Lepas Masa Lalu

Cerpen: Lepas Masa Lalu

Sepulang sekolah Eva sangat terkejut melihat keadaan rumahnya yang sudah kosong. Hanya terlihat lemari pakaian dan meja belajarnya saja yang tetap tinggal. Eva segera mencari mamanya yang sedang mengemasi barang-barang.
“Siang, Ma,” sambil mencium tangan mamanya “Kita pindah hari ini?” Tanya Eva.
Dengan senyum mama Eva menjawab “Iya, Eva. Kita pindah sekarang. Sehabis kamu ganti pakaian, segera kemasi barang-barang mu ya !”
“oke ma” Sahut Eva.
Kejadian yang tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Evanna Lynch terjadi hari ini. Ia harus rela meninggalkan rumah kelahirannya. Selama 15 tahun ia tinggal di sana, sangat sulit bagi Eva untuk meninggalkan rumah tercintanya.
“Gue belum sanggup ninggalin rumah ini, rumah ini saksi bisu kehidupan gue. Menangis, tertawa, susah, senang, semuanya ada di rumah ini. Memang, rumah gue yang baru jauh lebih bagus dari rumah ini, tapi ini rumah kenangan. Yaahh.. tapi mau bagaimana lagi?! Ini kan rumah dinas. Kalo sekarang belum pindah, suatu saat nanti gue pasti akan pindah. Tapi gak apa apa lah, lebih cepat lebih baik.” Eva berbicara sendiri.
Eva mengeluarkan seluruh koleksi bukunya yang berselimutkan debu setebal kurang lebih 1 cm dari dalam lemarinya. Eva memang memiliki perpustakaan pribadi di rumahnya, namun buku-buku Eva nyaris tak tersentuh sedikitpun. Satu per satu ia bersihkan bukunya dari butiran debu yang menempel. Eva rela mengeluarkan uang untuk membeli beberapa novel karya penulis ternama yang cukup mahal. Namun setelah membeli buku-buku tersebut, Eva malas untuk membacanya. Sehingga itu hanya membuat penuh perpustakaan pribadinya.
Membongkar semua barang milik Eva, seakan telah menghidupkan pikirannya untuk kembali mengenang masa lalu. Semua kejadian yang nyaris terlupakan oleh Eva, kembali muncul di benaknya. Berbagai kenangan dari yang terindah sampai kenangan terpahit, Eva dapat mengingatnya dengan jelas. Ya, semua kenangan itu terjadi di rumah itu. Eva tidak dapat membendung air mata kesedihannya, yang seketika itu tumpah dan membasahi pipinya.
Pukul 16.30 Eva telah selesai mengemasi seluruh barang-barangnya, lalu ia pergi mandi & setelah selesai ia bergegas menemui mamanya.
“Lho ma, papa mana?” Tanya Eva
“Papa masih memindahkan barang-barang lain ke rumah yang baru” jawab mama Eva
“Ma, aku bingung nih, kan SMP ku jauh banget dari rumah yang baru. Masa aku berangkat jam 04.00?” Tanya Eva bingung
“Tidak perlu, Eva. Papa & mama sudah memutuskan untuk mencari kontrakan di dekat sekolahmu. Jadi oma, opa, dan papa tinggal di rumah yang baru, sedangkan mama akan menemanimu tinggal di rumah kontrakan nanti.” Jelas mama Eva.

