Pengalaman Berkesan

Saat SMA kemarin, saya mendapat tugas dari guru Bahasa Indonesia untuk menulis sebuah cerpen berdasarkan pengalaman pribadi. Dan inilah pengalaman saya saat menghadapi UN di SMP yang penuh perjuangan (melawan penyakit) namun berbuah manis. Saya yakin itu semua karena adanya campur tangan Tuhan yang telah menyembuhkan saya dan memampukan saya untuk dapat lulus dengan nilai yang memuaskan. Semoga pengalaman saya bisa bermanfaat bagi pembaca semua. 🙂

Selamat membaca!

Cerpen: Pengalaman Berkesan

Minggu, 17 April 2011

            Sampai saat ini aku masih terbaring di tempat tidurku, dengan keadaan yang tidak berbeda jauh dengan hari-hari sebelumnya. Hampir 2 minggu penuh aku belum bisa kembali ke sekolah. Padahal beberapa hari lagi sudah menjelang Ujian Nasional, karena sekarang aku duduk di bangku kelas 3 SMP. Yah, setidaknya keadaanku sudah lebih membaik untuk saat ini. Aku mencoba bangkit dan duduk sesaat di pinggir tempat tidurku, tatapanku lurus memandang langit pagi cerah dari jendela yang ada di sudut kamarku. Ingin sekali aku bisa kembali masuk sekolah, aku benar-benar merindukannya.

            Tiba-tiba seseorang memanggil dan membuyarkan lamunanku. Aku pun tersentak kaget. Suara lemah lembut itu sudah tak asing lagi terdengar di telingaku.

“Denov, kamu sudah bangun nak?” sapa mamaku yang muncul dari balik pintu dengan membawa nampan yang berisi sarapan pagiku dan beberapa bungkus obat

“Eh iya ma. Aku baru aja bangun,” sahutku

“Gimana badanmu? Sudah baikan?” tanyanya dengan penuh perhatian

“Sudah ma. Oh ya, besok aku sudah bisa masuk sekolah lagi ‘kan ma?”

“Tunggu sampai badanmu benar-benar sehat ya”

“Tapi ma kalau aku terus-terusan nggak masuk, aku bisa ketinggalan pelajaran. Sebentar lagi ‘kan Ujian Nasional” tukasku

“Iya mama tahu, yang penting kamu sembuh dulu. Kalau badanmu belum benar-benar pulih, nanti kamu juga nggak akan bisa konsentrasi ‘kan?”

“Baik ma.” sahutku dengan senyuman

Senin, 18 April 2011

            Aku memasuki gerbang sekolah dengan perasaan gembira, tidak kusangka aku bisa kembali belajar dan bertemu sahabat-sahabatku. Saat itu suasana masih sunyi, baru terlihat beberapa murid saja yang sudah berada di sekolah. Ku lirik jam tanganku, pukul 6.45 “pantas saja !” batinku. Aku melanjutkan langkahku, tanpa sengaja ku lihat sebuah papan bertuliskan “Ujian Nasional tinggal 7 hari lagi” berdiri di antara persimpangan lorong kelas. Hal itu membuatku was-was. “Sudah siapkah aku mengikuti UN? Padahal aku cukup banyak tertinggal materi pelajaran.” Pikirku seraya terus berjalan menyusuri lorong menuju ke ruang kelas.

            Pada hari itu sampai 3 hari berikutnya aku sanggup mengikuti pelajaran seperti biasa dan dapat dikatakan aku mampu mengejar ketertinggalanku. Kukira aku sudah sembuh total dari penyakit maag yang divonis dokter padaku. Namun, aku kembali merasakan sakit pada daerah perutku dihari Sabtu tiba. Aku tidak mengerti mengapa penyakit ini datang lagi. Orang tuaku tidak membawaku ke dokter hari itu, karena aku yang memintanya. Aku memilih untuk meminum obat dari dokter yang belum sempat dihabiskan kemarin. Keadaanku mulai kembali membaik.

Minggu, 24 April 2011

            Seperti minggu-minggu biasanya, aku dan keluargaku pergi ke gereja untuk melaksanakan ibadah. Selain itu, aku hendak berterima kasih kepada Tuhan yang telah memberi kesembuhan kepadaku dan aku juga berdoa untuk persiapan UN besok. Pukul 7.00 kami berangkat dari rumah dan sekitar pukul 9.00 kami sudah tiba di rumah. Setelah aku beristirahat sejenak, kembali ku buka catatan-catatan mata pelajaran Bahasa Indonesia yang akan diujiankan besok.

