Pacaran menurut Iman Kristen

Menurut saya pribadi, berpacaran adalah masa pengenalan antara dua pribadi dengan tujuan pernikahan. Tetapi pengenalan yang dimaksud di sini merupakan pengenalan karakter dan kepribadian, bukan pengenalan tubuh.

Manusia adalah makhluk sosial, dan kita saling berhubungan pada tiga tingkat: roh, jiwa dan tubuh. Dengan kata lain, kita saling berinteraksi dalam dimensi rohani, jiwani dan jasmani. Urutan ini sangat penting. Hubungan-hubungan yang sehat seharusnya selalu dimulai pada tingkat rohani dan jiwani/intelektual (keinginan, motivasi, minat, kepribadian dan visi), bukan pada tingkat jasmani (kedekatan/kontak fisik). Dimensi jasmani adalah yang paling tidak penting di antara ketiganya.

Namun faktanya, generasi sekarang memiliki cara berpacaran yang tidak sehat karena lebih menuntut hubungan fisik untuk kesenangan. Contoh seperti halnya berciuman (bibir) yang bisa “terjun bebas” alias dianggap biasa untuk ditujukan pada pasangannya dengan alasan sebagai ungkapan rasa sayang.

Jujur saja, saya miris mendengarnya. Bukankah rasa sayang bisa ditunjukan dengan cara yang lebih positif selain berciuman?

Dosa memang bisa terlihat samar-samar alias sengaja membutakan mata rohani supaya yang sebenarnya dosa dianggap bukan dosa & merasa wajar dilakukan, dengan berbagai dalih.

Berpacaran seharusnya sebagai suatu proses pengenalan dua pribadi saling mencintai yang berpegang pada kasih Kristus, saling membangun satu sama lain sehingga keduanya bisa semakin dekat dengan Tuhan. Bukannya justru malah menyeret ke jurang dosa.

Oleh karena itu, jika suatu saat pasangan saya kelewat batas alias melakukan hal-hal yang “tidak pantas” seperti itu saya akan menamparnya mengingatkannya, namun jika ia mengulanginya lagi, saya pastikan hubungan saya akan berakhir saat itu juga. Karena itu pertanda kalau dia sudah tidak respect pada saya dan tidak menyayangi saya berdasarkan kasih, tetapi hanya berdasarkan nafsu semata.

Tuhan Yesus menghendaki yang terbaik bagi kita, maka jangan menawarkan diri kita terlalu “murah” hanya demi mendapatkan orang yang kita idam-idamkan itu. Ingat, untuk bisa mendapatkan diri kita sendiri saja, Yesus rela mengorbankan diriNya untuk mati disalib. Maka dari itu, selalu jaga kekudusan dirimu.

Dan saya bersyukur pada Tuhan, saya baru mulai mengenal pacaran saat kuliah (dengan pemikiran yang lebih dewasa), sewaktu sekolah dulu saya nggak ada minat sama sekali untuk punya pacar, mungkin kalau saya sudah pacaran waktu SMP tidak menutup kemungkinan saya akan seperti itu juga karena masih minimnya pengetahuan tentang berpacaran yang baik dan pengaruh lingkungan.

“Kalau diibaratkan hubungan seperti sawah, maka cinta adalah padi dan nafsu adalah rumput liar. Nah, ketika ketika seseorang menanam padi (cinta) di sawah (hubungan) maka secara otomatis akan tumbuh juga rumput liar (nafsu). Kalau orang itu sudah mengetahui dan memahami apa itu padi (apa itu cinta), maka dia akan segera memangkas rumput liar itu (nafsu) yang tumbuh di sawahnya (hubungan). Ketika tiba masa panen, orang ini akan menuai hasil sawahnya (hubungan) yang ditanami padi (cinta) itu tadi berupa buah padi (kebahagiaan). Lain dengan orang-orang yang terkecoh yang menyangka rumput liar (nafsu) sebagai padi (cinta). Mereka akan memelihara rumput liar (nafsu) dan tanaman padinya (cinta) akan mati. Pada saat panen, tentu yang mereka dapat hanyalah sekarung rumput liar (nafsu) yang tidak berharga (kekecewaan).”

PacaranKristiani

Berikut ini adalah pacaran sesuai firman Tuhan yang sudah saya rangkum dari beberapa sumber, semoga bermanfaat 🙂 Tuhan Yesus memberkati…

 

 

PACARAN MENURUT IMAN KRISTEN

Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan  dengan hati  yang murni.

(2 Timotius 2:22)

Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih?  Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.

(Mazmur 119:9)

 

Jangan sampai terjebak pada motivasi yang salah

Sebelum menjalin sebuah hubungan ada baiknya kita melihat kembali tujuan awal ketika kita akan memulai suatu hubungan berpacaran itu apa? Karena keinginan mata saja ataukah karena kita ingin membangun suatu hubungan serius dengan komitmen? Jaman sekarang seringkali manusia mencobai dirinya sendiri dengan asal saja menjalin hubungan pacaran. Ada yang beranggapan

“Daripada jomblo, mending pacaran saja meskipun tidak serius” ada juga yang beranggapan pacaran adalah sebuah lifestyle yang wajar dilakukan meskipun tanpa komitmen yang jelas.

Sebagian wanita cenderung melihat sosok pasangan ideal berdasarkan materi atau jabatan yang dimiliki sedangkan pria seringkali tertarik kepada wanita karena penampilan fisiknya, apakah dia seksi dan good looking atau tidak. Pemikiran-pemikiran seperti ini yang justru menjebak anak-anak Tuhan sehingga mereka memberikan dirinya untuk dikuasai dosa.

Yakobus 1:14, Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena dia diseret dan dipikat olehnya.

Mereka beranggapan dosa seperti itu adalah hal wajar dan lumrah yang dilakukan oleh manusia jaman sekarang. Oleh sebab itu anak-anak Tuhan jaman sekarang mudah sekali terjebak oleh hal-hal yang seperti di atas.

Apa yang terjadi jika hubungan tidak disertai dengan komitmen yang benar?

Hubungan tanpa komitmen yang jelas menghasilkan pacaran yang tidak sehat, karena mereka tidak tahu kemana arah dari hubungan kasih yang mereka jalin. Sejak awal menjalin hubungan sudah dikuasai dosa, oleh sebab itu ketika hubungan itu berjalan bukan Tuhan yang berkuasa tapi keinginan daging mereka masing-masing.

Anak-anak Tuhan mengerti betul kalau berciuman di bibir, leher dan sebagainya dapat menimbulkan hawa nafsu yang justru akan menjebak mereka. Sehingga tidak jarang anak-anak Tuhan bisa jatuh dalam dosa seks sebelum pernikahan. Dan tidak jarang mereka menjadikan seks sebagai suatu tindakan wajar yang dilakukan oleh pasangan kekasih. Ketika dosa itu sudah tumbuh dan berkembang dalam suatu hubungan, maka kita akan merasa jauh dari Allah. Hal ini dikarenakan terdapat dosa yang belum kita bereskan dan dosa tersebut akan terus mengintimidasi sehingga membuat kita makin merasa bersalah dan merasa tidak layak menyembah Tuhan. Untuk menghindari semua ini, kita harus berpegang teguh pada Firman Tuhan dan jangan pernah sekali-kali bertoleransi terhadap dosa.

Efesus 5:17, Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.

 

Batas-batas pergaulan berpacaran

Apakah dalam masa berpacaran boleh ada keterlibatan seksual? Pertanyaan diatas merupakan hal menjadi pertanyaan banyak kaum muda masa kini. Ada tiga macam praktek yang “biasa” di kalangan kaum muda di kala mereka berpacaran, yaitu berciuman, berpelukan dan meraba-raba. Praktek berciuman dianggap oleh kaum muda sebagai suatu tindakan “yang biasa”, yang “tidak perlu diganggu gugat lagi”, yang “tidak usah dijadikan bahan cerita lagi” dsb. Benarkah itu?

Bahkan banyak para pemuda yang mengartikan bahwa hubungan seks merupakan cara untuk menunjukkan rasa sayang kita kepada orang yang kita sayangi apalagi kalau dilakukan dan dialami sebagai wujud cinta kasih, sebagai sarana cinta. Padahal hubungan seks hanya dapat dilakukan oleh orang yang telah menikah sebagai pernyataan kasih, karena hubungan seks yang dilakukan bukan karena nafsu birahi belaka, tetapi karena dorongan cinta personal.

Seorang pemuda atau pemudi yang bijaksana, lebih-lebih yang takut akan Tuhan, perlu tahu bahwa praktek bercium-ciuman itu hanya boleh dilakukan dikalangan khusus yaitu diantara mereka yang sudah menikah. Praktek berpelukan ini pun sudah dianggap “biasa”. Sambil duduk-duduk berdekatan, dua orang muda itu saling membelai dan memeluk. Mengenai kebiasaan ini, itu memang perlahan tetapi pasti akan membawa kearah kerusakan. Fakta-fakta yang menyedihkan dalam kehidupan sehari-hari membuktikan bahwa sudah teramat banyak jumlah pemuda dan pemudi yang menjadi korban kebiasaan yang keliru itu.

Kebiasaan meraba-raba adalah suatu kombinasi antara berciuman dan berpelukan. Kebiasaan ini lazim disebut dengan istilah “ bercinta system Braille”. Dan kebiasaan inipun telah menelan korban yaitu menghasilkan suatu pernikahan yang kacau atau tidak terhormat. Harapan mereka akan cita-cita yang murni dalam perkawinan telah kandas ditengah jalan.

 

Pacaran kudus, mungkin gitu?

Apa yang kita pikirin waktu denger kata ‘kekudusan’ dalam pacaran? Pasti banyak dari kita yang mikir soal batasan-batasan, segala gak boleh, ketidakbahagiaan. Aaah, bosen! Kesannya Tuhan itu Tuhan yang nggak fun, nggak suka anakNya seneng. Apalagi film-film, buku dan gaya hidup seleb sekarang yang menyamakan antara menjaga kekudusan selama pacaran dengan ketidakbahagiaan alias kekunoan dan kejadulan!

Nah, kalo kita sampe kepikir kayak gitu, terima aja deh kalo kita sebenernya udah ditipu abis-abisan ama si iblis. Si iblislah yang pengen kita gak bahagia, soalnya yang namanya kekudusan itu sebenernya indah! Bukan sebaliknya. Iblis mendorong pasangan muda buat mengekspresikan rasa cintanya secara bebas dengan dalih agar bisa bahagia dan senang. Tapi taukah kita kalo kebebasan yang ditawarkan iblis itu adalah sebuah perbudakan dosa tanpa kita sadari?