***

“Semuanya sudah siap? Yakin tidak ada yang tertinggal?” Tanya Papa Eva
“Sudah semua koq, Pa.” sahut Eva
“Ayo berangkat.” Ucap mama Eva.
Jumat, pukul 21.30 tepat, Eva terakhir kali menjejakkan kakinya di rumah tercintanya. “Selamat tinggal rumahku tersayang. Biarpun aku tak dapat memilikimu selamanya, tapi kenanganmu akan selalu ada dalam hatiku !” hati Eva menangis, matanya berkaca-kaca. Mobil Eva pun berlalu meninggalkan rumah kenangan itu untuk selamanya.
Eva dan keluarganya tiba di rumah yang baru sekitar pukul 23.00. Rumahnya masih berantakan, karena barang-barang masih belum dirapihkan. Kemudian Eva membantu orang tuanya mengatur barang-barang hingga semuanya rapih. Setelah selesai, Eva langsung menuju ke kamarnya di lantai 2. Dalam hitungan menit saja ia sudah tertidur pulas.
Keesokan harinya Eva, mama & papanya pergi ke rumah kontrakan di dekat sekolah Eva. Betapa kagetnya Eva melihat rumah kontrakan yang akan ditempatinya. Kira-kira hanya berukuran 3X7 meter. Ketika Eva memasuki rumah kontrakan tersebut, yang ada di pikirannya hanya masalah, masalah, dan masalah. Ia merasa ini akan memperburuk keadaan.
“Ma, disini rumahnya sempit banget. Palingan rumah ini 1 per 10 rumah kita yang sebenernya. Barang-bararangnya juga terbatas. Gak ada komputer, AC, kulkas, televisinya Cuma 21 inch. Memangnya gak ada kontrakan yang lebih besar dari ini? Aku gak bisa tinggal disini.” Protes Eva pada mamanya.
“Eva, kan rumah ini nggak cukup untuk komputer, AC, kulkas, dan TV yang 29 inch. Jadi lebih baik barang-barang itu mama taruh di rumah sana aja. Dan seharusnya kamu harus mensyukuri apa yang telah kamu dapatkan. Memang, orang-orang yang kehidupannya lebih mapan & lebih sukses banyak, tetapi masih banyak juga orang-orang terlantar di jalanan yang mengharapkan sesuap nasi dari para dermawan di sekelilingnya.” Kata mama Eva lemah lembut.
Evanna adalah seorang anak yang sulit untuk mengucap syukur dengan apa yang diterimanya. Padahal apa yang ia inginkan selalu di turuti oleh orang tuanya. Mulai dari handphone, laptop, motor sampai kartu kredit pribadi. Maklum, ia anak semata wayang. Namun, harta yang berkelimpahan dan kasih sayang yang terlalu berlebihan menjadikan Eva seorang anak manja, egois & mudah mengeluh. Sampai saat ini pun Eva masih belum bisa merubah sifat buruknya itu.

