Liburan yang Berharga

Cerpen: Liburan yang Berharga

Angin senja masuk melalui kaca pintu mobil yang sengaja kubuka setengah, meniup sepoi-sepoi rambutku. Aku duduk di kursi mobil bagian tengah di pinggir sebelah kiri. Kulihat kilasan cepat bayangan pepohonan yang tumbuh di tepi jalan dengan semburat jingga matahari yang kembali ke peraduannya sebagai latar belakang. Papaku mengemudikan mobil dengan kecepatan rata-rata 70 km/jam. Mamaku duduk di kursi depan dan adikku berada di sebelahku sedang disibukkan oleh handphonenya. Mobil-mobil berusaha saling mendahului seperti sebuah perlombaan balap.

Saat ini aku dan keluarga berada di jalan tol Banten arah tujuan Merak. Perjalanan kami menuju pelabuhan Merak terbilang lancar tanpa kendala. Rencananya kami akan menghabiskan malam pergantian tahun di Lampung, rumah mamaku dulu sewaktu SMA. Ini adalah kali pertamaku kesana.

Rasa bosan tak bisa terelakkan dari pikiranku. Sudah hampir 2 jam, mobil ini terus melaju. Aku menyandarkan diri ke kursi seraya melirik jam tanganku, ternyata sudah pukul 17.15. Kecepatan mobil mulai berkurang saat memasuki pintu tol terakhir. Setelah membayar dan memberikan karcis pada petugas, mobil Panther hijau ini kembali melaju.

Tak berapa lama, kami pun tiba di kawasan dermaga. Dari kejauhan aku sudah dapat melihat sebuah kapal besar yang nampaknya mampu menampung ratusan orang. Sinar matahari terbenam memantul di laut lepas dengan ombak yang bergulung-gulung menghantam karang. Pemandangan ini jarang sekali kudapatkan, sungguh luar biasa.

Kapal Laut Teduh II adalah kapal yang akan membawa kami menuju pelabuhan Bakauheni, Lampung. Perjalanan sekitar dua setengah jam di atas kapal tak kalah menakjubkan. Kulihat matahari semakin lama semakin rendah, dan kemudian menghilang di balik deretan pulau-pulau yang kami lalui di Selat Sunda.

Lautan berubah menjadi hitam pekat. Pantulan sinar-sinar lampu dari beberapa kapal di seberang sana memberi warna. Aku turun dari mobil, berjalan ke arah pagar tepi pembatas kapal agar aku bisa melihat pemandangan itu dengan jelas. Angin malam bertiup kencang, aku berusaha memegangi rambutku yang berantakan tak keruan dengan sebelah tangan dan tanganku yang lain memegang pagar besi dengan erat.

Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dari belakang, ternyata itu mamaku. Ia menyuruhku untuk kembali masuk ke mobil karena angin yang terlalu kencang. Aku memohon padanya untuk memperbolehkanku tinggal beberapa saat lagi, dan mamaku mengijinkan.

Tak berapa lama, aku kembali ke mobil. Mungkin karena intensitas ombak yang sedikit bertambah, kini aku merasa mual akibat kapal yang terombang-ambing. Aku menyandarkan diri sambil memejamkan mataku. Kupasang earphone kemudian ku mainkan lagu My Heart Will Go On – Sountrack Titanic – kurasa lagu ini sesuai dengan moment sekarang. Beberapa menit berlalu, aku pun tertidur.

Cahaya-cahaya lampu jalan meyilaukan, membuatku membuka mata. Aku terbangun dari tidur singkatku, melepas earphone yang sedari tadi terpasang di telinga. Kucoba untuk mengumpulkan konsentrasi, dan melihat keluar kaca mobil. Hanya terlihat bukit-bukit yang tinggi ditumbuhi pepohonan dan semak belukar yang tumbuh liar di sisi kanan dan kiri. Kegelapan membuatnya menjadi terlihat samar-samar.

