Social Phobia

Manusia terlahir sebagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Akan tetapi, rupanya di sekitar kita ada juga orang yang justru menghindari statusnya sebagai makhluk sosial. Ada apa dengan diri orang tersebut? Dalam psikologi fenomena tersebut dikenal dengan istilah socal phobia atau fobia sosial.

Saat saya pertama kali mendengar salah satu jenis fobia ini memang saya merasa sedikit aneh. Terpikir oleh saya ‘memangnya ada orang yang takut dengan orang lain?’ Pada umumnya kan fobia atau ketakutan itu muncul disebabkan karena benda atau hal-hal tertentu, atau mungkin juga adanya trauma (kejadian yang tidak menyenangkan di masa lalu). Ternyata fobia sosial lebih tepatnya takut berinteraksi dengan orang lain, mereka sulit untuk membangun hubungan sosial dengan lingkungan sekitar.

Social Phobia

Merasa gugup dalam beberapa situasi sosial merupakan kondisi yang normal, dan bukan merupakan social anxiety disorder. Pada social anxiety disorder (social phobia), interaksi sosial sehari-hari pun dapat menyebabkan ketakutan ekstrem.

Social anxiety disorder adalah suatu kondisi kesehatan mental kronis yang menyebabkan kecemasan irasional atau takut berada di tempat umum yang ramai. Biasanya juga memiliki ketakutan bahwa akan mempermalukan atau menghina diri sendiri jika berada di tempat umum.

Berada dan mengerjakan sesuatu di tempat umum akan menyebabkan ketidaknyamanan pada penderita social anxiety disorder. Jika kehidupan terganggu oleh jenis ketakutan tersebut, kemungkinan menderita social anxiety disorder.

Penyebab

Seperti banyak kondisi kesehatan mental lainnya, social anxiety disorder mungkin timbul dari interaksi yang kompleks dari lingkungan dan gen. Para peneliti terus mempelajari kemungkinan penyebab, termasuk:

1. Gen
Para peneliti mencari gen-gen tertentu yang berperan dalam kecemasan dan ketakutan. Social anxiety disorder tampaknya menurun dalam keluarga. Tetapi bukti menunjukkan bahwa komponen herediter pada kondisi ini disebabkan perilaku cemas yang ditiru dari anggota keluarga lainnya

2. Biokimia
Peneliti mengeksplorasi ide bahwa bahan kimia alami dalam tubuh mungkin memainkan peran dalam social anxiety disorder. Misalnya, ketidakseimbangan dalam serotonin kimia otak bisa menjadi faktor penyebab. Serotonin, merupakan neurotransmitter yang membantu mengatur suasana hati dan emosi. Orang dengan social anxiety disorder dapat sangat sensitif terhadap efek serotonin.

3. Respon takut
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa struktur dalam otak yang disebut amygdala mungkin memainkan peran dalam mengendalikan respons takut. Orang yang memiliki amygdala yang terlalu aktif mungkin memiliki respons takut yang tinggi, menyebabkan peningkatan kecemasan dalam lingkungan sosial.

Social anxiety disorder juga dapat dipengaruhi oleh:

1. Rendahnya percaya diri
2. Tidak dapat bersikap tegas
3. Menilai diri sendiri dengan negatif
4. Hipersensitif terhadap kritik
5. Kurangnya kemampuan berkomunikasi dengan banyak orang

Gejala

Emosional dan perilaku yang menunjukkan tanda dan gejala social anxiety disorder, antara lain:

1. Merasa takut secara intens di tempat umum yang ramai, dimana Anda tidak mengenal satu orang pun.
2. Takut pada situasi di mana Anda sedang diperhatikan atau dinilai
3. Khawatir kalau akan mempermalukan diri sendiri
4. Ketakutan bahwa orang lain akan melihat bahwa Anda terlihat cemas
5. Kecemasan yang mengganggu rutinitas harian, pekerjaan, sekolah atau kegiatan lain
6. Menghindari melakukan hal-hal atau berbicara kepada banyak orang
7. Menghindari situasi di mana mungkin akan menjadi pusat perhatian

Tanda dan gejala fisik yang menunjukkan social anxiety disorder, antara lain:

1. Tersipu
2. Berkeringat berlebihan
3. Gemetar
4. Mual
5. Perut bergejolak
6. Kesulitan berbicara
7. Suara bergetar
8. Ketegangan otot
9. Tampak kebingungan
10. Diare
11. Tangan dingin dan lembab
12. Kesulitan membuat kontak mata dengan lawan bicara

Penanganan

Penderita phobia sosial dapat kembali menjadi normal setelah menjalan terapi secara rutin yang tidak terputus. Penderita phobia social atau SAD harus menjalani tes diagnostik terlebih dahulu untuk menentukan diagnosa awal, dengan melihat skor yang diperoleh dari Clinical Global Impression Scale (CGI), Fear of Negative Evaluation Scale, atau Social Avoidance and Distress Scale. Treatment di dalam terapi diberikan untuk penderita SAD yang paling sering dikenalkan adalah cognitive-behavioural therapy. Dalam terapi yang dilakukan oleh psikolog, dalam cognitive-behavioural therapy klien diberikan ketrampilan bersosialisasi (social skills training) yang dapat dilakukan secara berkelompok atau group (self-help group), latihan dalam mengekspresikan rasa cemas secara tepat dan bagaimana mengontrolnya (exposure techniques), mengubah cara berpikir yang salah (cognitive restructuring techniques) dan teknik kombinasi exposure-cognitive restructuring.