Ketika Tuhan meminta kita untuk hidup kudus, Dia sedang memikirkan kebahagiaan kita. Bukan sebaliknya! Dia itu Bapa kita kok, masa mikirin supaya kita menderita? Tapi gara-gara roh kita dikuasai sama perbudakan dosa, maka rambu-rambu dari Tuhan itu rasanya kayak rantai belenggu di penjara. Pacaran tanpa bumbu seks rasanya ngebosenin. Otak kita mikirnya seks masa pacaran itu menyenangkan, akhirnya lupa tujuan semula. Justru percayalah, ketika kita menjalani pacaran dengan kudus, maka Tuhan telah menyediakan berkat kebahagiaan pada saat kita menikah dan menjalani rumah tangga nanti!

Nah, tapi mungkin gak sih kita bisa pacaran kudus? Pacaran tanpa ada embel-embel seks? Soalnya survey membuktikan banyak banget anak Tuhan (apalagi yang bukan) yang pacarannya gak kudus. Bahkan banyak diantaranya sudah terlibat pelayanan di gereja! Tenang, biar statistiknya tinggi, jangan mau ikut-ikutan meramaikan statistik itu. Ada banyak pasangan yang bisa buktiin kalo pacaran kudus itu mungkin. Nah, buat kita-kita yang mau pacaran kudus, ini beberapa tips dari hamba-hamba Tuhan yang udah buktiin kalo pacaran kudus itu mungkin.

  1. Tau batasan diri.

Tiap orang punya ‘batas’ kekuatan sendiri-sendiri. Sampe sejauh mana mereka bisa menguasai diri. Contohnya gini, buat beberapa orang, pegangan tangan itu gak masalah. Tapi buat beberapa orang tertentu pegangan tangan aja bisa bikin mikir yang nggak-nggak. Kebanyakan orang yang pacarannya gak kudus gak nyadar kalo mereka udah melampaui ‘batas’ mereka. Ini penting banget. Kalo kita tau ‘batas’ kita dan pasangan kita, dan tetap menjaga hubungan kita dalam batas itu, kita gak akan terjebak dalam hubungan yang gak kudus.

Waktu mulai komit buat pacaran, obrolin batasan itu. Sambungkan dengan tujuan kita berpacaran. Cari kesepakatan untuk mengatasi masalah yang mungkin akan terjadi, misalnya tentuin batasan tempat pacaran, batasan mana yang boleh dan tidak boleh, dsb.

  1. Jangan ketok pintu pencobaan!

Kadang kita suka salah berdoa, ‘Tuhan, beri aku kekuatan agar aku bisa menang dalam pencobaan!’. Padahal Tuhan sendiri bilang: “Jangan masuk dalam pencobaan!’ (kalo gak percaya baca deh: Matius 6:13, Matius 26:41, Lukas 11:4). Artinya jangan sok jago masuk dalam pencobaan, soalnya 99% biasanya bukannya menang malah gagal! Jangankan masuk, ketok pintunya aja juga mending jangan deh. Termasuk dalam berpacaran. Kalo memang godaannya besar pas berduaan di tempat sepi, jangan masuk ke tempat sepi. Selalu cari tempat yang aman, ada orang ketiga. Atau ngobrol di tempat umum.

  1. Buat cowok, anggap cewek kita itu kakak/adik kandung kita.

Apa batasan perlakukan kita sama pacar kita. Sebagai cowok, kita bisa ambil patokan firman Tuhan ini:

“…Tegorlah orang-orang muda sebagai saudaramu, perempuan-perempuan tua sebagai ibu dan perempuan-perempuan muda sebagai adikmu dengan penuh kemurnian.” (1 Timotius 5:1b-2).

Sebagaimana kita memperlakukan kakak/adik perempuan kita (kalo yang gak punya, bayangkan!) begitulah seharusnya kita memperlakukan cewek kita. Penuh kemurnian! Jangan ngelaba, jangan jahat, jangan egois. Lindungi dia sebagai kakak, jagai kehormatannya, sayangi seperti adik kandung. Jadilah cowok sejati.

  1. Buat cewek, jangan segan tampar cowokmu

Beda ama cewek, kata orang, gairah seks sama otak cowok itu gak bisa berjalan bareng. Makanya kalo hasrat seksnya muncul biasanya cowok suka gak bisa mikir. Sekalipun si cowok udah tau resikonya dan bahkan sudah berjanji untuk tidak melakukannya, tapi ketika hasrat seksnya muncul, dia bisa lupa semuanya dan yang terpikir hanya… “ah biarin gimana nanti aja!”. Itulah makanya di film-film Hollywood gampang sekali seorang cewek membujuk atau mencuri sesuatu dari cowok, cukup dengan diangkat gairah seksnya. Dan itu memang kenyataan.

Makanya perlu bantuan dari cewek buat nyadarin otak si cowok biar bekerja. Kalo sudah ada tanda-tanda gak beres, ingetin dia. Kalo maksa terus, langsung tampar aja atau cubit sampe biru. Makanya bilang dari awal, kalo sampe kamu nampar, dia jangan marah.

  1. Libatkan ortu sama pembimbing rohani

Penting banget punya pembimbing rohani atau ortu yang tau apa yang kita lakuin sama pacar kita. Bukan artinya kita mesti laporan sama ortu ato pembimbing rohani kita apa aja yang kita lakuin pas pacaran. Tapi belajarlah terbuka sama mereka, apa yang jadi masalah kita, apa yang jadi pergumulan kita dalam pacaran. Dengan terbuka begitu, kita juga akan merasa lebih aman, karena ada orang yang lebih dewasa yang mengawasi kita.

y-7-eWI87_

Advertisements

Kecanduan Internet: Apakah ini benar-benar ada?

CHAPTER 6

Kecanduan Internet: Apakah Ini Benar-benar Ada?

(Revisited)

 

Laura Widyanto and Mark Griffiths

Psychology Division

Nottingham Trent University

Nottingham, United Kingdom

 

Studi Perbandingan Survei Internet

Kecanduan dan Penggunaan Internet Berlebihan

Studi Psikometrik Kecanduan Internet

Kecanduan Internet, Komorbiditas, dan Hubungan dengan Perilaku Lain

Studi Kasus Kecanduan Internet

Mengapa Penggunaan Internet Berlebihan Terjadi?

Kesimpulan

 

Menurut pendapat beberapa akademisi bahwa penggunaan internet yang berlebihan dapat menimbulkan patologis dan kecanduan atau biasanya disebut “kecanduan teknologi” (misalnya, Griffiths, 1996a, 1998). Kecanduan teknologi yang operasional didefinisikan sebagai nonchemical (perilaku) kecanduan yang melibatkan interaksi manusia – mesin. Mereka juga dapat menjadi pasif (misalnya televisi) atau aktif (misalnya game komputer), dan biasanya mengandung dorongan yang mungkin berkontribusi pada kecenderungan adiktif (Griffiths, 1995). Kecanduan teknologi dapat dilihat sebagai bagian dari kecanduan perilaku (Marks, 1990) dan komponen fitur inti dari kecanduan, seperti, arti-penting, mood modifikasi, toleransi, penarikan, konflik, dan kambuh (lihat Griffiths, 1996b). Bab ini ulasan literatur empiris tentang kecanduan internet dan turunannya (misalnya, Internet Addiction Disorder, patologis penggunaan Internet, penggunaan internet berlebihan, penggunaan kompulsif internet) dan menilai sejauh mana itu ada. Istilah yang digunakan secara luas dipertukarkan namun untuk tujuan bab ini, istilah yang digunakan oleh penulis sebagai pembelajaran akan dijelaskan.

 

Young (1999a) mengklaim kecanduan internet adalah istilah yang mencakup secara luas berbagai perilaku dan masalah kontrol impuls. Dia telah mengkategorikan perilaku ini dalam lima spesifik subtipe:

  1. Kecanduan Cybersexual: Penggunaan secara kompulsif dari situs dewasa untuk cybersex dan pornografi di internet
  2. Kecanduan cyber hubungan: Keterlibatan berlebihan dalam hubungan secara online
  3. Dorongan Internet: Obsesif dengan perjudian, belanja atau perdagangan melalui online
  4. Informasi yang berlebihan: Kompulsif dalam berselancar di web atau pencarian database
  5. Kecanduan komputer: Obsesif bermain game komputer (seperti Doom, Myst, Solitaire, dll)

 

Namun, Griffiths (2000a) berpendapat bahwa banyak dari pengguna yang berlebihan bukanlah “pecandu Internet” tetapi hanya menggunakan internet berlebihan sebagai media untuk kecanduan hal lainnya. Oleh karena itu, ada kebutuhan untuk membedakan antara kecanduan dengan Internet dan kecanduan di Internet. Hal ini akan ditinjau kembali selanjutnya dalam bab ini.

Seperti yang kita lihat, sudah semakin banyak makalah akademis tentang penggunaan berlebihan dari internet. Ini secara kasar dapat dibagi menjadi lima kategori:

  • Penelitian survei yang membandingkan pengguna internet yang berlebihan dengan pengguna yang tidak berlebihan
  • Penelitian survei yang telah meneliti kelompok yang rentan terhadap penggunaan internet yang berlebihan, terutama siswa
  • Studi yang meneliti sifat psikometrik penggunaan internet yang berlebihan
  • Studi kasus dari pengguna internet yang berlebihan termasuk studi kasus pengobatan
  • Studi korelasional meneliti hubungan penggunaan internet yang berlebihan dengan perilaku lain (misalnya, masalah kejiwaan, depresi, harga diri)

 

Meskipun ada peningkatan jumlah makalah tentang topik penggunaan internet yang berlebihan, studi yang begitu beragam dan berbeda seperti kualitas metodologis bahwa jenis meta-analisis akan sulit jika tidak mustahil. Masalah utama dengan sebagian besar studi di daerah ini adalah bahwa ukuran sampel seringkali sangat kecil, dan dilakukan pada sub-populasi yang sangat spesifik (misalnya, siswa). Masalah utama adalah kurangnya definisi konsisten dan / atau ketat tentang kecanduan dan kecanduan internet, yang membuat data perbandingan hampir tidak berarti. Oleh karena itu, masing-masing daerah diuraikan akan ditinjau secara singkat sebelumnya.

