Kaulah Pilihan Hatiku

Cerpen: Kaulah Pilihan Hatiku

Aku sedang dalam perjalanan makan malam bersama Evan saat tiba-tiba klakson mobil-mobil di belakangku berbunyi dan membuyarkan lamunanku seketika itu juga. Aku tidak menyadari jika lampu lalu lintas di depanku sudah menyala hijau. Dengan segera mobilku melaju. Memang, akhir-akhir ini pikiranku sedikit kacau. Selain karena menumpuknya pekerjaanku di kantor, hal yang lebih mengganggu pikiranku adalah Evan.

Aku mulai meminggirkan mobilku saat mendekati restoran yang kami sepakati lewat telepon. Sayangnya ketika aku hendak berbelok, petugas parkir memberi isyarat bahwa parkiran sudah penuh. Terpaksa aku memilih parkiran mobil di luar dekat jalan raya. Udara terasa begitu dingin malam ini. Beruntung, saat aku keluar dari mobil hujan sudah tidak sederas sewaktu aku di perjalanan tadi.

Ku percepat langkah menuju restoran. Aku masuk sembari memandang berkeliling setiap sudut ruangan. Ternyata Evan sudah menungguku di meja nomor lima dekat dengan jendela besar yang langsung menghadap jalan raya. Aku bisa mengenalinya dari postur tubuh dan gaya berpakaiannya, walaupun ia sedang melihat ke arah jendela dan aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tampaknya ia memikirkan suatu hal sampai-sampai ia tak menyadari kehadiranku. Suara deritan kursi yang kutarik menganggetkannya.

“Hai sayang!” sapa Evan terkejut.

“Hai!” sahutku sambil duduk di kursi berhadapan dengannya.

“Bagaimana kabarmu hari ini? Kamu kelihatannya lelah sekali,” ucapnya dengan penuh perhatian.

“Iya, hari ini aku ada lembur. Jadi dari kantor aku langsung ke sini, nggak sempat pulang dulu,” jelasku datar.

“Kamu sedikit beda hari ini. Kalau lagi ada masalah, cerita aja sama aku. Ada apa sih?” tanya Evan padaku.

“Sebenarnya ada tujuan apa kamu mengajak aku makan malam di sini?” balasku tak menghiraukan pertanyaannya.

“Aku kangen banget sama kamu. Sudah lama kita nggak makan bersama karena kita terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing,” ujar Evan.

“Kamu sendiri akhir-akhir ini kemana aja? Kamu makin jarang kasih kabar,” kataku.

“Hmm.. aku,” Evan terlihat berpikir keras untuk mencari jawaban atas pertanyaanku. Ia terdiam sesaat.

“Sebenarnya kamu serius nggak sih dengan hubungan yang kita jalani sekarang?”

“Aku sedang banyak pekerjaan. Hampir setiap hari ada meeting di kantor. Maaf ya, sayang,” lanjut Evan.

“Meeting dengan siapa? Pacar barumu?” tanyaku lagi.

“Loh, kenapa kamu bicara seperti itu? Pacarku nggak ada lagi selain kamu. Cuma kamu seorang,” jelasnya padaku.

Aku bertanya dengan sedikit emosi, “Lalu kapan kamu mau melamar aku? Sejak berbulan-bulan yang lalu kamu sudah janji akan segera melamarku. Tapi mana buktinya? Cuma omong kosong.”

“Sabar Jenny. Aku hanya sedang menunggu waktu yang tepat.” ucapnya mencoba meredakan emosiku.

“Waktu yang tepat? Kapan? Kita berdua sudah bukan remaja lagi. Orang tuaku terus bertanya dan aku sendiri juga butuh kepastian Van,” jawaban Evan semakin membuat amarahku memuncak.

Evan menaruh sebuah kotak biru dengan hiasan pita merah muda di meja lalu berkata, “Aku punya hadiah untukmu. Bukalah!”

Entah, aku makin tidak mengerti jalan pikirannya. Kali ini aku tidak merasa begitu tertarik dengan kado yang ia berikan. Aku justru berpikiran bahwa hadiah itu adalah alat untuk pengalih topik pembicaraan kami. Aku hanya menghela napas panjang dengan sedikit menggelengkan kepala lalu pergi meninggalkannya.

“Tunggu Jenny!” seru Evan berlari mengejarku.

Beberapa langkah lagi aku mencapai mobil saat tiba-tiba Evan menahan lenganku dan berkata, “Jenny tunggu dulu. Apa yang sebenarnya terjadi? Aku tidak mengerti kenapa kamu tiba-tiba begitu marah seperti ini.”

“Sudahlah! Kamu nggak usah berpura-pura lagi Van. Aku sudah tahu apa yang kamu lakukan selama ini,” bentakku.

“Lakukan apa? Jangan bicara yang nggak-nggak Jen,” sahut Evan.

“Aku sudah lihat dengan mataku sendiri kalau kamu pergi dengan perempuan lain. Lalu kamu memberikan cincin pada perempuan itu,” jelasku.