*Pilihan obat lain

Dokter juga dapat meresepkan obat lain untuk social anxiety disorder, antara lain:

1. Antidepresan
Mungkin harus mencoba beberapa antidepresan yang berbeda untuk menemukan mana yang paling efektif dan memiliki efek samping yang paling sedikit.

2. Anti-anxiety
Salah satu jenis obat anti-anxiety yaitu benzodiazepin dapat mengurangi tingkat kecemasan. Meskipun sering bekerja dengan cepat, obat ini dapat menyebabkan kecanduan. Karena itu, obat ini sering diresepkan hanya untuk penggunaan jangka pendek. obat ini juga dapat menenangkan.

3. Beta blockers
Obat ini bekerja dengan menghalangi efek epinefrin (adrenalin). Mereka dapat mengurangi denyut jantung, tekanan darah, jantung berdebar, dan suara bergetar. Karena itu, obat ini dapat bekerja dengan baik ketika digunakan untuk mengendalikan gejala untuk situasi tertentu, seperti memberikan pidato. Obat ini tidak dianjurkan untuk pengobatan umum social anxiety disorder.

Jangan menyerah jika pengobatan tidak bekerja dengan cepat. Kemajuan dalam terapi dapat berkembang selama beberapa minggu atau bulan. Menemukan obat yang tepat untuk social anxiety disorder membutuhkan beberapa kali trial and error.

Bagi beberapa orang, social anxiety disorder dapat memudar dari waktu ke waktu, dan obat-obatan dapat dihentikan.

Referensi dari berbagai sumber

NB: Saya baru menyadari kalau hampir 60% saya mengalami gejala-gejala yang disebutkan di atas. Namun saya tidak terlalu khawatir bersosialisasi dengan orang-orang yang sudah saya kenal. Ketakutan berlebih yang saya alami adalah ketika berbicara di depan banyak orang (termasuk saat kumpul dengan teman-teman ataupun keluarga besar) dan bersosialisasi dengan lingkungan/orang baru. Padahal saya kira saya hanya mengalami demam panggung, namun ternyata ada sedikit fobia sosial (akan tetapi tidak terlalu mengganggu).

Kaulah Pilihan Hatiku

Cerpen: Kaulah Pilihan Hatiku

Aku sedang dalam perjalanan makan malam bersama Evan saat tiba-tiba klakson mobil-mobil di belakangku berbunyi dan membuyarkan lamunanku seketika itu juga. Aku tidak menyadari jika lampu lalu lintas di depanku sudah menyala hijau. Dengan segera mobilku melaju. Memang, akhir-akhir ini pikiranku sedikit kacau. Selain karena menumpuknya pekerjaanku di kantor, hal yang lebih mengganggu pikiranku adalah Evan.

Aku mulai meminggirkan mobilku saat mendekati restoran yang kami sepakati lewat telepon. Sayangnya ketika aku hendak berbelok, petugas parkir memberi isyarat bahwa parkiran sudah penuh. Terpaksa aku memilih parkiran mobil di luar dekat jalan raya. Udara terasa begitu dingin malam ini. Beruntung, saat aku keluar dari mobil hujan sudah tidak sederas sewaktu aku di perjalanan tadi.

Ku percepat langkah menuju restoran. Aku masuk sembari memandang berkeliling setiap sudut ruangan. Ternyata Evan sudah menungguku di meja nomor lima dekat dengan jendela besar yang langsung menghadap jalan raya. Aku bisa mengenalinya dari postur tubuh dan gaya berpakaiannya, walaupun ia sedang melihat ke arah jendela dan aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tampaknya ia memikirkan suatu hal sampai-sampai ia tak menyadari kehadiranku. Suara deritan kursi yang kutarik menganggetkannya.

“Hai sayang!” sapa Evan terkejut.

“Hai!” sahutku sambil duduk di kursi berhadapan dengannya.

“Bagaimana kabarmu hari ini? Kamu kelihatannya lelah sekali,” ucapnya dengan penuh perhatian.

“Iya, hari ini aku ada lembur. Jadi dari kantor aku langsung ke sini, nggak sempat pulang dulu,” jelasku datar.