***

Minggu pagi yang berawan, ketika Evanna sedang duduk diteras menikmati udara pagi yang sejuk, ia mendengar suara pertengkaran. Tampaknya suara itu berasal dari rumah mewah yang berada tepat di sebelah rumah kontrakan Eva. Kemudian keluarlah seseorang yang menurut Eva tampan. “wah, ganteng banget tuh cowok. Kenalan ah, siapa tau bisa jadi temen baik.” Lalu ia bergegas mencari orang tadi. Karena terburu-buru, tanpa sengaja Eva menabrak orang tersebut. Keduanya pun jatuh.
“Jalan yang bener kenapa? Kalo jalan jangan nunduk terus. Hp gue jatuh noh !” ucap orang itu sambil mengambil hpnya yang terjatuh.
“Maaf, gue kan gak sengaja.” Kata Eva sambil membetulkan pakaiannya.
Lalu Eva segera bangkit & mengulurkan tangannya sambil berkata “oya, gue evanna lynch, panggil aja Eva. Gue orang yang baru pindah di sebelah rumah lo !”
“Nama gue gak beda jauh koq sama nama lo. Evanda Vincera, alias Evan.” Sahut Evan sambil menjabat tangan Eva.
{Tiba-tiba Eva teringat, kejadian beberapa minggu yang lalu. Ketika ia sedang menunggu taxi di pinggir jalan raya sambil sms-an. Lalu seseorang berkata “awas” pada Eva & menarik tangan Eva hinga terjatuh & hpnya terlempar. “lo siapa sih? Asal narik tangan gue sampe jatoh. Liat nih handphone gue rusak!” Eva marah-marah. “emangnya lo gak liat tadi. Lo tadi nyaris keserempet motor tau” jawab orang itu dengan kesal. “aargh, omong kosong lah !” kata Eva sambil pergi meninggalkan orang tadi. “Ditolong bukannya terima kasih, malah ngamuk-ngamuk. Aneh tu cewek”} Dan kini Eva baru menyadari, jika orang itu adalah Evan.
“kalo gak salah, lo itu kan pernah gue tolongin yang waktu itu hampir keserempet?” ternyata Evan juga mengingatnya.
“Iya, itu emang gue. Tapi gara-gara lo hp gue jadi rusak tau !” sahut Eva
“Ya udah lah, gak usah dibahas lagi. Sekarang gue udah kena imbasnya koq, nih hp gue mati!” kata Evan sambil senyum-senyum gak jelas.
Lalu, mereka melanjutkan pembicaraannya sambil duduk-duduk di taman tepat di depan rumah Evan.
“Evan, lo sekolah dimana?” Tanya Eva
“Gue sekolah di SMU Virginia, sekolah khusus cewek. Sebenernya gue minta di SMU biasa. Tapi ortu gue maksa.”
“Emang bisa ya?” Eva bingung
“Bisa apanya?” Evan balik nanya
“lo kan cowok, koq masuk sekolah khusus cewek?!” Eva heran
“Jadi dari tadi lo nganggep gue cowok, gue tu cewek. Sama kaya lo !” sahut Evan agak kesal
Eva sangat terkejut setelah mengetahui bahwa Evan adalah perempuan, sangat sulit di percaya. Dilihat dari penampilan, gayanya, dan prilakunya, cowok banget !
“iya, soalnya lo ganteng banget sih Van !” kata Eva jujur
“ahh, gue dah bosen denger pujian itu, hehhe..” sahut Evan
“huh.. sombong, oya tadi siapa yang bertengkar di rumah lo?” Tanya Eva
“yah.. biasalah, gue ama nyokap. Gara-gara gue pulang ke rumah jam 11 malem.” Jawab Evan
“kemana aja lo? Jalan sama pacar ya?!” ledek Eva
“bukan, gue ke warnet. Main game online. Lagian selama 16 tahun di bumi, gue belum pernah punya pacar. Cowok-cowok pada takut sama gue. Malahan waktu itu ada cewek yang naksir ama gue, karena dia gak tau kalo gue sebenernya cewek.” Jelas Evan
“Kenapa ortu lo maksa nyuruh sekolah di SMU khusus cewek?” Tanya Eva
“ortu gue katanya pengen punya anak cewek normal, yang gak setengah cewek setengah cowok kaya gue ini. Tapi percuma aja, selama gue sekolah di situ sama sekali gak ada perubahan tuh.” Jawab Evan
“emang seburuk apa sih sifat lo, sampe segitunya amat?” Tanya Eva lagi
“waktu SMP kemaren gue sering banget masuk BP, kena masalah terus. Mulai dari ketauan ngerokok, malakin adek kelas, berantem sama temen, dan ikut-ikutan tawuran. Karena sifat gue itu, akhirnya gue gak punya temen cewek. Rata-rata temen gue cowok semua.” Kata Evan tanpa rasa bersalah sedikit pun
Eva hanya terdiam & heran mendengar penjelasan Evan.
“eh, neng jangan ngelamun terus. Ntar kesambet lho !” kata Evan seraya menepuk-nepuk pundak Eva. “gak perlu takut koq, gue yang sekarang gak terlalu parah kaya dulu.” Lanjut Evan.
Teryata dibalik sifatnya itu, Evan juga memiliki sifat jail. Evan selalu mencari kesempatan untuk menganggu teman atau tetangga sebayanya pada malam minggu, karena biasanya pada waktu itu sang kekasih datang menjemput mereka dengan mengendarai motor. Evan selalu menggangu mereka dengan cara mengempeskan ban motor milik kekasih temannya tersebut, atau memukul-mukul tiang listrik sambil menyanyi-nyanyi gak jelas. Bahkan tak jarang ia melepaskan anjing peliharaannya yang galak. Sehingga membuat kekasih temannya itu tidak berani kembali, karena trauma berkepanjangan akibat di kejar anjing milik Evan. Eva tertawa geli mendengar cerita Evan tentang dirinya sendiri. Kini giliran Eva menceritakan seluk beluk kehidupannya. Alasan mengapa ia pindah juga tak lepas dari pembicaraannya. Hanya beberapa menit saja Eva & Evan sudah bisa mengakrabkan diri. Ketika mereka berdua saling berbagi cerita satu sama lain, tanpa terasa waktu menunjukan pukul 11.30.
“udah dulu ya, Van. Gue mau pulang nih !” kata Eva
“yaudah, gih sana. Kerjaan lo di rumah masih banyak, nyuci, strika, nyapu, ngepel, beresin rumah, masak. Kalo udah di gaji, kerjanya yang rajin ! Lagian gue mau ke warnet dulu.” sambung Evan
“enak aja lo, emangnya gue pembantu apa?” sahut Eva kesal
“iya-iya neng bercanda, jangan marah-marah terus. Ntar cepet tua lho?!” ledek Evan
Eva kembali ke rumahnya & Evan pergi ke warnet mengendarai motor king hitam milik kakaknya, Alex. Sambil berjalan menuju rumahnya, ia berkhayal tingkat tinggi. Eva membayangkan betapa kerennya jika Evan seorang cowok, memang sifatnya sangat tidak patut untuk ditiru. Namun, Evan tampan, pandai bermain basket, gitaris & backing vocal bandnya. “Andaikan Evan cowok, gue mau koq jadi pacarnya. Hehhe..” kata Eva dalam hati “koq gue jadi ngelantur begini sih, mungkin belum sarapan kali ya ?! ah lanjut.” pikir eva