 

 

STUDI PERBANDINGAN SURVEY KECANDUAN INTERNET DAN PENGGUNAAN INTERNET BERLEBIHAN

Awal studi penelitian empiris pada penggunaan internet yang berlebihan dilakukan oleh Young (1996a). Studi ini membahas pertanyaan apakah internet dapat menjadi adiktif atau tidak, dan sejauh mana masalah yang terkait dengan penyalahgunaannya. Kriteria DSM-IV patologis yang memodifikasi untuk mengembangkan kuesioner 8-item, sejak patologis dipandang untuk menjadi yang paling dekat di alam untuk penggunaan Internet patologis. Peserta yang menjawab “ya” untuk 5 atau lebih dari 8 Kriteria yang diklasifikasikan sebagai kecanduan internet (yaitu, “tanggungan”). Dari 496 orang sampel yang di seleksi sendiri menanggapi kuesioner dengan sebagian besar (n = 396) yang digolongkan sebagai “tanggungan.” Mayoritas responden juga perempuan (60%). Ditemukan bahwa tanggungan menghabiskan lebih banyak waktu online (38,5 jam seminggu) dibandingkan dengan “non tanggungan” (4,9 jam seminggu), dan sebagian besar lebih digunakan fungsi internet interaktif, seperti chat room dan forum. Tanggungan juga melaporkan bahwa penggunaan internet mereka disebabkan masalah sedang sampai masalah berat dalam keluarga mereka, sosial, dan kehidupan profesional. Young menyimpulkan bahwa (i) lebih interaktif dengan fungsi internet, semakin adiktif, dan (ii) sedangkan pengguna biasa dilaporkan beberapa efek negatif dari penggunaan internet, tanggungan melaporkan penurunan signifikan di banyak bidang kehidupan mereka, termasuk kesehatan, pekerjaan, sosial, dan keuangan.

Namun, ada banyak keterbatasan penelitian termasuk (relatif) kecil sampel dipilih sendiri. Selanjutnya, tanggungan dan non tanggungan memiliki belum diimbangi dengan cara apapun. Young juga menyatakan untuk “kegemaran penggunaan internet” untuk mengambil bagian dalam studi nya, yang akan bias hasil nya. Ada juga asumsi bahwa penggunaan internet yang berlebihan itu mirip dengan patologis dan bahwa kriteria yang digunakan untuk mengoperasionalkan penggunaan internet yang berlebihan yang dapat diandalkan dan valid.

Egger dan Rauterberg (1996) juga melakukan studi secara online dengan mengajukan pertanyaan mirip dengan yang diminta oleh Young, meskipun kategorisasi mereka kecanduan adalah murni berdasarkan apakah responden sendiri merasa mereka kecanduan. Menggunakan survei online, mereka berkumpul 450 peserta, 84% di antaranya adalah laki-laki. Kesimpulan yang mereka capai sama dengan yang dicapai oleh Young. Responden yang selfreported sebagai “pecandu” melaporkan konsekuensi negatif dari penggunaan internet, keluhan dari teman dan keluarga selama jumlah waktu yang dihabiskan online, perasaan antisipasi ketika akan online, dan merasa bersalah tentang penggunaan internet mereka. Seperti studi Young, studi Egger dan Rauterberg menderita keterbatasan metodologis yang sama. Selain itu, sebagian besar peserta adalah laki-laki dari Swiss.

Brenner (1997) merancang alat yang disebut dengan Inventory Perilaku Kecanduan Terkait-Internet (IRABI: Internet-Related Addictive Behavior Inventory), yang terdiri dari 32 dikotomis (true / false) item. Item ini dirancang untuk menilai pengalaman berbanding yang terkait dengan Penyalahgunaan Zat dalam DSM-IV. Dari 563 responden, mayoritas adalah laki-laki (73%) dan mereka menggunakan Internet untuk (rata-rata) dari 19 jam seminggu. Semua 32 item tampak untuk mengukur beberapa varian unik karena mereka semua ditemukan cukup berkorelasi dengan skor total. Pengguna yang lebih tua cenderung mengalami lebih sedikit masalah dibandingkan dengan pengguna muda, meskipun menghabiskan jumlah yang sama waktu online. Tidak ada perbedaan gender dilaporkan. Data muncul untuk menunjukkan bahwa sejumlah pengguna mengalami lebih banyak masalah dalam peran-kinerja karena penggunaan internet mereka. Brenner menyimpulkan bahwa distribusi miring konsisten dengan keberadaan menyimpang subkelompok yang mengalami masalah yang lebih parah karena penggunaan internet. Dia juga mengaku ada bukti toleransi, penarikan, dan keinginan. Keterbatasan utama studi adalah bahwa hal itu tidak jelas apakah item dalam IRABI menyadap tanda-tanda perilaku yang ditunjukkan nyata kecanduan (Griffi THS, 1998).

Dalam sebuah studi yang jauh lebih besar – Survey Ketergantungan Virtual (VAS: Virtual Addiction Survey) – Greenfield (1999) melakukan survei online dengan 17.251 responden. Sampel terutama Caucasian (82%), laki-laki (71%), dengan usia rata-rata 33 tahun. VAS termasuk item demografis (misalnya, usia, lokasi, latar belakang pendidikan), informasi deskriptif item (misalnya, frekuensi dan durasi penggunaan, spesifik penggunaan internet), dan item klinis (misalnya, rasa malu, hilangnya waktu, perilaku online). Ini juga termasuk sepuluh modifikasi item dari kriteria DSM-IV untuk patologis. Sekitar 6% responden memenuhi kriteria untuk kecanduan pola penggunaan internet. Sementara analisis post-hoc diusulkan beberapa variabel yang membuat Internet yang menarik:

  • Keintiman Intens (41% dari total sampel, 75% tanggungan)
  • Disinhibisi (43% dari total sampel, 80% tanggungan)
  • Kehilangan batas (39% dari total sampel, 83% tanggungan)
  • Ketiadaan Waktu (sebagian sampel menjawab “kadang-kadang,” sebagian besar

tanggungan menjawab “hampir selalu”)

  • Diluar kendali (8% jumlah sampel, 46% tanggungan)

Salah satu daerah tambahan diperiksa adalah apakah kecanduan internet bersama karakteristik yang sama dengan bentuk lain dari kecanduan, termasuk substansi berbasis kecanduan. Analisis awal menunjukkan banyak gejala, Greenfield melihat sebagai konsisten dengan konsep toleransi dan penarikan tanggungan, termasuk keasyikan dengan akan online (58%), banyak usaha yang gagal untuk memotong kembali (68%), dan merasa gelisah ketika mencoba untuk memotong kembali (79%). Meskipun ukuran sampel yang besar, hanya analisis yang sangat awal dilakukan. Karena itu, hasil harus ditafsirkan dengan hati-hati.

 

 

STUDI SURVEI KECANDUAN INTERNET DI KELOMPOK RENTAN

(yaitu, SISWA)

Sejumlah penelitian lain telah menyoroti bahaya menggunakan internet berlebihan untuk para siswa sebagai kelompok populasi. Populasi ini dianggap rentan dan berisiko mengingat jadwal aksesibilitas internet dan fleksibilitas mereka (Moore, 1995). Misalnya, Scherer (1997) mempelajari 531 mahasiswa di University of Texas di Austin. Dari jumlah tersebut, 381 siswa menggunakan internet setidaknya sekali seminggu dan diteliti lebih lanjut. Berdasarkan kriteria paralelisasi dependensi kimia, 49 siswa (13%) diklasifikasikan sebagai “dependent Internet” (71% laki-laki, 29% perempuan). Pengguna “Dependent” rata-rata 11 jam seminggu online bertentangan dengan rata-rata 8 jam untuk “non tanggungan.” Tanggungan tiga kali lebih mungkin untuk menggunakan aplikasi sinkron interaktif. Kelemahan utama penelitian ini tampaknya bahwa tanggungan hanya rata-rata 11 jam seminggu secara online (yaitu, lebih dari satu jam sehari). Ini hampir tidak bisa disebut berlebihan atau kecanduan (Griffiths, 1998). Morahan-Martin dan Schumacher (2000) melakukan studi online yang sama. Patologis Penggunaan Internet (PIU: Pathological Internet Use) diukur dengan kuesioner 13-item menilai masalah karena penggunaan Internet (misalnya, akademik, pekerjaan, hubungan masalah, gejala toleransi, dan penggunaan internet mengubah suasana hati). Orang-orang yang menjawab “ya” untuk 4 atau lebih item yang didefinisikan sebagai pengguna patologis internet. Para peneliti merekrut 277 sarjana pengguna internet. Dari jumlah tersebut, 8% yang digolongkan sebagai pengguna patologis. Pengguna Internet patologis lebih mungkin untuk laki-laki dan menggunakan situs teknologi canggih. Rata-rata, mereka menghabiskan 8,5 jam seminggu secara online. Itu juga menemukan bahwa pengguna patologis menggunakan internet untuk bertemu orang baru, untuk dukungan emosional, untuk bermain game interaktif, dan lebih disinhibisi sosial. Sekali lagi, rata-rata 8,5 jam seminggu secara online tidak muncul berlebihan, meskipun penulis berpendapat bahwa itu adalah indikasi dari masalah permukaan dalam periode yang relatif singkat menjadi online. Selain itu, barang-barang yang digunakan untuk mengukur ketergantungan yang mirip dengan item IRABI Brenner. Seperti studi Brenner, hasil yang mengaku akan mengukur kecanduan internet tanpa substansi keberadaannya menggunakan kriteria kecanduan yang bisa dipercaya (Griffiths, 1998).

Anderson (1999) mengumpulkan data dari campuran perguruan tinggi di Amerika Serikat dan Eropa, menghasilkan 1.302 responden (dengan perbandingan gender hampir 50-50). Rata-rata, pesertanya menggunakan internet 100 menit sehari, dan sekitar 6% dari peserta dianggap sebagai pengguna-tinggi (di atas 400 menit sehari). Kriteria DSM-IV zat-ketergantungan digunakan untuk mengklasifikasikan peserta menjadi tanggungan dan non tanggungan. Mereka mendukung lebih dari 3 dari 7 kriteria yang diklasifikasikan sebagai tergantung. Anderson melaporkan persentase yang sedikit lebih tinggi dari pengguna mahasiswa bergantung (9,8%), sebagian besar dari mereka adalah orang-orang jurusan ilmu keras. Dari 106 tanggungan, 93 adalah laki-laki. Mereka rata-rata 229 menit per hari dibandingkan dengan yang non tanggungan rata-rata 73 menit per hari. Para peserta dalam kategori tinggi-pengguna melaporkan lebih konsekuensi negatif dibandingkan dengan rendah pengguna peserta.