“Kamu sedikit beda hari ini. Kalau lagi ada masalah, cerita aja sama aku. Ada apa sih?” tanya Evan padaku.

“Sebenarnya ada tujuan apa kamu mengajak aku makan malam di sini?” balasku tak menghiraukan pertanyaannya.

“Aku kangen banget sama kamu. Sudah lama kita nggak makan bersama karena kita terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing,” ujar Evan.

“Kamu sendiri akhir-akhir ini kemana aja? Kamu makin jarang kasih kabar,” kataku.

“Hmm.. aku,” Evan terlihat berpikir keras untuk mencari jawaban atas pertanyaanku. Ia terdiam sesaat.

“Sebenarnya kamu serius nggak sih dengan hubungan yang kita jalani sekarang?”

“Aku sedang banyak pekerjaan. Hampir setiap hari ada meeting di kantor. Maaf ya, sayang,” lanjut Evan.

“Meeting dengan siapa? Pacar barumu?” tanyaku lagi.

“Loh, kenapa kamu bicara seperti itu? Pacarku nggak ada lagi selain kamu. Cuma kamu seorang,” jelasnya padaku.

Aku bertanya dengan sedikit emosi, “Lalu kapan kamu mau melamar aku? Sejak berbulan-bulan yang lalu kamu sudah janji akan segera melamarku. Tapi mana buktinya? Cuma omong kosong.”

“Sabar Jenny. Aku hanya sedang menunggu waktu yang tepat.” ucapnya mencoba meredakan emosiku.

“Waktu yang tepat? Kapan? Kita berdua sudah bukan remaja lagi. Orang tuaku terus bertanya dan aku sendiri juga butuh kepastian Van,” jawaban Evan semakin membuat amarahku memuncak.

Evan menaruh sebuah kotak biru dengan hiasan pita merah muda di meja lalu berkata, “Aku punya hadiah untukmu. Bukalah!”

Entah, aku makin tidak mengerti jalan pikirannya. Kali ini aku tidak merasa begitu tertarik dengan kado yang ia berikan. Aku justru berpikiran bahwa hadiah itu adalah alat untuk pengalih topik pembicaraan kami. Aku hanya menghela napas panjang dengan sedikit menggelengkan kepala lalu pergi meninggalkannya.

“Tunggu Jenny!” seru Evan berlari mengejarku.

Beberapa langkah lagi aku mencapai mobil saat tiba-tiba Evan menahan lenganku dan berkata, “Jenny tunggu dulu. Apa yang sebenarnya terjadi? Aku tidak mengerti kenapa kamu tiba-tiba begitu marah seperti ini.”

“Sudahlah! Kamu nggak usah berpura-pura lagi Van. Aku sudah tahu apa yang kamu lakukan selama ini,” bentakku.

“Lakukan apa? Jangan bicara yang nggak-nggak Jen,” sahut Evan.

“Aku sudah lihat dengan mataku sendiri kalau kamu pergi dengan perempuan lain. Lalu kamu memberikan cincin pada perempuan itu,” jelasku.

“Perempuan? Cincin?” ia justru bertanya balik kepadaku.

Aku kembali menghela napas panjang dan segera meninggalkannya, namun untuk kedua kalinya ia menahanku lagi.

“Jenny, tolong terima dulu hadiah ini. Ini semua pasti salah paham, aku nggak…”

Sebelum Evan menyelesaikan ucapannya aku memotong, “Cukup, aku nggak mau dengar alasan apapun darimu. Oke, aku terima hadiah ini karena ini aku anggap sebagai kado terakhirmu. Dan mulai sekarang kita putus!” ucapku sambil merampas kado itu dari tangan Evan kemudian melemparkannya ke jalan raya.

Sempat ku melihat ekspresi wajahnya yang sangat shock dan tak mampu berkata-kata sebelum akhirnya aku berlalu pergi. Aku percepat langkah menuju mobil tanpa mempedulikannya lagi. Mobilku terus melaju secepat yang aku bisa. Sesekali dari kejauhan aku berusaha melihat Evan melalui spion mobilku, hanya untuk memastikan apakah ia akan membuntutiku dengan mobilnya atau tidak. Tetapi pandanganku terhalang oleh mobil-mobil dan orang-orang yang berkerumun tepat di jalanan depan restoran. Sepertinya sedang terjadi kecelakaan. Mungkin hal itu yang menghambat Evan untuk segera mengejarku, atau kemungkinan yang lain adalah dia benar-benar sudah tidak mencintaiku lagi. Jika kemungkinan yang kedua itu benar, maka keputusan yang aku pilih untuk mengakhiri hubungan kami ini sudah tepat.

