untuk menghindari semua ini, kita harus berpegang teguh pada Firman Tuhan dan jangan pernah sekali-kali bertoleransi terhadap dosa.

Efesus 5:17, Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.

 

Batas-batas pergaulan berpacaran

Apakah dalam masa berpacaran boleh ada keterlibatan seksual? Pertanyaan diatas merupakan hal menjadi pertanyaan banyak kaum muda masa kini. Ada tiga macam praktek yang “biasa” di kalangan kaum muda di kala mereka berpacaran, yaitu berciuman, berpelukan dan meraba-raba. Praktek berciuman dianggap oleh kaum muda sebagai suatu tindakan “yang biasa”, yang “tidak perlu diganggu gugat lagi”, yang “tidak usah dijadikan bahan cerita lagi” dsb. Benarkah itu?

Bahkan banyak para pemuda yang mengartikan bahwa hubungan seks merupakan cara untuk menunjukkan rasa sayang kita kepada orang yang kita sayangi apalagi kalau dilakukan dan dialami sebagai wujud cinta kasih, sebagai sarana cinta. Padahal hubungan seks hanya dapat dilakukan oleh orang yang telah menikah sebagai pernyataan kasih, karena hubungan seks yang dilakukan bukan karena nafsu birahi belaka, tetapi karena dorongan cinta personal.

Seorang pemuda atau pemudi yang bijaksana, lebih-lebih yang takut akan Tuhan, perlu tahu bahwa praktek bercium-ciuman itu hanya boleh dilakukan dikalangan khusus yaitu diantara mereka yang sudah menikah. Praktek berpelukan ini pun sudah dianggap “biasa”. Sambil duduk-duduk berdekatan, dua orang muda itu saling membelai dan memeluk. Mengenai kebiasaan ini, itu memang perlahan tetapi pasti akan membawa kearah kerusakan. Fakta-fakta yang menyedihkan dalam kehidupan sehari-hari membuktikan bahwa sudah teramat banyak jumlah pemuda dan pemudi yang menjadi korban kebiasaan yang keliru itu.

Kebiasaan meraba-raba adalah suatu kombinasi antara berciuman dan berpelukan. Kebiasaan ini lazim disebut dengan istilah “ bercinta system Braille”. Dan kebiasaan inipun telah menelan korban yaitu menghasilkan suatu pernikahan yang kacau atau tidak terhormat. Harapan mereka akan cita-cita yang murni dalam perkawinan telah kandas ditengah jalan.

 

Pacaran kudus, mungkin gitu?

Apa yang kita pikirin waktu denger kata ‘kekudusan’ dalam pacaran? Pasti banyak dari kita yang mikir soal batasan-batasan, segala gak boleh, ketidakbahagiaan. Aaah, bosen! Kesannya Tuhan itu Tuhan yang nggak fun, nggak suka anakNya seneng. Apalagi film-film, buku dan gaya hidup seleb sekarang yang menyamakan antara menjaga kekudusan selama pacaran dengan ketidakbahagiaan alias kekunoan dan kejadulan!

Nah, kalo kita sampe kepikir kayak gitu, terima aja deh kalo kita sebenernya udah ditipu abis-abisan ama si iblis. Si iblislah yang pengen kita gak bahagia, soalnya yang namanya kekudusan itu sebenernya indah! Bukan sebaliknya. Iblis mendorong pasangan muda buat mengekspresikan rasa cintanya secara bebas dengan dalih agar bisa bahagia dan senang. Tapi taukah kita kalo kebebasan yang ditawarkan iblis itu adalah sebuah perbudakan dosa tanpa kita sadari?

Ketika Tuhan meminta kita untuk hidup kudus, Dia sedang memikirkan kebahagiaan kita. Bukan sebaliknya! Dia itu Bapa kita kok, masa mikirin supaya kita menderita? Tapi gara-gara roh kita dikuasai sama perbudakan dosa, maka rambu-rambu dari Tuhan itu rasanya kayak rantai belenggu di penjara. Pacaran tanpa bumbu seks rasanya ngebosenin. Otak kita mikirnya seks masa pacaran itu menyenangkan, akhirnya lupa tujuan semula. Justru percayalah, ketika kita menjalani pacaran dengan kudus, maka Tuhan telah menyediakan berkat kebahagiaan pada saat kita menikah dan menjalani rumah tangga nanti!

Nah, tapi mungkin gak sih kita bisa pacaran kudus? Pacaran tanpa ada embel-embel seks? Soalnya survey membuktikan banyak banget anak Tuhan (apalagi yang bukan) yang pacarannya gak kudus. Bahkan banyak diantaranya sudah terlibat pelayanan di gereja! Tenang, biar statistiknya tinggi, jangan mau ikut-ikutan meramaikan statistik itu. Ada banyak pasangan yang bisa buktiin kalo pacaran kudus itu mungkin. Nah, buat kita-kita yang mau pacaran kudus, ini beberapa tips dari hamba-hamba Tuhan yang udah buktiin kalo pacaran kudus itu mungkin.