Kubey dkk. (2001) yang mensurvei 576 siswa di Rutgers University. Survei mereka termasuk item 43-pilihan ganda pada penggunaan Internet, kebiasaan belajar, kinerja akademik, dan kepribadian. Ketergantungan internet diukur dengan lima-titik Item Likert skala, meminta peserta berapa banyak mereka setuju atau tidak setuju dengan pernyataan berikut: “Saya pikir saya mungkin telah menjadi sedikit psikologis bergantung di Internet. “Peserta dikategorikan sebagai” dependent Internet “jika mereka memilih “setuju” atau “sangat setuju” pernyataan itu. Dari 572 tanggapan yang valid, 381 (66%) adalah perempuan dan usia berkisar antara 18 dan 45 tahun dengan berarti usia 20,25 tahun. Lima puluh tiga peserta (9,3%) yang diklasifikan sebagai Internet tergantung, dan laki-laki yang lebih umum dalam kelompok ini. Umur tidak ditemukan menjadi faktor, tetapi siswa pertama tahun (usia rata-rata tidak dilaporkan) ditemukan untuk membuat 37,7% dari kelompok tergantung. Tanggungan empat kali lebih mungkin dibandingkan nondependents melaporkan penurunan akademik karena penggunaan internet mereka, dan mereka yang signifikan “lebih kesepian” daripada siswa lainnya. Dalam hal penggunaan internet mereka, tanggungan yang juga akademis gangguan yang ditemukan menjadi sembilan kali lebih mungkin untuk menggunakan fungsi sinkron internet (MUD dan IRC / chatting program). Para penulis mengusulkan bahwa jenis aplikasi merupakan outlet penting untuk orang yang kesepian (terutama siswa yang baru saja pindah ke perguruan tinggi) karena mereka dapat tetap berhubungan dengan keluarga dan teman-teman, dan mendapati seseorang untuk chatting kapan saja. Tidak ada media lain dapat menawarkan kesempatan seperti itu.

Penelitian lain seperti yang oleh Kennedy-Souza (1998), Chou (2001), Tsai dan Lin (2003), Chin-Chung dan Sunny (2003), Nalwa dan Anand (2003), dan Kaltiala-Heino dkk. (2004) yang melakukan survei jumlah yang sangat kecil dari siswa dan remaja hanya terlalu kecil dan / atau metodologis terbatas untuk menarik kesimpulan nyata. Dari penelitian sejauh dibahas (di bagian ini dan sebelumnya satu perbandingan penelitian), jelas bahwa sebagian besar “Jenis prevalensi” Studi berbagi umum kelemahan. Kebanyakan menggunakan senang hati, peserta dipilih sendiri yang secara sukarela untuk menanggapi survei. Ini adalah kultus diffi karena itu untuk merencanakan apapun sebanding kelompok. Kebanyakan penelitian tidak menggunakan jenis kriteria kecanduan divalidasi (seperti gejala penarikan, konflik, toleransi, atau kambuh), dan mereka yang melakukan, diasumsikan bahwa penggunaan internet yang berlebihan itu mirip dengan kecanduan perilaku lainnya seperti perjudian dan / atau digunakan skor cutoff sangat rendah yang akan meningkatkan persentase orang defi ned sebagai kecanduan. Sebagai Griffi THS (2000a) mengamati, (i) instrumen yang digunakan memiliki tidak ada ukuran beratnya, (ii) pertanyaan instrumen tidak memiliki dimensi temporal, (iii) studi memiliki kecenderungan untuk melebih-lebihkan kejadian masalah, dan (iv) penelitian tidak mempertimbangkan konteks penggunaan Internet (yaitu, adalah mungkin untuk beberapa orang yang akan terlibat dalam penggunaan yang sangat berlebihan karena itu adalah bagian dari pekerjaan mereka atau mereka berada dalam hubungan online dengan seseorang geografis jauh). Hal ini mungkin perlu dicatat bahwa di samping studi langsung kecanduan internet, telah ada sejumlah studi longitudinal meneliti hubungan antara penggunaan umum Internet (termasuk penggunaan berat) dan berbagai aspek psikososial kesejahteraan (Kraut et al, 1998l, 2002;. Wästlund et al, 2001;. Jackson et al,. 2003). Namun, tidak satupun dari studi ini menunjukkan temuan yang konsisten dan tidak satupun dari Studi spesifik Cally diselidiki kecanduan internet atau berusaha untuk mengukurnya.

 

 

STUDI PSIKOMETRIK KECANDUAN INTERNET

 

TABEL I

Young (1996) Kriteria diagnostik untuk Kecanduan Internet

  1. Apakah Anda merasa asyik dengan internet (berpikir tentang aktivitas online sebelumnya atau mengantisipasi sesi secara online berikutnya)?
  2. Apakah Anda merasa perlu untuk menggunakan Internet dengan meningkatnya jumlah waktu untuk mencapai kepuasan?
  3. Apakah Anda berulang kali gagal melakukan upaya untuk mengontrol, mengurangi, atau menghentikan penggunaan internet?
  4. Apakah Anda merasa gelisah, murung, tertekan, atau pemarah ketika mencoba untuk mengurangi atau menghentikan penggunaan internet?
  5. Apakah Anda tetap online lebih lama daripada awalnya ditujukan?
  6. Apakah Anda membahayakan atau mempertaruhkan hilangnya hubungan yang signifikan, pekerjaan, pendidikan, atau kesempatan karir karena Internet?
  7. Apakah Anda berbohong kepada anggota keluarga, terapis, atau orang lain untuk menyembunyikan tingkat keterlibatan dengan Internet?
  8. Apakah Anda menggunakan Internet sebagai cara untuk melarikan diri dari masalah atau menghilangkan mood dysphoric (misalnya, perasaan tidak berdaya, rasa bersalah, kecemasan, depresi)?

 

TABEL II

Kriteria untuk Mengidentifikasi Kecanduan Internet (Beard & Wolfe, 2001)

Semua berikut (1-5) harus hadir:

  1. Apakah disibukkan dengan internet (berpikir tentang aktivitas online sebelumnya atau mengantisipasi online berikutnya)
  2. Kebutuhan untuk menggunakan Internet dengan peningkatan jumlah waktu untuk mencapai kepuasan
  3. Telah gagal membuat upaya untuk mengontrol, mengurangi, atau menghentikan penggunaan internet
  4. Apakah gelisah, murung, tertekan, atau pemarah ketika mencoba untuk mengurangi atau menghentikan penggunaan internet
  5. Apakah tinggal secara online lebih lama daripada awalnya ditujukan

Dan setidaknya salah satu dari berikut:

  1. Apakah membahayakan atau mempertaruhkan hilangnya hubungan signifikan, pekerjaan, pendidikan, atau kesempatan karir karena Internet
  2. Telah berbohong kepada anggota keluarga, terapis, atau orang lain untuk menyembunyikan tingkat keterlibatan dengan internet
  3. Menggunakan Internet sebagai cara untuk melarikan diri dari masalah atau menghilangkan mood dysphoric (misalnya, perasaan tidak berdaya, rasa bersalah, kecemasan, depresi)

 

TABEL III

Kriteria diagnostik untuk bermasalah penggunaan Internet (Shapira et al., 2003)

Keasyikan maladaptif dengan penggunaan internet, seperti yang ditunjukkan oleh setidaknya salah satu dari berikut:

  1. Keasyikan dengan penggunaan internet yang dialami sebagai tak tertahankan
  2. Penggunaan berlebihan Internet untuk periode waktu yang lebih lama dari yang direncanakan
  3. Penggunaan Internet atau keasyikan dengan penggunaannya menyebabkan klinis signifikan tidak bisa distress atau penurunan bidang sosial, pekerjaan, atau fungsi penting.
  4. Penggunaan internet yang berlebihan tidak terjadi secara eksklusif selama periode hypomania atau mania dan tidak lebih baik dicatat oleh gangguan Axis lainnya.

 

Seperti dapat dilihat dari studi awal, sejumlah berbeda kriteria diagnostik telah digunakan dalam studi kecanduan internet. Salah satu kriteria yang paling umum digunakan adalah yang digunakan oleh Young (1996a) dan kemudian oleh orang lain. Diagnostik kuesioner terdiri dari delapan item modifikasi dari kriteria DSM-IV untuk patologis (lihat Tabel I). Dia mempertahankan skor cutoff dari lima, menurut sejumlah kriteria yang digunakan untuk mendiagnosis patologis, meskipun yang terakhir memiliki dua kriteria tambahan. Bahkan dengan skor cutoff lebih ketat, itu menemukan bahwa hampir 80% dari responden dalam penelitian itu adalah diklasifikan sebagai tanggungan.

Beard and Wolf (2001) berusaha untuk memodifikasi kriteria Young, berdasarkan keprihatinan dengan objektivitas dan ketergantungan pada laporan diri. Beberapa kriteria dapat dengan mudah dilaporkan atau ditolak oleh peserta, dan penilaian mereka mungkin terganggu, sehingga mempengaruhi akurasi diagnosis. Kedua, beberapa item yang dirasa menjadi terlalu samar dan beberapa terminologi perlu diklarifikasi (misalnya, apa yang dimaksud dengan “keasyikan”?). Ketiga, mereka mempertanyakan apakah atau tidak kriteria patologis yang paling akurat untuk digunakan sebagai dasar untuk mengidentifikasi kecanduan Internet. Beard dan Wolf karena itu diusulkan kriteria dimodifikasi (lihat Tabel II). Direkomendasikan bahwa semua lima kriteria pertama diperlukan untuk diagnosis, karena mereka bisa bertemu tanpa penurunan fungsi sehari-hari seseorang. Selanjutnya, setidaknya salah satu dari tiga kriteria terakhir harus diperlukan untuk diagnosis, karena kriteria ini mempengaruhi kemampuan seseorang untuk mengatasi dan fungsi.

Upaya lain untuk merumuskan seperangkat kriteria diagnostik untuk kecanduan Internet dibuat oleh Pratarelli dkk. (1999). Analisis faktor dipekerjakan di penelitian ini untuk meneliti kemungkinan konstruksi yang mendasari kecanduan komputer / internet. Survei ada 341 orang dengan 163 laki-laki dan 178 peserta perempuan (rata-rata usia 22,8 tahun) direkrut dari Oklahoma State University. Kuesioner yang terdiri dari 93 item, 19 di antaranya adalah kategoris demografi dan pertanyaan penggunaan Internet, dan 74 item dikotomis. Empat faktor yang diekstrak dari 93 item, dua pokok dan dua faktor minor.