Evan adalah kekasihku. Kami sudah menjalin hubungan ini sejak beberapa tahun lalu. Saat itu aku masih semester awal perkuliahan, sedangkan ia mahasiswa tingkat tiga. Selama ini hubungan kami berjalan lancar, nyaris tak ada masalah yang berarti. Tetapi beberapa hari yang lalu ketika aku sedang berada di sebuah mall, aku melihatnya sedang bersama perempuan lain. Herannya, mereka berdua terlihat akrab sekali. Aku pun memutuskan untuk mengikuti mereka diam-diam. Awalnya mereka menuju toko pakaian, di sana kelihatannya Evan membelanjakan gadis itu banyak sekali barang. Lalu mereka makan siang di restoran. Setelah pelayan mencatat pesanan dan meninggalkan meja mereka, Evan mengeluarkan sebuah kotak merah kecil dari sakunya. Perempuan itu tampak terkejut dan kebahagiaan terlihat di raut wajahnya. Ternyata itu adalah sebuah cincin. Melihat kejadian itu, aku langsung melangkah pergi tanpa mempedulikan pelayan yang sedari tadi berdiri di sampingku bersiap untuk mencatat pesanan. Rasa kesal, marah, sedih, kecewa bercampur aduk menyesakkan dada. Tentunya, moment menyakitkan itu tak akan pernah hilang dari ingatanku. Selama ini aku terlalu percaya, bahkan aku tak pernah menaruh rasa curiga padanya. Tetapi kenyataan berkata lain.

Setiba di rumah, aku menuju kamar dan langsung merebahkan diriku di tempat tidur. Tanganku berusaha mengambil ponsel di dalam tas yang ada di sisiku. Aku tak melihat apapun di layar ponselku, tak ada pesan ataupun panggilan telepon. Aku ingin meredakan emosiku sejenak dan mencoba untuk menenangkan diri, jadi kuputuskan untuk mematikan ponselku. Kini aku tak ingin mengharapkan apapun lagi darinya karena itu hanya akan membuat hatiku semakin terluka. Padahal selama ini Evan yang kukenal adalah pria yang santun, dan juga perhatian, terlebih kepada orang yang dikasihinya. Namun, di sisi lain Evan bukanlah tipe orang yang banyak bicara, ia lebih menjadi ‘pendengar setia’ dan kurang terbuka. Selalu ada saja hal yang ia tutup-tutupi, apalagi jika aku bertanya masalah keluarganya.

Dua hari kemudian . . .

Seseorang mengetuk pintu rumahku dan segera aku membukakannya. Betapa terkejutnya aku, melihat sesosok gadis yang berdiri di depanku adalah perempuan yang pergi bersama Evan saat itu. Wajahnya cantik, namun tatapannya membiaskan kesedihan. Matanya pun terlihat bengkak seperti ia telah menangis semalaman.

“Apa benar ini rumah Jenny?” tanyanya lirih.

“Ya benar, saya sendiri. Kamu siapa?” balasku dengan cepat.

“Aku Felish, adik tiri dari Kak Evan. Aku ada berita duka yang harus aku sampaikan ke Kak Jenny,” ujarnya.

“Hah, kamu adik tiri Evan?” tanyaku memastikan bahwa aku tidak salah dengar, aku benar-benar kaget dan tak percaya. “Memang ada berita duka apa?’ sambungku.

Gadis itu mengangguk pelan kemudian berkata, “Kak Evan mengalami kecelakaan, dia menjadi korban tabrak lari. Kondisinya kritis dan semakin memburuk. Kak Evan meninggal dunia pukul 22.00 kemarin. Keluarga sudah mencoba mengirim pesan dan menelepon Kak Jenny tetapi ponselnya tidak aktif.”

Kepergian Evan yang mendadak dan ditambah pula dengan pernyataan bahwa Felish sebenarnya adik tiri Evan, semakin menyayat hatiku begitu dalam. Kenyataan ini meremukkan serta menghancurkan hati dan perasaanku hingga menjadi serpihan yang tak bersisa. Air mata pun tak kuasa ku bendung lagi.

“Tapi kenapa selama ini Evan tidak mau bercerita padaku kalau ia mempunyai adik tiri?” tanyaku.

“Selama ini Kak Evan memang tidak pernah mau memberi tahu pada siapapun tentang masalah keluarganya. Ia menganggap bahwa ini adalah urusan pribadi yang tak seharusnya diceritakan pada orang lain. Tapi ia pernah bilang padaku kalau ia akan menceritakan semua ini pada Kak Jenny jika kalian berdua sudah menikah nanti,” terang Felish padaku.

Dalam keadaan yang masih shock, aku hanya terdiam mendengar penjelasan Felish. Ternyata semenjak kedua orang tua Evan bercerai, ayahnya menikah lagi dengan ibu dari Felish dan kemudian mereka tinggal di luar negeri. Begitu pula dengan Ibu dari Evan, yang beberapa tahun setelah perceraian menikah dengan pria lain. Aku baru tahu ternyata selama ini yang ku kenal dan sering ku temui di rumah Evan bukanlah ayah kandungnya.

