Liburan yang Berharga

Cerpen: Liburan yang Berharga

Angin senja masuk melalui kaca pintu mobil yang sengaja kubuka setengah, meniup sepoi-sepoi rambutku. Aku duduk di kursi mobil bagian tengah di pinggir sebelah kiri. Kulihat kilasan cepat bayangan pepohonan yang tumbuh di tepi jalan dengan semburat jingga matahari yang kembali ke peraduannya sebagai latar belakang. Papaku mengemudikan mobil dengan kecepatan rata-rata 70 km/jam. Mamaku duduk di kursi depan dan adikku berada di sebelahku sedang disibukkan oleh handphonenya. Mobil-mobil berusaha saling mendahului seperti sebuah perlombaan balap.

Saat ini aku dan keluarga berada di jalan tol Banten arah tujuan Merak. Perjalanan kami menuju pelabuhan Merak terbilang lancar tanpa kendala. Rencananya kami akan menghabiskan malam pergantian tahun di Lampung, rumah mamaku dulu sewaktu SMA. Ini adalah kali pertamaku kesana.

Rasa bosan tak bisa terelakkan dari pikiranku. Sudah hampir 2 jam, mobil ini terus melaju. Aku menyandarkan diri ke kursi seraya melirik jam tanganku, ternyata sudah pukul 17.15. Kecepatan mobil mulai berkurang saat memasuki pintu tol terakhir. Setelah membayar dan memberikan karcis pada petugas, mobil Panther hijau ini kembali melaju.

Tak berapa lama, kami pun tiba di kawasan dermaga. Dari kejauhan aku sudah dapat melihat sebuah kapal besar yang nampaknya mampu menampung ratusan orang. Sinar matahari terbenam memantul di laut lepas dengan ombak yang bergulung-gulung menghantam karang. Pemandangan ini jarang sekali kudapatkan, sungguh luar biasa.

Kapal Laut Teduh II adalah kapal yang akan membawa kami menuju pelabuhan Bakauheni, Lampung. Perjalanan sekitar dua setengah jam di atas kapal tak kalah menakjubkan. Kulihat matahari semakin lama semakin rendah, dan kemudian menghilang di balik deretan pulau-pulau yang kami lalui di Selat Sunda.

Lautan berubah menjadi hitam pekat. Pantulan sinar-sinar lampu dari beberapa kapal di seberang sana memberi warna. Aku turun dari mobil, berjalan ke arah pagar tepi pembatas kapal agar aku bisa melihat pemandangan itu dengan jelas. Angin malam bertiup kencang, aku berusaha memegangi rambutku yang berantakan tak keruan dengan sebelah tangan dan tanganku yang lain memegang pagar besi dengan erat.

Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dari belakang, ternyata itu mamaku. Ia menyuruhku untuk kembali masuk ke mobil karena angin yang terlalu kencang. Aku memohon padanya untuk memperbolehkanku tinggal beberapa saat lagi, dan mamaku mengijinkan.

Tak berapa lama, aku kembali ke mobil. Mungkin karena intensitas ombak yang sedikit bertambah, kini aku merasa mual akibat kapal yang terombang-ambing. Aku menyandarkan diri sambil memejamkan mataku. Kupasang earphone kemudian ku mainkan lagu My Heart Will Go On – Sountrack Titanic – kurasa lagu ini sesuai dengan moment sekarang. Beberapa menit berlalu, aku pun tertidur.

Cahaya-cahaya lampu jalan meyilaukan, membuatku membuka mata. Aku terbangun dari tidur singkatku, melepas earphone yang sedari tadi terpasang di telinga. Kucoba untuk mengumpulkan konsentrasi, dan melihat keluar kaca mobil. Hanya terlihat bukit-bukit yang tinggi ditumbuhi pepohonan dan semak belukar yang tumbuh liar di sisi kanan dan kiri. Kegelapan membuatnya menjadi terlihat samar-samar.

Aku tanya pada adikku yang berada di sebelah. Nampaknya ia sangat berantusias dengan perjalanan ini. Ia tidak terlihat letih sedikit pun sejak awal keberangkatan. Ia memberitahuku bahwa ini sudah berada di Lampung Tengah. Kulihat jam, pukul 23.50. Ternyata aku tertidur cukup lama, padahal aku ingin sekali melihat Menara Siger, di Lampung Selatan secara langsung. Yah, setidaknya perjalanan pulang nanti aku masih bisa melihatnya, toh bangunan itu tidak akan kemana-mana.