            Di pertengahan waktu belajar, perutku kembali sakit dan terasa kaku. Kuputuskan untuk membaringkan tubuhku di kamar, berharap rasa sakit itu segera hilang. Namun, kenyataannya justru bertambah parah. Aku sudah tidak tahan merasakan sakit ini, hampir pingsan. Dan sore harinya, orang tuaku mengantarku ke rumah sakit Tugu Ibu. Setelah sampai di ruang UGD, tak berapa lama seorang dokter datang dan memeriksaku. Kemudian dokter itu berkata kepada mamaku “Bu, lebih baik anak ibu di rawat inap saja. Karena penyakitnya belum diketahui, jadi mungkin besok akan dilakukan USG.” Tanpa pikir panjang, kedua orang tuaku menyetujui perkataan dokter tersebut. Dokter itupun beranjak pergi untuk memeriksa pasien lain. Sementara papaku menghubungi wali kelas untuk mengabarkan keadaanku sekarang.

“Ma, aku nggak mau dirawat inap. Rawat jalan aja ya?” aku memohon

“Ya habisnya mau gimana lagi. Biarpun besok kamu masuk, apa kamu bisa konsentrasi ujian kalau masih sakit?” kata mamaku dengan sedikit kepanikan yang tersirat di wajahnya

Aku sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Mau tidak mau aku harus tetap menerima kenyataan pahit ini. Padahal Ujian Nasional susulan sama sekali tak pernah terlintas dalam benakku.

            Mamaku pergi ke kasir mengurus administrasi Rumah Sakit, meninggalkanku sendiri untuk beberapa saat. Aku hanya terbaring menatap langit-lagit rumah sakit yang bercat putih bersih, namun pikiranku melayang entah kemana.

Ujian susulan? Aku nggak mau ikut ujian susulan? Mengapa harus seperti ini? Kemarin aku sudah sehat, tapi sekarang? Kenapa seperti ini Tuhan? Apa salahku?

Sepersekian detik aku mulai marah kepada Tuhan, namun aku mulai tersadar, ini salahku, mengapa aku tidak menjaga diriku sebaik-baiknya. Ini semua memang kesalahanku sendiri.

            Kemudian mamaku kembali bersama seorang perawat di belakangnya. Aku tahu, perawat itu yang akan memasangkan infuse di pergelangan tanganku. Padahal aku masih bisa melihat bekas infuse yang baru dilepaskan beberapa minggu yang lalu dari tanganku. Setelah perawat itu selesai memasang infuse, ia membantuku duduk di kursi roda yang sudah disediakan untuk selanjutnya diantarkan ke kamar rawat inap.

Senin, 25 April 2011 (Ujian Nasional Hari Pertama)

            Alarm handphoneku berbunyi tepat pukul 5.00, aku sudah terbangun lebih dulu. Semalaman aku tidak bisa tidur nyenyak, selain merasakan sakitku, aku juga memikirkan Ujian Nasional yang berlangsung hari ini. Semestinya, hari ini aku datang ke sekolah sedikit lebih pagi untuk mencari tempat dimana aku duduk sesuai nomor ujian yang tertera di meja, lalu beberapa menit sebelum bel berbunyi aku dan sahabat-sahabatku saling bertanya jawab untuk mengingat kembali materi pelajaran sambil duduk santai di sepanjang koridor kelas.

            Tetapi itu semua hanya bayanganku saja yang sekejap langsung memudar seperti fatamorgana. Kenyataannya, pagi ini aku berada di sebuah ruangan yang seluruh dindingnya berwarna putih bersih dengan gorden hijau tosca yang digunakan sebagai penyekat antar tempat tidur. Dari keempat tempat tidur, hanya satu yang terisi, lainnya kosong. Dan bau obat-obatan mendominasi hampir di setiap ruangan. Rumah sakit, di sinilah aku berada sekarang. Aku masih memiliki harapan besar supaya dokter mengijinkanku pulang hari ini, walau sebenarnya keadaanku belum membaik.

            Dokter datang sekitar pukul 11.00, setelah memeriksaku, ia menyuruhku untuk USG agar diketahui apa sebenarnya penyakit yang kuderita. Sebelum USG, aku dianjurkan untuk tidak makan apapun dan hanya diperbolehkan minum air putih saja selama kurang lebih 3 jam. Aku pun mengikuti anjuran tersebut. Tiga jam berlalu, seorang perawat datang membawa kursi roda untuk menjemputku ke ruang USG. Pemeriksaan USG hanya sekitar 15 menit, dan dokter mengatakan bahwa ginjal kiriku mengalami sedikit masalah. Cairan yang ada di dalamnya membentuk kristal-kristal seperti pasir, itulah yang terkadang membuat perutku terasa kaku. Aku kaget mendengar pernyataan dari dokter, tapi aku sudah merasa lega mengetahui penyakit yang sebenarnya. Karena di beberapa dokter sebelumnya pernah berkata jika aku sakit radang usus besar, maag dan beberapa lagi perkiraan yang meleset.