“Walaupun masing-masing dari orang tua kami sudah tidak saling berhubungan lagi, tapi aku justru semakin dekat dengan Kak Evan. Ia selalu ku anggap sebagai kakak kandungku. Karena aku merasa bahagia sekali bisa mempunyai kakak sebaik dia. Setiap liburan aku selalu kemari untuk bertemu dengannya.” sambung Felish.

Aku mengusap air mataku yang terus mengalir selama mendengar penjelasan dari Felish. Kemudian Felish melanjutkan perkataannya, “Beberapa hari yang lalu Kak Evan menemaniku berbelanja ke mall. Sebelum pulang ia mengajakku makan siang, pada saat itu ia menunjukkan padaku sebuah cincin dan ia meminta pendapatku mengenai cincin itu. Lalu dia berkata kalau cincin itu akan ia berikan pada gadis pilihan hatinya.” Felish berhenti sejenak.

“Maaf kak, aku jadi bercerita panjang lebar. Aku harus segera pulang untuk membantu mempersiapkan upacara pemakaman Kak Evan siang ini. Ini untuk Kak Jenny. Sampai jumpa di pemakaman!” Felish menyerahkan kado dan terburu-buru pergi.

Seketika itu juga aku teringat bahwa ini adalah kado dari Evan saat kami terakhir kali bertemu. Firasatku mengatakan bahwa ia meninggal karena berusha mengambil kado ini yang ku lempar ke tengah jalan. Terlihat dari bentuknya yang sedikit rusak dan terdapat bekas cipratan darah. Aku membuka kado itu dan menemukan sebuah album kecil berisi foto-foto kenangan kami berdua. Aku membuka tiap halamannya dengan perlahan. Pada beberapa foto terdapat tulisan di bawahnya:

‘Saat bertemu aku merasa tak peduli. Namun saat kau pergi aku selalu menantimu. Apa ini yang namanya cinta?’

‘Cinta tak harus berakhir bahagia, karena cintaku kepadamu tidak akan pernah berakhir. Tak akan ada yang abadi selain perasaan ini, karena aku mencintaimu sejak pertama kali mengenalmu, kemarin, hari ini, esok dan seterusnya.’

‘Apabila suatu saat nanti kamu hancurkan aku dengan cintamu, maka akan kucintai kamu dengan kepingan yang tersisa.’

‘Aku tidak tahu sampai kapan usiaku, tapi aku punya keyakinan cintaku akan ada selamanya untukmu. Dan jika Tuhan masih memberiku kesempatan untuk hidup lebih lama lagi, aku hanya ingin melalui hidup bersama denganmu.’

Kemudian pada halaman selanjutnya aku mendapati tulisan ‘Will you marry me?’ dengan terselip sepasang cincin yang bertuliskan nama kami masing-masing.

Tentu saja aku akan memberikan jawaban ‘ya’ untuknya. Tetapi semuanya sudah terlambat, Evan telah telah pergi meninggalkanku untuk selamanya. Kini tinggal penyesalan yang akan terus membayangi hidupku.

Lepas Masa Lalu

Cerpen: Lepas Masa Lalu

Sepulang sekolah Eva sangat terkejut melihat keadaan rumahnya yang sudah kosong. Hanya terlihat lemari pakaian dan meja belajarnya saja yang tetap tinggal. Eva segera mencari mamanya yang sedang mengemasi barang-barang.
“Siang, Ma,” sambil mencium tangan mamanya “Kita pindah hari ini?” Tanya Eva.
Dengan senyum mama Eva menjawab “Iya, Eva. Kita pindah sekarang. Sehabis kamu ganti pakaian, segera kemasi barang-barang mu ya !”
“oke ma” Sahut Eva.
Kejadian yang tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Evanna Lynch terjadi hari ini. Ia harus rela meninggalkan rumah kelahirannya. Selama 15 tahun ia tinggal di sana, sangat sulit bagi Eva untuk meninggalkan rumah tercintanya.
“Gue belum sanggup ninggalin rumah ini, rumah ini saksi bisu kehidupan gue. Menangis, tertawa, susah, senang, semuanya ada di rumah ini. Memang, rumah gue yang baru jauh lebih bagus dari rumah ini, tapi ini rumah kenangan. Yaahh.. tapi mau bagaimana lagi?! Ini kan rumah dinas. Kalo sekarang belum pindah, suatu saat nanti gue pasti akan pindah. Tapi gak apa apa lah, lebih cepat lebih baik.” Eva berbicara sendiri.
Eva mengeluarkan seluruh koleksi bukunya yang berselimutkan debu setebal kurang lebih 1 cm dari dalam lemarinya. Eva memang memiliki perpustakaan pribadi di rumahnya, namun buku-buku Eva nyaris tak tersentuh sedikitpun. Satu per satu ia bersihkan bukunya dari butiran debu yang menempel. Eva rela mengeluarkan uang untuk membeli beberapa novel karya penulis ternama yang cukup mahal. Namun setelah membeli buku-buku tersebut, Eva malas untuk membacanya. Sehingga itu hanya membuat penuh perpustakaan pribadinya.
Membongkar semua barang milik Eva, seakan telah menghidupkan pikirannya untuk kembali mengenang masa lalu. Semua kejadian yang nyaris terlupakan oleh Eva, kembali muncul di benaknya. Berbagai kenangan dari yang terindah sampai kenangan terpahit, Eva dapat mengingatnya dengan jelas. Ya, semua kenangan itu terjadi di rumah itu. Eva tidak dapat membendung air mata kesedihannya, yang seketika itu tumpah dan membasahi pipinya.
Pukul 16.30 Eva telah selesai mengemasi seluruh barang-barangnya, lalu ia pergi mandi & setelah selesai ia bergegas menemui mamanya.
“Lho ma, papa mana?” Tanya Eva
“Papa masih memindahkan barang-barang lain ke rumah yang baru” jawab mama Eva
“Ma, aku bingung nih, kan SMP ku jauh banget dari rumah yang baru. Masa aku berangkat jam 04.00?” Tanya Eva bingung
“Tidak perlu, Eva. Papa & mama sudah memutuskan untuk mencari kontrakan di dekat sekolahmu. Jadi oma, opa, dan papa tinggal di rumah yang baru, sedangkan mama akan menemanimu tinggal di rumah kontrakan nanti.” Jelas mama Eva.