Aku tanya pada adikku yang berada di sebelah. Nampaknya ia sangat berantusias dengan perjalanan ini. Ia tidak terlihat letih sedikit pun sejak awal keberangkatan. Ia memberitahuku bahwa ini sudah berada di Lampung Tengah. Kulihat jam, pukul 23.50. Ternyata aku tertidur cukup lama, padahal aku ingin sekali melihat Menara Siger, di Lampung Selatan secara langsung. Yah, setidaknya perjalanan pulang nanti aku masih bisa melihatnya, toh bangunan itu tidak akan kemana-mana.

Papaku memutuskan untuk beristirahat karena sudah kelelahan mengemudi. Kami berhenti di parkiran sebuah rumah makan Padang bernama ‘Taruko Jaya’, dan beristirahat di dalam mobil sampai esok hari.

***

Paginya, sekitar pukul 5.20 saat keadaan jalan masih berkabut dan titik-titik embun memenuhi kaca mobil, kami mulai kembali bergerak melanjutkan perjalanan yang masih sekitar 25 km lagi. Walaupun jaraknya masih cukup jauh, kami tidak perlu memakan waktu lama untuk sampai ke tempat tujuan, karena bebas macet. Jauh berbeda dengan Jakarta. Baru saja keluar komplek perumahan, antrian panjang kendaraan sudah terlihat memadati jalan protocol, sehingga waktu berjam-jam terbuang sia-sia hanya untuk menempuh jarak beberapa km saja.

Pukul 7.00 pagi, terik matahari sudah mulai muncul. Kulihat sebuah bangunan sekolah yang terkesan tua. Beberapa bagian cat di tembok sudah mengelupas, halaman sekolah masih berupa tanah yang ditumbuhi rumput liar. Sebuah papan kayu yang mulai lapuk bertuliskan ‘SMAN Jalawiyata’, aku teringat dengan sekolah yang pernah diceritakan mama padaku. Aku mencoba bertanya untuk memastikan, dan ternyata benar. Itu memang sekolah mamaku semasa SMA dulu. Tak berapa lama setelah melewati bangunan sekolah tersebut, kami berbelok ke kanan, masuk sebuah pemukiman penduduk.

Keadaan lingkungan jauh sekali dengan yang ada dalam bayanganku. Jalanan terjal yang masih tanah dan kupikir pasti akan berlumpur saat turun hujan. Di sebelah kanan terlihat rumah penduduk sangat sederhana terbuat dari papan kayu yang di kapur putih, semua berbentuk seragam, dan jarak antar rumah satu dengan lainnya cukup jauh, sekitar 150 meter. Beberapa warga yang sedang berada di halaman, langsung menghentikan pekerjaannya dan memperhatikan mobil kami yang lewat. Bisa kukatakan, ini termasuk daerah yang masih tertinggal.

Perkebunan tebu yang sangat luas berada di sisi kiri sepanjang perjalanan menuju rumah kami yang masih sekitar 6 km lagi. Sekitar 30 menit berlalu, kami tiba di sebuah rumah yang berbentuk sama dengan yang kulihat di sepanjang perjalanan tadi. Terlihat seorang wanita yang hampir sebaya dengan mamaku membukakan pintu. Ternyata ini bukan rumah kami, rumah kami berada di sebelah sana lagi. Alasannya karena rumah kami sudah tidak layak huni, maklum sudah 4 tahun terakhir tak ada yang menjaga & merawatnya.

Mama bilang setiap kali kemari, rumah tetangga inilah yang dijadikan persinggahan. Dan mereka tidak keberatan dengan kedatangan kami, kami dianggap seperti saudara. Di rumah itu tinggal keluarga inti, yaitu om Dedi, tante Lita – adik kelas mamaku sewaktu SMA – dan seorang anak laki-laki yang sepantaran denganku, namanya Rizki. Kami akan menginap sampai tanggal 1 Januari dan pulang esoknya, lebih tepatnya 3 hari. Karena papaku seorang polisi jadi tidak boleh mengambil cuti terlalu lama.