  • Faktor 1 difokuskan pada perilaku bermasalah berat yang berkaitan dengan komputer pada pengguna internet. Faktor ini ditandai dengan laporan dari kesepian, isolasi sosial, janji yang hilang, dan konsekuensi negatif umum lainnya dari penggunaan internet mereka.
  • Faktor 2 difokuskan pada penggunaan dan kegunaan teknologi komputer umum dan internet khusus.
  • Faktor 3 difokuskan pada dua konstruksi yang berbeda yang bersangkutan penggunaan Internet untuk kepuasan seksual dan rasa malu / introversi.
  • Faktor 4 difokuskan pada kurangnya masalah yang berkaitan dengan penggunaan Internet ditambah dengan keengganan ringan / tidak tertarik pada teknologi.

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini mendukung gagasan bahwa campuran obsesif seperti karakteristik hadir di beberapa individu dalam hal internet mereka menggunakan dan bahwa mereka lebih suka interaksi online daripada tatap muka. Meskipun penelitian ini menggunakan instrumen yang lebih statistik diuji dalam mengukur kecanduan internet, beberapa faktor diekstrak (Faktor 2 dan 4) tampaknya tidak menunjukkan komponen kecanduan pada umumnya.

Baru-baru ini, Shapira dkk. (2003) mengusulkan revisi pengklasifikasian dan kriteria diagnostik untuk permasalahan penggunaan internet. Selanjutnya, Black et al. (1999) menunjukkan bahwa Addiction Disorder Internet (IAD) tampaknya memiliki komorbiditas tinggi dengan gangguan kejiwaan lainnya. Karena itu, kriteria harus unik agar untuk mengevaluasi validitas penyalahgunaan internet sebagai gangguan yang berbeda. Shapira dkk. membahas konsep Glasser (1976) bekerja pada “kecanduan positif.” Namun, Konsep telah dipertanyakan, karena kriteria untuk kecanduan positif tidak menyerupai banyak komponen dari kecanduan lebih mapan, seperti toleransi dan penarikan (Griffiths, 1996b). Selain itu, dalam hal ketergantungan internet, konsekuensi negatif telah dilaporkan bersama dengan jumlah waktu online yang dihabiskan.

Ketergantungan internet telah paling sering dikonseptualisasikan sebagai perilaku kecanduan, yang beroperasi pada prinsip modifikasi model kecanduan klasik, tetapi validitas dan kegunaan klinis klaim tersebut juga telah mempertanyakan (Holden, 2001). Penelitian lain juga telah mendukung konsep bahwa bermasalah Penggunaan internet mungkin terkait dengan fitur gangguan kontrol impuls DSM-IV (Shapira et al, 2000;.. Treuer et al, 2001).

Namun, peneliti lain telah mempertanyakan keberadaan PIU dan IAD. Mitchell (2000) tidak percaya itu layak diagnosis terpisah karena masih jelas apakah itu berkembang dengan sendirinya atau jika dipicu oleh mendasari, penyakit jiwa komorbiditas. Hal ini telah menjadi hampir mustahil untuk membuat perbedaan yang mengembangkan pertama, terutama mengingat bagaimana terintegrasi Internet telah menjadi ke dalam kehidupan manusia. Karena itu sulit untuk membangun pola perkembangan yang jelas. Selain itu, pola perilaku individu dengan bermasalah penggunaan internet yang bervariasi dan sulit untuk mengidentifikasi. Satu-satunya kesepakatan umum tampaknya bahwa hal itu dapat dikaitkan dengan konsekuensi materi dan psikologis. Shapira et al. (2003) menyarankan penelitian masa depan harus menggambarkan masalah. Sebagai contoh, beberapa individu mungkin memiliki masalah selama episode manik saja, beberapa karena dari demografi memilih internet sebagai media untuk berbelanja atau untuk berjudi. Setelah faktor-faktor ini menarik keluar, individu-individu yang meninggalkan dapat dinilai dari kecanduan dan impulsif murni dalam hal penggunaan internet mereka.

Berdasarkan saat ini (belum terbatas) bukti empiris, Shapira dkk. (2003) diusulkan bahwa penggunaan internet bermasalah dikonseptualisasikan sebagai kontrol impuls kekacauan. Mereka mengakui bahwa meskipun kategori sudah merupakan salah satu yang heterogen, dari waktu ke waktu, sindrom spesifik telah diindikasikan sebagai klinis berguna. Oleh karena itu, di gaya kriteria gangguan kontrol impuls DSM IV-TR, serta di samping diusulkan gangguan kontrol impuls dari kompulsif membeli, Shapira dkk. Diusulkan kriteria diagnostik yang luas untuk penggunaan Internet bermasalah (lihat Tabel III).

Tiga sketsa klinis singkat kemudian dijelaskan untuk menggambarkan penggunaan kriteria yang diusulkan dan kompleksitas membedakan ini “gangguan.” Semua peserta adalah mahasiswa yang pengguna berat (45 jam sebulan di setidaknya dua bulan, dengan rata-rata siswa menggunakan internet selama 15 jam sebulan sebagai dilacak oleh Florida Utara East Regional Data Centre). Dari tiga sketsa dijelaskan, dua didiagnosis sebagai pengguna masalah berdasarkan kriteria yang diusulkan.

Demikian pula, Rotunda dkk. (2003) digunakan instrumen mereka hanya disebut Survey Penggunaan Internet. Isinya tiga komponen formal yang dieksplorasi (a) Data demografi dan penggunaan internet, (b) konsekuensi negatif dan pengalaman terkait dengan penggunaan internet, dan (c) sejarah pribadi dan psikologis karakteristik peserta. Komponen (b) dan (c) termasuk beberapa item dari Kriteria DSM-IV untuk patologis, penggunaan narkoba ketergantungan, dan gangguan kepribadian tertentu (misalnya, skizoid). Sampel mereka terdiri dari 393 siswa, 53,6% perempuan (n = 210) dan 46,4% laki-laki (n = 182). Rentang usia adalah antara 18 dan 81 tahun, dengan rata-rata 27,6 tahun. Penggunaan rata-rata adalah 3,3 jam hari dengan satu jam untuk penggunaan pribadi (waktu lain di Internet yang dihabiskan untuk tujuan terkait dengan pekerjaan). Penggunaan yang paling umum adalah e-mail, surfi ng web untuk informasi dan berita, dan chat room. Konsekuensi negatif termasuk 18% peserta melaporkan keasyikan dengan internet, 25% kadang-kadang merasa bersemangat atau euforia saat online, 34% mengaku akan online untuk melarikan diri lainnya masalah untuk beberapa derajat, dan 22,6% dilaporkan bersosialisasi secara online lebih dari pada orang. Tinggal online lama dari yang direncanakan dan kehilangan jejak waktu juga ditemukan menjadi laporan umum.

Analisis faktor mengungkapkan empat faktor utama. Yang pertama diberi label “penyerapan” (yaitu, lebih-keterlibatan dengan internet, kegagalan manajemen waktu), kedua “Konsekuensi negatif” (yaitu, distress atau perilaku bermasalah seperti memilih untuk online daripada menghabiskan waktu dengan keluarga), yang ketiga “tidur” yaitu gangguan pola tidur (seperti penjadwalan tidur sekitar waktu online), dan akhirnya “penipuan” (yaitu, berbohong kepada orang lain online tentang identitas, atau jumlah waktu yang dihabiskan online). Penurunan terkait internet dikonseptualisasikan berdasarkan penyerapan pengguna dan konsekuensi negatif bukannya frekuensi penggunaan. Para penulis menyimpulkan dengan menyatakan bahwa untuk mengasumsikan sering penggunaan internet berlebihan, patologis, atau adiktif itu berpotensi menyesatkan karena mengabaikan kontekstual dan faktor disposisional terkait dengan perilaku ini.

 

 

KECANDUAN INTERNET, KOMORDIBITAS, DAN HUBUNGAN DENGAN PERILAKU LAIN

Studi sebelumnya telah menemukan bahwa penggunaan internet bermasalah terjadi dengan gangguan kejiwaan lainnya (Black et al, 1999;.. Shapira et al, 2000). Menurut Griffiths (2000a) bahwa dalam sebagian besar kasus, Internet tampaknya bertindak sebagai media untuk perilaku yang berlebihan lainnya, dan internet sebagian besar digunakan hanya untuk melaksanakan perilaku ini. Dengan kata lain, internet bertindak sebagai media dan bukan faktor kausal (Shaffer et al., 2000). Beberapa faktor yang telah ditemukan terkait dengan IAD adalah ciri-ciri kepribadian, harga diri, dan gangguan kejiwaan lainnya.

Young dan Rodgers (1998) meneliti ciri-ciri kepribadian individu yang dianggap tergantung pada internet menggunakan Sixteen Personality Factor Inventory (16 PF). Pengguna tergantung ditemukan untuk peringkat tinggi dalam hal kemandirian (yaitu, mereka tidak merasakan rasa keterasingan lain merasa saat duduk saja, mungkin karena fungsi interaktif dari Internet), emosional sensitivitas dan reaktivitas (yaitu, mereka tertarik untuk stimulasi mental melalui tak berujung database dan informasi yang tersedia secara online), kewaspadaan, keterbukaan diri yang rendah, dan nonkonformis karakteristik. Temuan-temuan dari studi ini tampaknya menunjukkan bahwa spesifikasi ciri-ciri kepribadian dapat mempengaruhi individu untuk mengembangkan PIU. Temuan serupa yang diperoleh Xuanhui dan Gonggu (2001), meneliti hubungan antara kecanduan internet dan 16 PF.

Armstrong et al. (2000) menyelidiki sejauh mana mencari sensasi dan rendah diri diprediksi penggunaan internet yang lebih berat, menggunakan Masalah Internet Terkait Skala (IRPS: Internet Related Problem Scale). IRPS adalah skala 20-item, faktor-faktor seperti toleransi meliputi, keinginan, dan dampak negatif dari penggunaan internet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa harga diri adalah prediktor yang lebih baik dari “Kecanduan Internet” dibandingkan dengan impulsif. Individu dengan harga diri yang rendah tampaknya menghabiskan lebih banyak waktu online, dan memiliki skor lebih tinggi pada yang IRPS. Meskipun studi ini menghasilkan beberapa hasil yang menarik, itu harus ditafsirkan dengan hati-hati karena jumlah kecil peserta (n = 50). Bahkan, Armstrong et al. menyatakan bahwa 20 item ditunjukkan sembilan gejala yang berbeda tanpa bukti statistik. Akan menarik untuk menyelidiki apakah item benar-benar mengukur gejala yang mereka mengaku. Penelitian lain telah melihat hubungan antara kecanduan internet dan harga diri dan menemukan sejenis Temuan (misalnya Widyanto & McMurran, 2004), tapi sekali lagi ukuran sampel yang sangat rendah membuat sulit untuk menggeneralisasi temuan.