***

“Semuanya sudah siap? Yakin tidak ada yang tertinggal?” Tanya Papa Eva
“Sudah semua koq, Pa.” sahut Eva
“Ayo berangkat.” Ucap mama Eva.
Jumat, pukul 21.30 tepat, Eva terakhir kali menjejakkan kakinya di rumah tercintanya. “Selamat tinggal rumahku tersayang. Biarpun aku tak dapat memilikimu selamanya, tapi kenanganmu akan selalu ada dalam hatiku !” hati Eva menangis, matanya berkaca-kaca. Mobil Eva pun berlalu meninggalkan rumah kenangan itu untuk selamanya.
Eva dan keluarganya tiba di rumah yang baru sekitar pukul 23.00. Rumahnya masih berantakan, karena barang-barang masih belum dirapihkan. Kemudian Eva membantu orang tuanya mengatur barang-barang hingga semuanya rapih. Setelah selesai, Eva langsung menuju ke kamarnya di lantai 2. Dalam hitungan menit saja ia sudah tertidur pulas.
Keesokan harinya Eva, mama & papanya pergi ke rumah kontrakan di dekat sekolah Eva. Betapa kagetnya Eva melihat rumah kontrakan yang akan ditempatinya. Kira-kira hanya berukuran 3X7 meter. Ketika Eva memasuki rumah kontrakan tersebut, yang ada di pikirannya hanya masalah, masalah, dan masalah. Ia merasa ini akan memperburuk keadaan.
“Ma, disini rumahnya sempit banget. Palingan rumah ini 1 per 10 rumah kita yang sebenernya. Barang-bararangnya juga terbatas. Gak ada komputer, AC, kulkas, televisinya Cuma 21 inch. Memangnya gak ada kontrakan yang lebih besar dari ini? Aku gak bisa tinggal disini.” Protes Eva pada mamanya.
“Eva, kan rumah ini nggak cukup untuk komputer, AC, kulkas, dan TV yang 29 inch. Jadi lebih baik barang-barang itu mama taruh di rumah sana aja. Dan seharusnya kamu harus mensyukuri apa yang telah kamu dapatkan. Memang, orang-orang yang kehidupannya lebih mapan & lebih sukses banyak, tetapi masih banyak juga orang-orang terlantar di jalanan yang mengharapkan sesuap nasi dari para dermawan di sekelilingnya.” Kata mama Eva lemah lembut.
Evanna adalah seorang anak yang sulit untuk mengucap syukur dengan apa yang diterimanya. Padahal apa yang ia inginkan selalu di turuti oleh orang tuanya. Mulai dari handphone, laptop, motor sampai kartu kredit pribadi. Maklum, ia anak semata wayang. Namun, harta yang berkelimpahan dan kasih sayang yang terlalu berlebihan menjadikan Eva seorang anak manja, egois & mudah mengeluh. Sampai saat ini pun Eva masih belum bisa merubah sifat buruknya itu.