“Perempuan? Cincin?” ia justru bertanya balik kepadaku.

Aku kembali menghela napas panjang dan segera meninggalkannya, namun untuk kedua kalinya ia menahanku lagi.

“Jenny, tolong terima dulu hadiah ini. Ini semua pasti salah paham, aku nggak…”

Sebelum Evan menyelesaikan ucapannya aku memotong, “Cukup, aku nggak mau dengar alasan apapun darimu. Oke, aku terima hadiah ini karena ini aku anggap sebagai kado terakhirmu. Dan mulai sekarang kita putus!” ucapku sambil merampas kado itu dari tangan Evan kemudian melemparkannya ke jalan raya.

Sempat ku melihat ekspresi wajahnya yang sangat shock dan tak mampu berkata-kata sebelum akhirnya aku berlalu pergi. Aku percepat langkah menuju mobil tanpa mempedulikannya lagi. Mobilku terus melaju secepat yang aku bisa. Sesekali dari kejauhan aku berusaha melihat Evan melalui spion mobilku, hanya untuk memastikan apakah ia akan membuntutiku dengan mobilnya atau tidak. Tetapi pandanganku terhalang oleh mobil-mobil dan orang-orang yang berkerumun tepat di jalanan depan restoran. Sepertinya sedang terjadi kecelakaan. Mungkin hal itu yang menghambat Evan untuk segera mengejarku, atau kemungkinan yang lain adalah dia benar-benar sudah tidak mencintaiku lagi. Jika kemungkinan yang kedua itu benar, maka keputusan yang aku pilih untuk mengakhiri hubungan kami ini sudah tepat.

Evan adalah kekasihku. Kami sudah menjalin hubungan ini sejak beberapa tahun lalu. Saat itu aku masih semester awal perkuliahan, sedangkan ia mahasiswa tingkat tiga. Selama ini hubungan kami berjalan lancar, nyaris tak ada masalah yang berarti. Tetapi beberapa hari yang lalu ketika aku sedang berada di sebuah mall, aku melihatnya sedang bersama perempuan lain. Herannya, mereka berdua terlihat akrab sekali. Aku pun memutuskan untuk mengikuti mereka diam-diam. Awalnya mereka menuju toko pakaian, di sana kelihatannya Evan membelanjakan gadis itu banyak sekali barang. Lalu mereka makan siang di restoran. Setelah pelayan mencatat pesanan dan meninggalkan meja mereka, Evan mengeluarkan sebuah kotak merah kecil dari sakunya. Perempuan itu tampak terkejut dan kebahagiaan terlihat di raut wajahnya. Ternyata itu adalah sebuah cincin. Melihat kejadian itu, aku langsung melangkah pergi tanpa mempedulikan pelayan yang sedari tadi berdiri di sampingku bersiap untuk mencatat pesanan. Rasa kesal, marah, sedih, kecewa bercampur aduk menyesakkan dada. Tentunya, moment menyakitkan itu tak akan pernah hilang dari ingatanku. Selama ini aku terlalu percaya, bahkan aku tak pernah menaruh rasa curiga padanya. Tetapi kenyataan berkata lain.

Setiba di rumah, aku menuju kamar dan langsung merebahkan diriku di tempat tidur. Tanganku berusaha mengambil ponsel di dalam tas yang ada di sisiku. Aku tak melihat apapun di layar ponselku, tak ada pesan ataupun panggilan telepon. Aku ingin meredakan emosiku sejenak dan mencoba untuk menenangkan diri, jadi kuputuskan untuk mematikan ponselku. Kini aku tak ingin mengharapkan apapun lagi darinya karena itu hanya akan membuat hatiku semakin terluka. Padahal selama ini Evan yang kukenal adalah pria yang santun, dan juga perhatian, terlebih kepada orang yang dikasihinya. Namun, di sisi lain Evan bukanlah tipe orang yang banyak bicara, ia lebih menjadi ‘pendengar setia’ dan kurang terbuka. Selalu ada saja hal yang ia tutup-tutupi, apalagi jika aku bertanya masalah keluarganya.

Dua hari kemudian . . .

Seseorang mengetuk pintu rumahku dan segera aku membukakannya. Betapa terkejutnya aku, melihat sesosok gadis yang berdiri di depanku adalah perempuan yang pergi bersama Evan saat itu. Wajahnya cantik, namun tatapannya membiaskan kesedihan. Matanya pun terlihat bengkak seperti ia telah menangis semalaman.

“Apa benar ini rumah Jenny?” tanyanya lirih.

“Ya benar, saya sendiri. Kamu siapa?” balasku dengan cepat.

“Aku Felish, adik tiri dari Kak Evan. Aku ada berita duka yang harus aku sampaikan ke Kak Jenny,” ujarnya.

“Hah, kamu adik tiri Evan?” tanyaku memastikan bahwa aku tidak salah dengar, aku benar-benar kaget dan tak percaya. “Memang ada berita duka apa?’ sambungku.