Lavin dkk. (1999) juga menguji mencari sensasi dari kemandirian internet pada mahasiswa dari total peserta 342, 43 peserta didefinisikan sebagai ”ketergantungan” dan ”299” tidak tergantung”. Ketergantungan memiliki skor lebih rendah pada Sensation Seeking Skala, yang bertentangan hipotesis mereka. Para penulis menjelaskan dengan mencantumkan ketergantungan cenderung bersosialisasi dalam penggunaan internet mereka tetapi tidak ke titik dari mencari sensasi, karena berbeda dari konsep tradisional. Tradisional bentuk sensasi mencari melibatkan kegiatan fisik, seperti terjun payung dan kegiatan sensasi lainnya, sedangkan pengguna internet kurang fisik di sensasi pencarian mereka. Hal ini dimungkinkan bahwa Sensation Seeking Skala lebih menyentuh pada sensasi fisik daripada sensasi nonfisik.

Petrie dan Gunn (1998) meneliti hubungan antara kecanduan internet, seks, usia, depresi dan introversi. Satu pertanyaan kunci adalah apakah peserta mendefinisikan diri mereka sebagai “pecandu” Internet atau tidak. Dari 445 peserta (kira-kira sama perpecahan gender), hampir setengah (46%) menyatakan bahwa mereka “kecanduan” ke Internet. Kelompok ini adalah ketergantungan/pecandu (SDA: Self-Defined Addicts) kelompok. Tidak ada perbedaan jenis kelamin atau usia ditemukan antara SDA dan Non-SDA. Pada SDA juga ditemukan memiliki tingkat depresi yang lebih tinggi dan mereka lebih cenderung introvert. Masalah utama dengan studi ini adalah fakta bahwa kecanduan adalah definisi diri dan tidak dinilai secara resmi.

Shapira dkk. (2000) yang digunakan evaluasi psikiatri tatap muka untuk mengidentifikasi karakteristik perilaku, keluarga sejarah psikiatri, dan komorbiditas individu dengan penggunaan Internet bermasalah. Sampel penelitian terdiri dari 20 peserta (11 pria dan 9 wanita), dengan usia rata-rata 36 tahun. Masalah terkait dengan penggunaan internet yang gangguan sosial signifikan (di 19 peserta), ditandai kesusahan pribadi atas perilaku mereka (di 12 peserta), masalah pekerjaan (di 8 peserta), gangguan keuangan (di 8 peserta), dan masalah hukum (dalam 2 peserta). Ditemukan bahwa setiap peserta penggunaan internet bermasalah memenuhi kriteria DSM-IV untuk Disorder Impulse Kontrol, sementara penggunaan Internet hanya tiga peserta untuk kriteria DSM-IV Obsesif Kompulsif Disorder. Keterbatasan penelitian ini meliputi ukuran sampel yang kecil, wawancara yang dilaporkan sendiri, kemungkinan adanya eksperimen ini bias, kurangnya kelompok kontrol, dan kemungkinan melebih-lebihkan gangguan kejiwaan tertentu, terutama gangguan bipolar.

Baru-baru ini, Mathy dan Cooper (2003) mengukur durasi dan frekuensi penggunaan internet di seluruh lima domain, yaitu; perawatan kesehatan mental masa lalu, perawatan saat ini kesehatan mental, niat bunuh diri, serta masa lalu dan kesulitan perilaku saat ini. Ditemukan bahwa frekuensi penggunaan internet terkait dengan masa lalu perawatan kesehatan mental dan niat bunuh diri. Peserta yang mengakui mereka menghabiskan jumlah signifikan lebih besar dari jam seminggu secara online. Durasi penggunaan internet terkait dengan kesulitan perilaku masa lalu dan saat ini. Peserta yang mengaku masalah perilaku masa lalu dan saat ini dengan alkohol, narkoba, perjudian, makanan, atau seks juga melaporkan menjadi pengguna internet yang relatif baru.

Hitam dkk. (1999) berusaha untuk memeriksa demografis, klinis, dan komorbiditas psikiatrik pada individu melaporkan penggunaan komputer kompulsif (n = 21). Mereka melaporkan menghabiskan antara 7 dan 60 jam seminggu pada yang tidak penting penggunaan komputer (rata-rata = 27 jam seminggu). Hampir 50% dari peserta bertemu dengan kriteria untuk gangguan saat ini. Mungkin itu karena sifat sensitif dari studi khusus ini bahwa jumlah peserta yang sangat kecil. Namun, hati-hati disarankan ketika menafsirkan hasil. Lain penelitian telah mendalilkan hubungan antara kecanduan internet, rasa malu (Chak & Leung, 2004), dan attention deficit hyperactivity (Yoo et al., 2004).

Singkatnya, dan berdasarkan studi yang diuraikan di sini, bahwa ada berbagai ciri kepribadian spesifik, perilaku komorbiditas, dan karakteristik psikologis lainnya yang dapat mempengaruhi individu untuk mengembangkan beberapa jenis gangguan penggunaan internet yang berlebihan. Namun, mengingat bahwa semua studi ini adalah cross-sectional, tidak ada cara untuk mengetahui apakah faktor-faktor ini didahului penggunaan berlebihan atau sebagai konsekuensi dari itu. Oleh karena itu, penelitian yang lebih memanjang diperlukan untuk memeriksa ini hubungan lebih lengkap. Selain itu, seperti dengan banyak studi di daerah ini, banyak penelitian ini secara metodologis terbatas dan berdasarkan ukuran sampel yang relatif kecil. Oleh karena itu, studi replikasi menggunakan kohort jauh lebih besar diperlukan.

 

 

STUDI KASUS KECANDUAN INTERNET

Griffiths (2000a, b) disebutkan pentingnya studi kasus dalam studi kecanduan internet. Penelitian Griffiths sendiri di kecanduan internet telah berusaha untuk mengatasi tiga pertanyaan utama:

(1) Apa itu kecanduan?

(2) Apakah kecanduan internet ada?

(3) Jika ada, orang kecanduan dengan apa?

Dia mengadopsi definisi operasional perilaku adiktif sebagai perilaku (termasuk penggunaan internet) yang termasuk enam komponen inti dari kecanduan, yaitu, arti-penting, mood modifi kasi, toleransi, gejala penarikan, konflik, dan kambuh. Menggunakan kriteria ini, Griffiths menegaskan bahwa kecanduan internet ada hanya persentase yang sangat kecil pengguna, dan sebagian besar individu-individu yang menggunakan Internet berlebihan hanya menggunakan internet sebagai media melalui mana mereka dapat terlibat dalam perilaku yang dipilih. Ia juga mengklaim bahwa Young (1999a) klasifikasi kecanduan internet tidak benar-benar jenis kecanduan internet karena mayoritas perilaku melibatkan penggunaan media Internet untuk kecanduan hal non-internet lainnya. Kesimpulannya, Griffiths menyatakan bahwa sebagian besar penelitian hingga saat ini gagal menunjukkan bahwa kecanduan internet ada di luar kecil minoritas pengguna. Karena itu ia menyarankan bahwa studi kasus mungkin membantu dalam menunjukkan apakah kecanduan internet ada, bahkan jika ini tidak representatif.

Griffiths (2000b) diuraikan lima studi kasus dari pengguna yang berlebihan yang dikumpulkan atas waktu enam bulan. Griffiths menyimpulkan bahwa dari 5 studi kasus dibahas, hanya dua yang “kecanduan” sesuai dengan kriteria komponen. Pendeknya, dua studi kasus ini (“Gary” dan “Jamie,” kedua laki-laki remaja) menunjukkan bahwa internet adalah hal yang paling penting dalam hidup mereka, bahwa mereka diabaikan segala sesuatu yang lain dalam hidup mereka untuk terlibat dalam perilaku, dan bahwa hal itu dikompromikan sebagian besar wilayah hidup mereka. Mereka juga membangun toleransi dari waktu ke waktu, mengalami penarikan gejala jika mereka tidak mampu untuk terlibat dalam menggunakan Internet, dan menunjukkan tanda-tanda kambuh setelah menyerah perilaku untuk periode singkat.

Dalam kasus lain penggunaan internet yang sangat berlebihan, Griffiths mengklaim bahwa peserta telah menggunakan internet sebagai cara untuk mengatasi, dan melawan kekurangan lainnya (misalnya, kurangnya dukungan sosial dalam kehidupan nyata, rendah diri, cacat fisik). Griffiths juga mengamati bahwa itu menarik untuk dicatat bahwa semua peserta tampaknya menggunakan Internet terutama untuk kontak sosial dan ia menduga bahwa itu karena internet bisa menjadi, realitas berbasis teks alternatif di mana pengguna dapat membenamkan diri dengan mengambil persona lain sosial dan identitas untuk membuat mereka merasa lebih baik tentang diri mereka sendiri, yang dengan sendirinya akan sangat bermanfaat psikologis (Griffiths, 2000b).

Young (1996b) menyoroti kasus seorang ibu rumah tangga 43 tahun yang tampaknya kecanduan internet. Kasus ini khusus dipilih karena itu bertentangan dengan stereotip muda, user online pria cerdas-komputer sebagai pecandu internet. Wanita itu tidak berorientasi teknologi, telah melaporkan kehidupan rumah puas, dan tidak punya masalah kejiwaan sebelumnya atau kecanduan. Karena sifat berbasis menu dan user-friendly dari browser web yang disediakan oleh penyedia layanan, dia bisa menavigasi internet dengan mudah meskipun mengacu pada dirinya sendiri sebagai “komputer-fobia dan buta huruf.” Dia awalnya menghabiskan beberapa jam seminggu di berbagai chat room tapi dalam waktu tiga bulan, dia melaporkan kebutuhan untuk meningkatkan nya waktu online untuk sampai dengan 60 jam seminggu. Dia akan berencana untuk pergi online untuk dua jam, tetapi sering tinggal secara online lebih lama dari dia dimaksudkan, mencapai hingga 14 jam sesi. Dia mulai menarik diri dari offline nya keterlibatan sosial, berhenti melakukan pekerjaan rumah tangga untuk menghabiskan lebih banyak waktu online, dan dilaporkan merasa depresi, cemas, dan mudah tersinggung ketika dia tidak online. Dia membantah bahwa perilaku tidak normal dan dia tidak melihatnya sebagai masalah. Terlepas dari protes suaminya tentang biaya keuangan dan putrinya keluhan bahwa ia mengabaikan mereka, ia menolak untuk berobat dan memiliki tidak ada keinginan untuk mengurangi waktu online-nya. Dalam waktu satu tahun untuk mendapatkan komputer, dia terasing dari dua putri dan dipisahkan dari suaminya. Sebuah wawancara berlangsung enam bulan kemudian dan dia mengakui bahwa kehilangan keluarganya mengakibatkan dia berhasil menebang waktu online nya tanpa terapi intervensi.