***

Minggu pagi yang berawan, ketika Evanna sedang duduk diteras menikmati udara pagi yang sejuk, ia mendengar suara pertengkaran. Tampaknya suara itu berasal dari rumah mewah yang berada tepat di sebelah rumah kontrakan Eva. Kemudian keluarlah seseorang yang menurut Eva tampan. “wah, ganteng banget tuh cowok. Kenalan ah, siapa tau bisa jadi temen baik.” Lalu ia bergegas mencari orang tadi. Karena terburu-buru, tanpa sengaja Eva menabrak orang tersebut. Keduanya pun jatuh.
“Jalan yang bener kenapa? Kalo jalan jangan nunduk terus. Hp gue jatuh noh !” ucap orang itu sambil mengambil hpnya yang terjatuh.
“Maaf, gue kan gak sengaja.” Kata Eva sambil membetulkan pakaiannya.
Lalu Eva segera bangkit & mengulurkan tangannya sambil berkata “oya, gue evanna lynch, panggil aja Eva. Gue orang yang baru pindah di sebelah rumah lo !”
“Nama gue gak beda jauh koq sama nama lo. Evanda Vincera, alias Evan.” Sahut Evan sambil menjabat tangan Eva.
{Tiba-tiba Eva teringat, kejadian beberapa minggu yang lalu. Ketika ia sedang menunggu taxi di pinggir jalan raya sambil sms-an. Lalu seseorang berkata “awas” pada Eva & menarik tangan Eva hinga terjatuh & hpnya terlempar. “lo siapa sih? Asal narik tangan gue sampe jatoh. Liat nih handphone gue rusak!” Eva marah-marah. “emangnya lo gak liat tadi. Lo tadi nyaris keserempet motor tau” jawab orang itu dengan kesal. “aargh, omong kosong lah !” kata Eva sambil pergi meninggalkan orang tadi. “Ditolong bukannya terima kasih, malah ngamuk-ngamuk. Aneh tu cewek”} Dan kini Eva baru menyadari, jika orang itu adalah Evan.
“kalo gak salah, lo itu kan pernah gue tolongin yang waktu itu hampir keserempet?” ternyata Evan juga mengingatnya.
“Iya, itu emang gue. Tapi gara-gara lo hp gue jadi rusak tau !” sahut Eva
“Ya udah lah, gak usah dibahas lagi. Sekarang gue udah kena imbasnya koq, nih hp gue mati!” kata Evan sambil senyum-senyum gak jelas.
Lalu, mereka melanjutkan pembicaraannya sambil duduk-duduk di taman tepat di depan rumah Evan.
“Evan, lo sekolah dimana?” Tanya Eva
“Gue sekolah di SMU Virginia, sekolah khusus cewek. Sebenernya gue minta di SMU biasa. Tapi ortu gue maksa.”
“Emang bisa ya?” Eva bingung
“Bisa apanya?” Evan balik nanya
“lo kan cowok, koq masuk sekolah khusus cewek?!” Eva heran
“Jadi dari tadi lo nganggep gue cowok, gue tu cewek. Sama kaya lo !” sahut Evan agak kesal
Eva sangat terkejut setelah mengetahui bahwa Evan adalah perempuan, sangat sulit di percaya. Dilihat dari penampilan, gayanya, dan prilakunya, cowok banget !
“iya, soalnya lo ganteng banget sih Van !” kata Eva jujur
“ahh, gue dah bosen denger pujian itu, hehhe..” sahut Evan
“huh.. sombong, oya tadi siapa yang bertengkar di rumah lo?” Tanya Eva
“yah.. biasalah, gue ama nyokap. Gara-gara gue pulang ke rumah jam 11 malem.” Jawab Evan
“kemana aja lo? Jalan sama pacar ya?!” ledek Eva
“bukan, gue ke warnet. Main game online. Lagian selama 16 tahun di bumi, gue belum pernah punya pacar. Cowok-cowok pada takut sama gue. Malahan waktu itu ada cewek yang naksir ama gue, karena dia gak tau kalo gue sebenernya cewek.” Jelas Evan
“Kenapa ortu lo maksa nyuruh sekolah di SMU khusus cewek?” Tanya Eva
“ortu gue katanya pengen punya anak cewek normal, yang gak setengah cewek setengah cowok kaya gue ini. Tapi percuma aja, selama gue sekolah di situ sama sekali gak ada perubahan tuh.” Jawab Evan
“emang seburuk apa sih sifat lo, sampe segitunya amat?” Tanya Eva lagi
“waktu SMP kemaren gue sering banget masuk BP, kena masalah terus. Mulai dari ketauan ngerokok, malakin adek kelas, berantem sama temen, dan ikut-ikutan tawuran. Karena sifat gue itu, akhirnya gue gak punya temen cewek. Rata-rata temen gue cowok semua.” Kata Evan tanpa rasa bersalah sedikit pun
Eva hanya terdiam & heran mendengar penjelasan Evan.
“eh, neng jangan ngelamun terus. Ntar kesambet lho !” kata Evan seraya menepuk-nepuk pundak Eva. “gak perlu takut koq, gue yang sekarang gak terlalu parah kaya dulu.” Lanjut Evan.
Teryata dibalik sifatnya itu, Evan juga memiliki sifat jail. Evan selalu mencari kesempatan untuk menganggu teman atau tetangga sebayanya pada malam minggu, karena biasanya pada waktu itu sang kekasih datang menjemput mereka dengan mengendarai motor. Evan selalu menggangu mereka dengan cara mengempeskan ban motor milik kekasih temannya tersebut, atau memukul-mukul tiang listrik sambil menyanyi-nyanyi gak jelas. Bahkan tak jarang ia melepaskan anjing peliharaannya yang galak. Sehingga membuat kekasih temannya itu tidak berani kembali, karena trauma berkepanjangan akibat di kejar anjing milik Evan. Eva tertawa geli mendengar cerita Evan tentang dirinya sendiri. Kini giliran Eva menceritakan seluk beluk kehidupannya. Alasan mengapa ia pindah juga tak lepas dari pembicaraannya. Hanya beberapa menit saja Eva & Evan sudah bisa mengakrabkan diri. Ketika mereka berdua saling berbagi cerita satu sama lain, tanpa terasa waktu menunjukan pukul 11.30.
“udah dulu ya, Van. Gue mau pulang nih !” kata Eva
“yaudah, gih sana. Kerjaan lo di rumah masih banyak, nyuci, strika, nyapu, ngepel, beresin rumah, masak. Kalo udah di gaji, kerjanya yang rajin ! Lagian gue mau ke warnet dulu.” sambung Evan
“enak aja lo, emangnya gue pembantu apa?” sahut Eva kesal
“iya-iya neng bercanda, jangan marah-marah terus. Ntar cepet tua lho?!” ledek Evan
Eva kembali ke rumahnya & Evan pergi ke warnet mengendarai motor king hitam milik kakaknya, Alex. Sambil berjalan menuju rumahnya, ia berkhayal tingkat tinggi. Eva membayangkan betapa kerennya jika Evan seorang cowok, memang sifatnya sangat tidak patut untuk ditiru. Namun, Evan tampan, pandai bermain basket, gitaris & backing vocal bandnya. “Andaikan Evan cowok, gue mau koq jadi pacarnya. Hehhe..” kata Eva dalam hati “koq gue jadi ngelantur begini sih, mungkin belum sarapan kali ya ?! ah lanjut.” pikir eva