Papaku memutuskan untuk beristirahat karena sudah kelelahan mengemudi. Kami berhenti di parkiran sebuah rumah makan Padang bernama ‘Taruko Jaya’, dan beristirahat di dalam mobil sampai esok hari.

***

Paginya, sekitar pukul 5.20 saat keadaan jalan masih berkabut dan titik-titik embun memenuhi kaca mobil, kami mulai kembali bergerak melanjutkan perjalanan yang masih sekitar 25 km lagi. Walaupun jaraknya masih cukup jauh, kami tidak perlu memakan waktu lama untuk sampai ke tempat tujuan, karena bebas macet. Jauh berbeda dengan Jakarta. Baru saja keluar komplek perumahan, antrian panjang kendaraan sudah terlihat memadati jalan protocol, sehingga waktu berjam-jam terbuang sia-sia hanya untuk menempuh jarak beberapa km saja.

Pukul 7.00 pagi, terik matahari sudah mulai muncul. Kulihat sebuah bangunan sekolah yang terkesan tua. Beberapa bagian cat di tembok sudah mengelupas, halaman sekolah masih berupa tanah yang ditumbuhi rumput liar. Sebuah papan kayu yang mulai lapuk bertuliskan ‘SMAN Jalawiyata’, aku teringat dengan sekolah yang pernah diceritakan mama padaku. Aku mencoba bertanya untuk memastikan, dan ternyata benar. Itu memang sekolah mamaku semasa SMA dulu. Tak berapa lama setelah melewati bangunan sekolah tersebut, kami berbelok ke kanan, masuk sebuah pemukiman penduduk.

Keadaan lingkungan jauh sekali dengan yang ada dalam bayanganku. Jalanan terjal yang masih tanah dan kupikir pasti akan berlumpur saat turun hujan. Di sebelah kanan terlihat rumah penduduk sangat sederhana terbuat dari papan kayu yang di kapur putih, semua berbentuk seragam, dan jarak antar rumah satu dengan lainnya cukup jauh, sekitar 150 meter. Beberapa warga yang sedang berada di halaman, langsung menghentikan pekerjaannya dan memperhatikan mobil kami yang lewat. Bisa kukatakan, ini termasuk daerah yang masih tertinggal.

Perkebunan tebu yang sangat luas berada di sisi kiri sepanjang perjalanan menuju rumah kami yang masih sekitar 6 km lagi. Sekitar 30 menit berlalu, kami tiba di sebuah rumah yang berbentuk sama dengan yang kulihat di sepanjang perjalanan tadi. Terlihat seorang wanita yang hampir sebaya dengan mamaku membukakan pintu. Ternyata ini bukan rumah kami, rumah kami berada di sebelah sana lagi. Alasannya karena rumah kami sudah tidak layak huni, maklum sudah 4 tahun terakhir tak ada yang menjaga & merawatnya.

Mama bilang setiap kali kemari, rumah tetangga inilah yang dijadikan persinggahan. Dan mereka tidak keberatan dengan kedatangan kami, kami dianggap seperti saudara. Di rumah itu tinggal keluarga inti, yaitu om Dedi, tante Lita – adik kelas mamaku sewaktu SMA – dan seorang anak laki-laki yang sepantaran denganku, namanya Rizki. Kami akan menginap sampai tanggal 1 Januari dan pulang esoknya, lebih tepatnya 3 hari. Karena papaku seorang polisi jadi tidak boleh mengambil cuti terlalu lama.

***

Namun, berada di sana selama 3 hari serasa 3 bulan bagiku. Aku tahu, adikku pasti juga merasakan hal yang sama, karena ia anak yang benar-benar mengutamakan kebersihan. Bukannya bermaksud menghina, tapi aku tidak terbiasa hidup seperti ini. Kamar mandi yang terpisah dari rumah, terletak sekitar 15 meter di halaman belakang berada di dekat kandang ayam dan bebek. Ditambah lagi aku harus mengambil air dengan cara menimba di sumur terlebih dahulu. Mungkin karena sudah beberapa hari tidak turun hujan, airpun terlihat sangat dalam dan nyaris kering, belum lagi airnya yang keruh.