Namun, Young menyatakan bahwa dia tidak bisa menghilangkan penggunaan online-nya benar, atau membangun kembali hubungan dengan keluarganya tanpa intervensi. Saya juga menyarankan bahwa hal ini menunjukkan bahwa faktor risiko tertentu, yaitu, jenis fungsi yang digunakan dan tingkat kegembiraan yang dialami ketika sedang online, mungkin dikaitkan dengan perkembangan penggunaan Internet adiktif.

Black dkk. (1999) juga diuraikan dua studi kasus. Yang pertama adalah dari pria 47 tahun yang dilaporkan menghabiskan 12 sampai 18 jam sehari online. Dia memiliki tiga komputer pribadi dan ia memiliki hutang dari pembelian perlengkapan terkait. Ia mengakui untuk mengembangkan beberapa hubungan romantis online, meskipun sudah menikah dan mempunyai tiga anak. Dia telah ditangkap beberapa kali untuk hacking komputer, ia menghabiskan sedikit waktu dengan keluarganya, dan dilaporkan merasa tidak berdaya atas penggunaannya itu.

Kasus kedua adalah seorang pria bercerai 42 tahun yang mengaku ingin menghabiskan semua harinya online. Dia mengaku menghabiskan 30 jam seminggu secara online, yang sebagian besar ia menghabiskan di chat room untuk membuat perteman baru dan bertemu dengan mitra potensial. Dia berkencan dengan beberapa wanita yang ia temui online, dan ia tidak berusaha untuk berhenti, meskipun ada keluhan orangtuanya tentang “kecanduan”nya. Sementara ini mungkin berlebihan, dan ada konsekuensi negatif maladaptif dalam kasus pertama, mereka tidak tampak kecanduan, tetapi menggunakan Internet berlebihan untuk tujuan fungsional (misalnya, untuk terlibat dalam hubungan online) dan tidak menampilkan beberapa kecanduan inti kriteria, seperti suasana hati modifikasi, idamam, dan gejala penarikan.

Lebih menarik, Leon dan Rotunda (2000) melaporkan dua kasus studi yang kontras dari individu yang menggunakan Internet selama delapan jam atau lebih sehari. Kedua adalah mahasiswa dan tidak mencari pengobatan. Yang pertama adalah kasus Neil, pria kulit putih 27 tahun yang digambarkan sebagai keluar dari bersosialisasi dengan teman-teman kuliahnya. Ia menemukan sebuah game komputer online yang disebut Red Alert selama tahun ketiga kuliah. Permainan mulai menggantikan kegiatan sosialnya dan dia mengubah pola tidur sehingga ia bisa bermain secara online dengan lainnya “baik pemain”. Dia juga melaporkan tidak hadir semua kecuali dua dari kelas dan menghabiskan sampai 50 jam seminggu secara online. Teman melaporkan bahwa kepribadiannya berubah. Ia menjadi pemarah dan terlalu sensitif, terutama ketika datang ke waktu ia menghabiskan online. Akhirnya, ia menghentikan semua kegiatan sosialnya; ia melewatkan kelas, nilai-nilainya memburuk, ia tidur sepanjang hari dan bermain sepanjang malam. Dia tidak pergi keluar untuk membeli makanan dan ia menggunakan uangnya untuk membeli modem yang lebih cepat. Kecepatan koneksi adalah sangat penting baginya, dan ia akan menjadi kesal dan marah jika permainan server offline. Karena waktu yang berlebihan online-nya, ia juga jadi diusir dari apartemennya dan ia terus-menerus berbohong tentang keterlibatannya dengan internet. Semua ini terjadi dalam waktu satu tahun dari Neil menemukan game online.

Kasus kedua adalah dari Wu Quon, laki-laki usia 25 tahun mahasiswa dari Asia yang memiliki sangat sedikit teman di sini di Amerika Utara. Dia menyatakan bahwa itu karena perbedaan budaya, dan kurangnya siswa Asia lainnya di perguruan tinggi. Dia membeli komputer pribadi, dan dia menggunakan internet untuk melakukan kontak dengan orang di seluruh dunia, membaca berita tentang negara asalnya, dan mendengarkan radio siaran dari Asia. Dia juga menggunakan Internet Relay Chat (IRC) untuk tetap berhubungan dengan teman-teman dan keluarga di Cina. Dia menyatakan bahwa Internet merupakan hidupnya di luar studi dan waktu kuliah, menghabiskan delapan jam sehari online. Dia mengatakan yang mampu menghubungi keluarga dan teman-teman setiap hari lega menghilangkan depresi dan kerinduan. Ia mengaku bahwa ia tidak kecanduan internet itu hanya menjadi bagian penting dari kehidupan dan rutinitasnya. Dia mengaku merasa tidak nyaman ketika ia offline tapi ia mengatakan bahwa itu karena merasa terputus dan keluar dari sentuhan dengan apa yang terjadi di rumah. Secara keseluruhan, ia menilai pengalaman di Internet sebagai positif.

Leon dan Rotunda menyimpulkan bahwa hanya Neil tampaknya tergantung pada Internet sejak kehidupan pribadi dan pekerjaan nya bermasalah karena waktu ia menghabiskan online. Selain itu, ia berpendapat bahwa Neil memenuhi kriteria untuk skizoid Personality Disorder dan Circadian Rhythm Disorder. Kedua hal ini adalah hasil dari penggunaan internetnya. Sebaliknya, penggunaan Internet Wu Quon bisa dilihat sebagai obat untuk nya kerinduan. Waktu online-nya tampaknya membuat dia bahagia individu dan fungsional, meskipun bisa juga dilihat sebagai mekanisme yang menyebabkan dia isolasi lebih lanjut. Singkatnya, untuk mengarahkan pembaca, Leon dan Rotunda berpendapat bahwa untuk mengasumsikan bahwa sering menggunakan internet berlebihan, patologis, atau adiktif adalah sederhana dan diabaikan faktor kontekstual dan disposisional dikaitkan dengan perilaku.

Griffiths (2000a) akan berpendapat bahwa Neil adalah seorang pecandu permainan komputer dan tidak pecandu internet, karena Internet jelas digunakan untuk bahan perilaku game nya. Namun, game semakin bergerak secara online dan sifat mendalam dari Internet dapat memfasilitasi bermain berlebihan, yang menyebabkan peningkatan kecanduan di beberapa pemain. Akhirnya, itu adalah layak disebut bahwa ada laporan studi kasus lain yang tidak biasa penggunaan internet dalam literatur (misalnya, Catalano et al., 1999) tetapi jelas dari membaca ini bahwa mereka memiliki sedikit untuk melakukan dengan penggunaan internet yang berlebihan dan / atau kecanduan internet. Indikator lain tidak langsung yang kecanduan internet mungkin ada dari studi kasus perspektif berasal dari beberapa laporan dari pengobatannya. Sebagian besar telah menggunakan terapi pendekatan kognitif-perilaku untuk mengobati IAD, meskipun account tersebut biasanya mengandung beberapa unsur yang masuk akal (misalnya, Orzack dan Orzack, 1999; Young, 1999a, 1999b; Hall & Parsons, 2001; Yu & Zhao, 2004). Tidak ada pengobatan ini account menunjukkan bahwa orang yang diobati adalah pecandu nitely defi, meskipun semua orang dalam perawatan pasti merasa mereka punya masalah dengan penggunaan internet yang berlebihan mereka.

Young dkk. (1999) juga melakukan survei di antara terapis yang memperlakukan klien yang menderita gangguan-maya terkait. Sampel terdiri dari 23 perempuan dan 12 terapis laki-laki, dengan rata-rata 14 tahun pengalaman praktek klinis. Mereka melaporkan beban kasus rata-rata sembilan klien bahwa mereka akan mengklasifikasikan sebagai pecandu Internet dirawat dalam satu tahun terakhir, dengan kisaran 2 sampai 50 pasien. Para pasien lebih mungkin untuk mengeluh tentang langsung menggunakan Internet kompulsif (CIU), bersama dengan konsekuensinya negatif dan kecanduan sebelumnya, bukan penyakit jiwa. Hampir semua terapis (95%) merasa bahwa masalah CIU lebih luas dari jumlah kasus yang ditunjukkan. Dengan memeriksa bukti studi kasus secara keseluruhan, itu tidak muncul bahwa beberapa individu tampaknya kecanduan internet dan menggunakan internet berlebihan. Di kasus yang diuraikan sebelumnya, penggunaan yang berlebihan hampir selalu menyebabkan semacam maladaptif tingkah laku.

Namun, perilaku maladaptif sendiri tidak tentu menunjukkan kecanduan, meskipun beberapa kasus yang digariskan oleh Young dan Griffiths tampil untuk menunjukkan individu menampilkan semua tanda-tanda yang sama dan gejala yang ditemukan di kecanduan yang lebih tradisional lainnya. Jelas, ada kebutuhan untuk lebih studi kasus dari yang sudah diterbitkan, terutama dalam pengaturan klinis yang dapat memberikan wawasan dalam bagaimana mengatasi konsekuensi negatif.

 

 

MENGAPA PENGGUNAAN INTERNET BERLEBIHAN TERJADI?

Sebagian besar penelitian yang telah dibahas tampaknya kurang landasan teori karena sangat sedikit peneliti telah berusaha untuk mengusulkan teori penyebabnya kecanduan internet, meskipun sejumlah penelitian yang dilakukan di lapangan. Davis (2001) mengusulkan model etiologi penggunaan internet patologis (PIU: pathological internet use) menggunakan pendekatan kognitif-perilaku. Asumsi utama dari model ini adalah bahwa PIU dihasilkan dari kognisi bermasalah ditambah dengan perilaku yang mengintensifkan atau mempertahankan respon maladaptif. Ini menekankan individu pikiran / kognisi sebagai sumber utama perilaku abnormal. Davis ditetapkan bahwa gejala kognitif dari PIU mungkin sering mendahului dan menyebabkan gejala emosional dan perilaku bukan sebaliknya. Serupa dengan asumsi dasar teori kognitif depresi, berfokus pada kognisi maladaptif berhubungan dengan PIU.