***

Dan akhirnya Eva pun tinggal di rumah kontrakan itu dengan semangat tanpa ada beban di pikirannya. Berkat Evan yang selalu menyemangati hidupnya. Evan pernah berkata “Eva, hidup lo itu cuma sekali jangan di buat susah. Biarpun ada masalah, jangan di bawa repot deh. Ntar lo jadi stres sendiri. Enjoy aja, Va!”
Karena hubungan persahabatan yang makin erat, masing-masing dari mereka saling memberi masukan satu sama lain. Eva sekarang bukanlah anak manja & egois, ia sudah lebih bisa mensyukuri hidupnya & lebih mandiri. Begitu pula dengan Evan, memang sifatnya yang tomboy tidak bisa dirubah, tapi ia sekarang sudah berhenti merokok, dan tidak pernah membuat ulah lagi di sekolah maupun di sekitarnya.
Selama kurang lebih 6 bulan tinggal di sana, Eva sudah menganggap Evan sebagai kakaknya sendiri. Eva pun dapat lulus ujian dengan nilai tertinggi di sekolahnya, karena semangat yang di berikan oleh kedua orang tuanya dan sahabat terbaiknya Evan. Ketika Eva telah lulus SMP, ia pulang ke rumah sebenarnya & meninggalkan Evan. Walaupun demikian, kenangan Evan tetap tersimpan di hati Eva.

***

Tiga bulan kemudian . . .
“gue dah telat ke tempat bimbel nih?” ucap Eva setengah berlari sambil melirik arlojinya
Tiba-tiba Eva menabrak seseorang yang baru turun dari mobil sambil membawa tumpukan kardus setinggi leher. Gubrak, semua isi kardus tumpah berserakan.
“Jalan yang bener dong !” ucap orang itu, yang ternyata adalah Evan.
“lho Evan?!” ucap Eva kaget
“lo lagi, lo lagi. Kenapa sih tiap ketemu kejadiannya pasti kaya begini !?” sahut Evan
“mau kemana, koq bawa barang-barang segitu banyak?” Tanya Eva
“gue mau pindah rumah nih, soalnya rumah gue yang lama mau di bangun pertokoan. Sekarang gue tinggal perumahan Diamond Residence blok A no. 10. Lo sendiri?”
“berarti kita tetanggaan dong, gue tinggal di perumahan Diamond Residence juga, blok A no. 12 !” jawab Eva gembira “gue buru-buru mau bimbel nih Van. Gue pergi dulu ya !” lanjut Eva
“yo’i,” sahut Evan. Pada akhirnya, Eva & Evan kembali bertetangga, bahkan Evan menjadi kakak kelas Eva karena mereka bersekolah di SMA yang sama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s