Di rumahku yang hanya tinggal memutar keran, lalu air jernih mengalir dengan sendirinya, tanpa aku harus bersusah payah untuk mendapatkannya saja aku terkadang malas mandi. Apalagi seperti ini, membuatku berpikir dua kali kalau ingin mandi.

Malam pergantian tahun baru di sini pun juga tak ada yang istimewa. Kami hanya membuat sebuah api unggun di halaman depan dengan kayu yang Rizki kumpulkan siang tadi. Sebenarnya, kami berniat untuk memanggang beberapa makanan seperti ayam, ikan ataupun jagung. Tapi karena letak pasar yang berada di pusat kota sekitar 7 km dari sini, rencana itupun batal. Sial! batinku.

Rizki bilang ia dan keluarganya tak pernah merayakan tahun baru, setiap malam pergantian tahun ia habiskan seperti malam-malam biasa. Ini pertama kali ia merayakannya, itupun karena adanya kedatangan keluargaku. Ayahku menyalakan radio di mobilnya dan mengencangkan volume suaranya agar terdengar sampai luar. Tak berapa lama, sang penyiar radio mengajak seluruh pendengar untuk menghitung mundur dari 5.. 4.. 3.. 2.. 1..

Terdengar suara sorak-sorai, tiupan terompet dan letusan pesta kembang api kemudian diakhiri dengan tepuk tangan yang meriah dari radio. Aku dapat membayangkannya dengan jelas, persis ketika aku dan keluargaku merayakan pergantian tahun yang lalu di rumah. Sedangkan, dimana aku berada saat ini hanya terasa bagai kota mati. Tak ada suara orang yang berteriak ‘Happy New Year 2010’, atau suara tiupan terompet yang memekakkan telinga, maupun cahaya ratusan kembang api yang menghiasi langit malam. Hanya krik krik krik, suara jangkrik. Sunyi senyap.

Aku mengambil ponsel dari saku jaket yang kukenakan, berniat untuk mengirim pesan singkat ucapan selamat tahun baru pada orang-orang terdekat. Tak sengaja, kudapati sebuah tanda X yang berada di sudut kiri atas layar. Bagus sekarang tak ada sinyal! gumamku. Akhirnya dengan terpaksa, ku urungkan niatku.

***

Pada hari kepulangan kami, ada perasaan sedih yang tak dapat kupungkiri. Keluarga di sini sangat baik, mereka mau menerima kami dengan senang hati tanpa terbebani. Walau sebenarnya keadaan mereka sangat sederhana. Rizki juga merasa kehilangan karena ia sudah berteman akrab dengan adikku yang berusia selisih 1 tahun dibawahnya. Di rumah, Rizki tak memiliki teman yang sepantaran, hampir semuanya sudah bekerja. Selain itu, ia juga harus membantu orang tuanya bekerja di ladang setiap pulang sekolah, sehingga ia tak memilikki waktu bermain.

Tante Lita menyuruh kami untuk membawa rambutan yang ada di halaman, kami menolak tapi ia terus memaksa. Katanya rambutan ini sedang musim panen jadi terlalu banyak untuk mereka sendiri, jika ingin diberikan pada tetangga lainnya mereka masing-masing sudah punya. Akhirnya bagian belakang mobil kami yang kosong kini terisi penuh dengan rambutan yang kira-kira sebanyak 45 kg.

Pukul 7.45 kami memulai perjalanan kembali menuju Jakarta. Ketiga orang yang kami anggap sebagai keluarga kami melambaikan tangan tanda perpisahan. Mobil kami bergerak makin jauh, bayangan mereka menghilang di balik pepohonan saat mobil berbelok.

     Ini adalah liburan yang bisa kubilang membosankan, namun sangat berharga. Aku bisa mengerti bahwa masih banyak orang yang garis kehidupannya berada di bawah. Sedangkan aku selalu melihat ke atas, berusaha menggapai apa yang tak mungkin untuk ku dapatkan sekarang. Aku kurang bersyukur.

     Ternyata mamaku dulu juga pernah hidup di masa sulit, ia harus menempuh perjalanan sejauh 6 km untuk ke sekolah dengan berjalan kaki. Tapi ia tidak pernah mengeluh. Dan seharusnya aku bisa meneladani sosoknya, apalagi aku ke sekolah dengan naik angkutan kota, tidak perlu susah payah berjalan kaki. Kini aku berjanji untuk lebih giat lagi dan tidak mengeluh, juga lebih bersyukur dengan keadaanku saat ini yang serba kecukupan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s