  1. Tau batasan diri.

Tiap orang punya ‘batas’ kekuatan sendiri-sendiri. Sampe sejauh mana mereka bisa menguasai diri. Contohnya gini, buat beberapa orang, pegangan tangan itu gak masalah. Tapi buat beberapa orang tertentu pegangan tangan aja bisa bikin mikir yang nggak-nggak. Kebanyakan orang yang pacarannya gak kudus gak nyadar kalo mereka udah melampaui ‘batas’ mereka. Ini penting banget. Kalo kita tau ‘batas’ kita dan pasangan kita, dan tetap menjaga hubungan kita dalam batas itu, kita gak akan terjebak dalam hubungan yang gak kudus.

Waktu mulai komit buat pacaran, obrolin batasan itu. Sambungkan dengan tujuan kita berpacaran. Cari kesepakatan untuk mengatasi masalah yang mungkin akan terjadi, misalnya tentuin batasan tempat pacaran, batasan mana yang boleh dan tidak boleh, dsb.

  1. Jangan ketok pintu pencobaan!

Kadang kita suka salah berdoa, ‘Tuhan, beri aku kekuatan agar aku bisa menang dalam pencobaan!’. Padahal Tuhan sendiri bilang: “Jangan masuk dalam pencobaan!’ (kalo gak percaya baca deh: Matius 6:13, Matius 26:41, Lukas 11:4). Artinya jangan sok jago masuk dalam pencobaan, soalnya 99% biasanya bukannya menang malah gagal! Jangankan masuk, ketok pintunya aja juga mending jangan deh. Termasuk dalam berpacaran. Kalo memang godaannya besar pas berduaan di tempat sepi, jangan masuk ke tempat sepi. Selalu cari tempat yang aman, ada orang ketiga. Atau ngobrol di tempat umum.

  1. Buat cowok, anggap cewek kita itu kakak/adik kandung kita.

Apa batasan perlakukan kita sama pacar kita. Sebagai cowok, kita bisa ambil patokan firman Tuhan ini:

“…Tegorlah orang-orang muda sebagai saudaramu, perempuan-perempuan tua sebagai ibu dan perempuan-perempuan muda sebagai adikmu dengan penuh kemurnian.” (1 Timotius 5:1b-2).

Sebagaimana kita memperlakukan kakak/adik perempuan kita (kalo yang gak punya, bayangkan!) begitulah seharusnya kita memperlakukan cewek kita. Penuh kemurnian! Jangan ngelaba, jangan jahat, jangan egois. Lindungi dia sebagai kakak, jagai kehormatannya, sayangi seperti adik kandung. Jadilah cowok sejati.

  1. Buat cewek, jangan segan tampar cowokmu

Beda ama cewek, kata orang, gairah seks sama otak cowok itu gak bisa berjalan bareng. Makanya kalo hasrat seksnya muncul biasanya cowok suka gak bisa mikir. Sekalipun si cowok udah tau resikonya dan bahkan sudah berjanji untuk tidak melakukannya, tapi ketika hasrat seksnya muncul, dia bisa lupa semuanya dan yang terpikir hanya… “ah biarin gimana nanti aja!”. Itulah makanya di film-film Hollywood gampang sekali seorang cewek membujuk atau mencuri sesuatu dari cowok, cukup dengan diangkat gairah seksnya. Dan itu memang kenyataan.

Makanya perlu bantuan dari cewek buat nyadarin otak si cowok biar bekerja. Kalo sudah ada tanda-tanda gak beres, ingetin dia. Kalo maksa terus, langsung tampar aja atau cubit sampe biru. Makanya bilang dari awal, kalo sampe kamu nampar, dia jangan marah.

  1. Libatkan ortu sama pembimbing rohani

Penting banget punya pembimbing rohani atau ortu yang tau apa yang kita lakuin sama pacar kita. Bukan artinya kita mesti laporan sama ortu ato pembimbing rohani kita apa aja yang kita lakuin pas pacaran. Tapi belajarlah terbuka sama mereka, apa yang jadi masalah kita, apa yang jadi pergumulan kita dalam pacaran. Dengan terbuka begitu, kita juga akan merasa lebih aman, karena ada orang yang lebih dewasa yang mengawasi kita.

y-7-eWI87_

Advertisements

3 thoughts on “Pacaran menurut Iman Kristen

  1. Ini tulisan orisinil kah? Karena kalau iya, ini mengagumkan.. Saya sering mendengar/membaca hal-hal seperti ini tapi terkadang saya lupa.. ✌️
    Membaca ini jadi kayak “ring a bell” / mengingatkan hal baik yang sempat terlupakan karena hal-hal yang mengalihkan. Terima kasih atas tulisannya 😊

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s