Dalam kasus PIU, Davis mengklaim bahwa penyebab distal itu mendasari psikopatologi (misalnya, depresi, kecemasan sosial, ketergantungan lainnya), sedangkan penyebab proksimal adalah kognisi maladaptif (yaitu, evaluasi negatif dari diri sendiri dan dunia pada umumnya). Meskipun psikopatologi dasar mungkin mempengaruhi seorang individu untuk PIU, gejala terkait adalah spesifik untuk PIU dan karena itu harus diselidiki dan diobati secara independen. Stressor dalam model ini adalah pengenalan Internet, atau penemuan fungsi spesifik dari Internet. Meskipun mungkin ini sulit untuk melacak kembali pertemuan individu dengan internet, acara lebih diuji akan menjadi pengalaman fungsi ditemukan secara online, misalnya, pertama kalinya orang menggunakan sebuah lelang online atau ditemukan materi pornografi online.

Paparan fungsi seperti itu dipandang sebagai penyebab diperlukan distal dari gejala PIU. Dalam itu sendiri, pertemuan ini tidak menghasilkan terjadinya gejala PIU; Namun, sebagai faktor penyumbang, acara bisa menjadi katalis untuk perkembangan proses PIU. Faktor kunci di sini adalah penguatan yang diterima dari acara (yaitu, pengkondisian operan, dimana respon positif diperkuat kontinuitas aktivitas). Model yang diusulkan bahwa rangsangan seperti suara modem menghubungkan atau sensasi mengetik bisa mengakibatkan respon terkondisi. Demikian, jenis reinforcers sekunder dapat bertindak sebagai isyarat situasional yang berkontribusi pengembangan PIU dan pemeliharaan gejala.

Pusat untuk model kognitif-perilaku adalah kehadiran maladaptif kognisi yang melihat menjadi penyebab proksimal suffi efisien dari PIU. Kognisi maladaptif yang dipecah menjadi dua subtipe-persepsi tentang diri sendiri, dan tentang dunia. Pikiran tentang diri dipandu oleh ruminative gaya kognitif. Individu yang cenderung memikirkan akan mengalami tingkat yang lebih tinggi dalam tingkat keparahan dan durasi dari PIU, sebagai studi telah mendukung bahwa ruminasi bakal meningkat atau mempertahankan masalah, sebagian dengan mengganggu perilaku instrumental (yaitu, mengambil tindakan) dan pemecahan masalah.

Kognisi ini mendikte cara di mana individu berperilaku, dan beberapa kognisi akan menyebabkan spesifik atau umum PIU. Spesifik PIU dirujuk ke lebih-penggunaan dan penyalahgunaan fungsi internet spesifik. Hal itu diasumsikan hasil yang sudah ada psikopatologi yang menjadi terkait dengan aktivitas online (misalnya, penjudi kompulsif mungkin menyadari bahwa mereka bisa berjudi secara online dan akhirnya menunjukkan gejala spesifik PIU sebagai hubungan antara kebutuhan dan penguatan segera menjadi lebih kuat). Namun, itu harus mencatat bahwa tidak setiap penjudi kompulsif menunjukkan gejala PIU.

Di sisi lain, umum PIU terlibat menghabiskan jumlah yang berlebihan waktu online tanpa tujuan langsung, atau hanya membuang-buang waktu. Konteks sosial individu, terutama kurangnya dukungan sosial yang mereka terima dan / atau sosial isolasi, adalah salah satu faktor kunci yang memainkan peran dalam kausalitas umum PIU. Individu dengan PIU umum dipandang sebagai lebih bermasalah, karena mereka perilaku bahkan tidak akan ada tanpa adanya Internet.

Berdasarkan model Davis, Caplan (2003) lebih lanjut mengemukakan bahwa bermasalah kecenderungan psikososial menyebabkan berlebihan dan kompulsif Computer-Dimediasi (CM) interaksi sosial pada individu, yang, pada gilirannya, meningkatkan masalah mereka. Teori yang diusulkan oleh Caplan, diperiksa secara empiris, memiliki tiga proposisi utama:

  • Individu dengan masalah psikososial (misalnya, depresi dan kesepian) terus persepsi negatif kompetensi sosial mereka dibandingkan dengan orang lain.
  • Mereka lebih memilih interaksi CM daripada yang tatap muka sejak dianggap kurang mengancam dan individu-individu memandang diri untuk menjadi yang lebih efisien dalam pengaturan online.
  • Preferensi ini, pada gilirannya, menyebabkan penggunaan berlebihan dan kompulsif dari CM interaksi, yang kemudian memperburuk masalah mereka dan menciptakan yang baru di sekolah, kerja, dan rumah.

Di studi Caplan (2003), para peserta terdiri dari 386 mahasiswa (279 perempuan dan 116 laki-laki), dengan usia berkisar 18-57 tahun (rata-rata usia = 20 tahun). Penelitian ini menggunakan Caplan (2002) Generalized Problematic Internet Use Scale (GPIUS), laporan-diri menilai prevalensi kognitif dan perilaku gejala internet patologis menggunakan bersama dengan sejauh mana konsekuensi negatif terpengaruh individu. GPIUS memiliki tujuh sub-skala, yaitu perubahan hati, manfaat sosial yang dirasakan, sosial kontrol yang dirasakan, penarikan, compulsivitas, penggunaan internet yang berlebihan, dan hasil negatif. Juga termasuk dalam penelitian ini telah divalidasi skala depresi dan kesepian.

Ditemukan bahwa depresi dan kesepian adalah prediktor signifikan preferensi untuk interaksi sosial online, akuntansi untuk 19% dari varians. Pada gilirannya, preferensi peserta untuk interaksi sosial online ditemukan untuk menjadi signifikan tidak bisa prediksi skor mereka pada penggunaan Internet patologis dan hasil negatif. Data tersebut juga menunjukkan bahwa penggunaan berlebihan adalah salah satu yang paling lemah prediktor hasil negatif sedangkan preferensi untuk interaksi online, penggunaan kompulsif, dan penarikan di antara yang terkuat. Secara keseluruhan, kesepian dan depresi tidak ditemukan memiliki besar, efek independen pada hasil negatif. Hasil penelitian ini muncul untuk mendukung dalil bahwa preferensi untuk sosialisasi secara online adalah kontributor kunci untuk pengembangan penggunaan Internet bermasalah.

Caplan mencatat dua hasil yang tak terduga dalam data. Pertama, kesepian memainkan lebih peran signifikan dalam pengembangan penggunaan internet bermasalah dibandingkan depresi. Dia berusaha untuk menjelaskan temuan ini dengan menyatakan bahwa kesepian adalah teoritis prediktor yang lebih menonjol, karena persepsi negatif dari kompetensi sosial dan keterampilan komunikasi akan lebih parah pada individu kesepian. Di sisi lain, berbagai keadaan yang mungkin tidak berhubungan dengan seseorang kehidupan sosial dapat mengakibatkan depresi (misalnya, pengalaman traumatis).

Kedua, menggunakan Internet untuk mengubah suasana hati ditemukan kurang dalam pengaruh pada hasil negatif. Misalnya, diusulkan oleh Caplan adalah bahwa ada berbagai keadaan dimana individu menggunakan Internet untuk mengubah suasana hati mereka, dan penggunaan yang berbeda dari Internet akan menyebabkan perubahan suasana hati yang berbeda. Misalnya, bermain game online akan menarik dan menyenangkan, saat membaca berita bisa santai. Karena itu, dalam dirinya sendiri, menggunakan Internet untuk mengubah suasana hati mungkin tidak selalu mengarah pada negatif konsekuensi terkait dengan preferensi untuk interaksi sosial online, berlebihan dan penggunaan kompulsif, dan mengalami penarikan psikologis.

Akhirnya, penelitian ini tidak memperhitungkan peran bahwa keterampilan sosial yang sebenarnya individu dan dilaporkan sendiri preferensi komunikasi bermain dalam pengembangan penggunaan internet bermasalah, meskipun teori ini menekankan pada kompetensi sosial yang dirasakan.

 

 

KESIMPULAN

Istilah “Kecanduan Internet,” “Gangguan Kecanduan Internet,” “Patologis Penggunaan Internet,” “Permasalahan penggunaan internet,” “Penggunaan Internet berlebihan,” dan “Penggunaan Internet Kompulsif” semua telah digunakan untuk menggambarkan kurang lebih konsep yang sama, yaitu, bahwa seorang individu bisa begitu terlibat dalam penggunaan online mereka sebagai mengabaikan kehidupan mereka. Namun, tampaknya terlalu dini pada tahap ini menggunakan satu label untuk konsep, karena sebagian besar penelitian yang dilakukan di lapangan sejauh ini disajikan berbagai tingkat perbedaan dan hasil yang bertentangan.

Griffiths (2000a) menyatakan bahwa sebagian besar orang yang menggunakan Internet berlebihan tidak kecanduan internet itu sendiri, tetapi menggunakannya sebagai media untuk bahan kecanduan lainnya. Griffiths (2000a) mengatakan bahwa ada kebutuhan untuk membedakan antara kecanduan internet dan kecanduan di Internet. Dia memberikan contoh seorang pecandu judi yang memilih untuk terlibat dalam perjudian online, serta pecandu permainan komputer yang memainkan online, menekankan bahwa internet adalah tempat di mana mereka melakukan yang dipilih (adiktif) perilaku mereka. Orang-orang ini menampilkan kecanduan di Internet. Namun, ada juga pengamatan bahwa beberapa perilaku yang bergerak di di Internet (misalnya, cybersex, cyberstalking) mungkin perilaku yang orang akan hanya melaksanakan di Internet karena media adalah anonim, tidak tatap muka, dan disinhibisi (Griffiths, 2000c, 2001).

Sebaliknya, ia juga mengakui bahwa ada beberapa studi kasus yang tampaknya melaporkan kecanduan internet itu sendiri (misalnya, Young, 1996b; Griffiths, 2000b). Sebagian besar orang menggunakan fungsi internet yang tidak tersedia di media lainnya, seperti chat room atau berbagai permainan peran-bermain. Orang-orang ini tampaknya kecanduan internet karena mereka melakukan kegiatan yang menggunakan fitur istimewa dari Internet. Namun, meskipun perbedaan-perbedaan ini, tampaknya ada beberapa temuan yang umum, terutama, laporan konsekuensi negatif dari penggunaan internet yang berlebihan (mengabaikan pekerjaan dan kehidupan sosial, kerusakan hubungan, kehilangan kontrol, dll), yang dialami sebanding dengan lainnya, kecanduan lebih mapan. Kesimpulannya, tampak bahwa jika kecanduan internet memang ada, itu hanya mempengaruhi persentase yang relatif kecil dari populasi online. Namun, apa itu di Internet yang membuat mereka kecanduan masih tetap tidak jelas. Yang jelas, adalah bahwa penelitian lebih lanjut masih diperlukan.