Gadis itu mengangguk pelan kemudian berkata, “Kak Evan mengalami kecelakaan, dia menjadi korban tabrak lari. Kondisinya kritis dan semakin memburuk. Kak Evan meninggal dunia pukul 22.00 kemarin. Keluarga sudah mencoba mengirim pesan dan menelepon Kak Jenny tetapi ponselnya tidak aktif.”

Kepergian Evan yang mendadak dan ditambah pula dengan pernyataan bahwa Felish sebenarnya adik tiri Evan, semakin menyayat hatiku begitu dalam. Kenyataan ini meremukkan serta menghancurkan hati dan perasaanku hingga menjadi serpihan yang tak bersisa. Air mata pun tak kuasa ku bendung lagi.

“Tapi kenapa selama ini Evan tidak mau bercerita padaku kalau ia mempunyai adik tiri?” tanyaku.

“Selama ini Kak Evan memang tidak pernah mau memberi tahu pada siapapun tentang masalah keluarganya. Ia menganggap bahwa ini adalah urusan pribadi yang tak seharusnya diceritakan pada orang lain. Tapi ia pernah bilang padaku kalau ia akan menceritakan semua ini pada Kak Jenny jika kalian berdua sudah menikah nanti,” terang Felish padaku.

Dalam keadaan yang masih shock, aku hanya terdiam mendengar penjelasan Felish. Ternyata semenjak kedua orang tua Evan bercerai, ayahnya menikah lagi dengan ibu dari Felish dan kemudian mereka tinggal di luar negeri. Begitu pula dengan Ibu dari Evan, yang beberapa tahun setelah perceraian menikah dengan pria lain. Aku baru tahu ternyata selama ini yang ku kenal dan sering ku temui di rumah Evan bukanlah ayah kandungnya.

“Walaupun masing-masing dari orang tua kami sudah tidak saling berhubungan lagi, tapi aku justru semakin dekat dengan Kak Evan. Ia selalu ku anggap sebagai kakak kandungku. Karena aku merasa bahagia sekali bisa mempunyai kakak sebaik dia. Setiap liburan aku selalu kemari untuk bertemu dengannya.” sambung Felish.

Aku mengusap air mataku yang terus mengalir selama mendengar penjelasan dari Felish. Kemudian Felish melanjutkan perkataannya, “Beberapa hari yang lalu Kak Evan menemaniku berbelanja ke mall. Sebelum pulang ia mengajakku makan siang, pada saat itu ia menunjukkan padaku sebuah cincin dan ia meminta pendapatku mengenai cincin itu. Lalu dia berkata kalau cincin itu akan ia berikan pada gadis pilihan hatinya.” Felish berhenti sejenak.

“Maaf kak, aku jadi bercerita panjang lebar. Aku harus segera pulang untuk membantu mempersiapkan upacara pemakaman Kak Evan siang ini. Ini untuk Kak Jenny. Sampai jumpa di pemakaman!” Felish menyerahkan kado dan terburu-buru pergi.

Seketika itu juga aku teringat bahwa ini adalah kado dari Evan saat kami terakhir kali bertemu. Firasatku mengatakan bahwa ia meninggal karena berusha mengambil kado ini yang ku lempar ke tengah jalan. Terlihat dari bentuknya yang sedikit rusak dan terdapat bekas cipratan darah. Aku membuka kado itu dan menemukan sebuah album kecil berisi foto-foto kenangan kami berdua. Aku membuka tiap halamannya dengan perlahan. Pada beberapa foto terdapat tulisan di bawahnya:

‘Saat bertemu aku merasa tak peduli. Namun saat kau pergi aku selalu menantimu. Apa ini yang namanya cinta?’

‘Cinta tak harus berakhir bahagia, karena cintaku kepadamu tidak akan pernah berakhir. Tak akan ada yang abadi selain perasaan ini, karena aku mencintaimu sejak pertama kali mengenalmu, kemarin, hari ini, esok dan seterusnya.’

‘Apabila suatu saat nanti kamu hancurkan aku dengan cintamu, maka akan kucintai kamu dengan kepingan yang tersisa.’

‘Aku tidak tahu sampai kapan usiaku, tapi aku punya keyakinan cintaku akan ada selamanya untukmu. Dan jika Tuhan masih memberiku kesempatan untuk hidup lebih lama lagi, aku hanya ingin melalui hidup bersama denganmu.’

Kemudian pada halaman selanjutnya aku mendapati tulisan ‘Will you marry me?’ dengan terselip sepasang cincin yang bertuliskan nama kami masing-masing.

Tentu saja aku akan memberikan jawaban ‘ya’ untuknya. Tetapi semuanya sudah terlambat, Evan telah telah pergi meninggalkanku untuk selamanya. Kini tinggal penyesalan yang akan terus membayangi hidupku.

Advertisements

One thought on “Kaulah Pilihan Hatiku

  1. ceritanya keren..
    salam kenal yaa. mampir balik donk..
    — katamiqhnur.com —
    nggak bakalan rugi deh kalo kamu berkunjung ke situ. hehehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s