***

Dan akhirnya Eva pun tinggal di rumah kontrakan itu dengan semangat tanpa ada beban di pikirannya. Berkat Evan yang selalu menyemangati hidupnya. Evan pernah berkata “Eva, hidup lo itu cuma sekali jangan di buat susah. Biarpun ada masalah, jangan di bawa repot deh. Ntar lo jadi stres sendiri. Enjoy aja, Va!”
Karena hubungan persahabatan yang makin erat, masing-masing dari mereka saling memberi masukan satu sama lain. Eva sekarang bukanlah anak manja & egois, ia sudah lebih bisa mensyukuri hidupnya & lebih mandiri. Begitu pula dengan Evan, memang sifatnya yang tomboy tidak bisa dirubah, tapi ia sekarang sudah berhenti merokok, dan tidak pernah membuat ulah lagi di sekolah maupun di sekitarnya.
Selama kurang lebih 6 bulan tinggal di sana, Eva sudah menganggap Evan sebagai kakaknya sendiri. Eva pun dapat lulus ujian dengan nilai tertinggi di sekolahnya, karena semangat yang di berikan oleh kedua orang tuanya dan sahabat terbaiknya Evan. Ketika Eva telah lulus SMP, ia pulang ke rumah sebenarnya & meninggalkan Evan. Walaupun demikian, kenangan Evan tetap tersimpan di hati Eva.

***

Tiga bulan kemudian . . .
“gue dah telat ke tempat bimbel nih?” ucap Eva setengah berlari sambil melirik arlojinya
Tiba-tiba Eva menabrak seseorang yang baru turun dari mobil sambil membawa tumpukan kardus setinggi leher. Gubrak, semua isi kardus tumpah berserakan.
“Jalan yang bener dong !” ucap orang itu, yang ternyata adalah Evan.
“lho Evan?!” ucap Eva kaget
“lo lagi, lo lagi. Kenapa sih tiap ketemu kejadiannya pasti kaya begini !?” sahut Evan
“mau kemana, koq bawa barang-barang segitu banyak?” Tanya Eva
“gue mau pindah rumah nih, soalnya rumah gue yang lama mau di bangun pertokoan. Sekarang gue tinggal perumahan Diamond Residence blok A no. 10. Lo sendiri?”
“berarti kita tetanggaan dong, gue tinggal di perumahan Diamond Residence juga, blok A no. 12 !” jawab Eva gembira “gue buru-buru mau bimbel nih Van. Gue pergi dulu ya !” lanjut Eva
“yo’i,” sahut Evan. Pada akhirnya, Eva & Evan kembali bertetangga, bahkan Evan menjadi kakak kelas Eva karena mereka bersekolah di SMA yang sama.