Selasa, 26 April 2011 (Ujian Nasional Hari Kedua)

            Keadaanku berubah 80% membaik, setelah meminum obat yang diberikan oleh dokter. Dan aku yakin dokter akan memperbolehkanku pulang. Perkiraanku benar, akhirnya hari itu juga aku sudah diijinkan pulang. Aku sangatlah bersyukur kepada Tuhan. Sekitar setengah jam, mamaku sudah selesai mengurus administrasi dan melunasi semua pembayaran, kemudian seorang perawat melepaskan infuse dari tanganku dengan hati-hati. Aku sudah dapat kembali pulang tanpa rasa sakit sedikitpun, tidak seperti sebelumnya.

Aku tiba di rumah sekitar pukul 20.45. Kembali kuulang membaca materi mata pelajaran Bahasa Inggris yang akan diujiankan besok.

Ujian Nasional Susulan . . .

Aku menjalani ujian susulan di SMPN 103 dengan di dampingi oleh seorang guru. Ujian Nasional susulan yang ku ikuti adalah mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika. Dari awal sampai akhir semua berjalan dengan lancar tanpa suatu hambatan apapun.

Beberapa minggu kemudian . . .

Satu hal lagi yang tak terlupakan, ketika acara pentas seni perpisahan sekolah, dari 250an murid angkatan tahun 2011, akan ada sepuluh orang yang dipanggil ke atas panggung untuk menerima piagam penghargaan sebagai murid berprestasi. Aku memang dua kali berturut-turut meraih juara 1 umum (angkatan) saat kelas 7 dan 8. “Kali ini aku tidak mungkin masuk sepuluh besar. Kemarin saja aku ujian susulan” pikirku. Satu per satu nama mulai dibacakan, mulai dari peringkat ke sepuluh. Sampai peringkat ketiga, kurasa namaku memang tidak terdaftar di sana, harapanku makin pudar. Pembawa acara sejenak berhenti berbicara, kemudian melanjutkan “Ini dia yang kita tunggu-tunggu, kalian pasti sudah tahu dong siapa juara bertahan kita?” “Denov, bu!” teman-temanku di aula berteriak riuh. Aku tidak menanggapinya dengan serius, aku masih tidak peduli. “Mari kita panggil sang juara dari kelas 9-3 ‘Febriana Denovinsa’ !“

“Hah? Nggak salah?” gumamku, aku masih duduk termangu bagaikan patung bernyawa, tidak mempercayai apa yang baru saja ku dengar

“Sana maju Den!” teman-teman yang duduk di belakangku mendorong-dorong pundakku

Dengan langkah perlahan aku mulai menapaki anak tangga dan naik ke atas panggung. Ada perasaan senang, bangga dan tidak percaya yang bercampur aduk dalam hati. Tapi aku sangat-sangat bersyukur dengan semuanya ini. Selain mendapat piagam penghargaan, aku juga mendapat tabungan beasiswa. Biarpun jumlahnya tak seberapa, aku memberikan keseluruhannya pada mamaku untuk tambahan uang sekolah SMA nanti. Aku merasa sangat bersalah, karena aku telah menghabiskan uang orang tuaku untuk berobat dan ke rumah sakit.

Dan aku mulai menyadari hal berkesan yang kudapatkan dari pengalaman burukku ini setelah pendaftaran siswa baru. Awalnya aku berniat untuk mendaftar di sekolah swasta Kristen yang berada di Depok tak jauh dari rumah, tapi persyaratannya harus mengikuti tes terlebih dahulu. Sedangkan, tes penerimaan siswa baru itu dilaksanakan pada bulan April beberapa hari setelah UN. Padahal pada masa-masa itu aku masih bermasalah dengan penyakitku. Maka dari itu, aku batal mendaftar. Lalu hampir semua guru di sekolah termasuk wali kelasku menyarankanku untuk mendaftar di SMAN 99. Mereka mengatakan bahwa SMA itu adalah sekolah yang bagus dan favorit. Karena masih bingung harus memilih sekolah yang mana, akhirnya orang tuaku setuju.

Berkat sakit itulah, saat ini aku bisa menjadi salah satu bagian dari SMA Negeri 99 Jakarta. Sekolah yang luar biasa prestasinya, guru-guru yang tegas dan dislipin, serta teman-teman yang menyenangkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s