***

Namun, berada di sana selama 3 hari serasa 3 bulan bagiku. Aku tahu, adikku pasti juga merasakan hal yang sama, karena ia anak yang benar-benar mengutamakan kebersihan. Bukannya bermaksud menghina, tapi aku tidak terbiasa hidup seperti ini. Kamar mandi yang terpisah dari rumah, terletak sekitar 15 meter di halaman belakang berada di dekat kandang ayam dan bebek. Ditambah lagi aku harus mengambil air dengan cara menimba di sumur terlebih dahulu. Mungkin karena sudah beberapa hari tidak turun hujan, airpun terlihat sangat dalam dan nyaris kering, belum lagi airnya yang keruh.

Di rumahku yang hanya tinggal memutar keran, lalu air jernih mengalir dengan sendirinya, tanpa aku harus bersusah payah untuk mendapatkannya saja aku terkadang malas mandi. Apalagi seperti ini, membuatku berpikir dua kali kalau ingin mandi.

Malam pergantian tahun baru di sini pun juga tak ada yang istimewa. Kami hanya membuat sebuah api unggun di halaman depan dengan kayu yang Rizki kumpulkan siang tadi. Sebenarnya, kami berniat untuk memanggang beberapa makanan seperti ayam, ikan ataupun jagung. Tapi karena letak pasar yang berada di pusat kota sekitar 7 km dari sini, rencana itupun batal. Sial! batinku.

Rizki bilang ia dan keluarganya tak pernah merayakan tahun baru, setiap malam pergantian tahun ia habiskan seperti malam-malam biasa. Ini pertama kali ia merayakannya, itupun karena adanya kedatangan keluargaku. Ayahku menyalakan radio di mobilnya dan mengencangkan volume suaranya agar terdengar sampai luar. Tak berapa lama, sang penyiar radio mengajak seluruh pendengar untuk menghitung mundur dari 5.. 4.. 3.. 2.. 1..

Terdengar suara sorak-sorai, tiupan terompet dan letusan pesta kembang api kemudian diakhiri dengan tepuk tangan yang meriah dari radio. Aku dapat membayangkannya dengan jelas, persis ketika aku dan keluargaku merayakan pergantian tahun yang lalu di rumah. Sedangkan, dimana aku berada saat ini hanya terasa bagai kota mati. Tak ada suara orang yang berteriak ‘Happy New Year 2010’, atau suara tiupan terompet yang memekakkan telinga, maupun cahaya ratusan kembang api yang menghiasi langit malam. Hanya krik krik krik, suara jangkrik. Sunyi senyap.

Aku mengambil ponsel dari saku jaket yang kukenakan, berniat untuk mengirim pesan singkat ucapan selamat tahun baru pada orang-orang terdekat. Tak sengaja, kudapati sebuah tanda X yang berada di sudut kiri atas layar. Bagus sekarang tak ada sinyal! gumamku. Akhirnya dengan terpaksa, ku urungkan niatku.

***

Pada hari kepulangan kami, ada perasaan sedih yang tak dapat kupungkiri. Keluarga di sini sangat baik, mereka mau menerima kami dengan senang hati tanpa terbebani. Walau sebenarnya keadaan mereka sangat sederhana. Rizki juga merasa kehilangan karena ia sudah berteman akrab dengan adikku yang berusia selisih 1 tahun dibawahnya. Di rumah, Rizki tak memiliki teman yang sepantaran, hampir semuanya sudah bekerja. Selain itu, ia juga harus membantu orang tuanya bekerja di ladang setiap pulang sekolah, sehingga ia tak memilikki waktu bermain.

Tante Lita menyuruh kami untuk membawa rambutan yang ada di halaman, kami menolak tapi ia terus memaksa. Katanya rambutan ini sedang musim panen jadi terlalu banyak untuk mereka sendiri, jika ingin diberikan pada tetangga lainnya mereka masing-masing sudah punya. Akhirnya bagian belakang mobil kami yang kosong kini terisi penuh dengan rambutan yang kira-kira sebanyak 45 kg.

Pukul 7.45 kami memulai perjalanan kembali menuju Jakarta. Ketiga orang yang kami anggap sebagai keluarga kami melambaikan tangan tanda perpisahan. Mobil kami bergerak makin jauh, bayangan mereka menghilang di balik pepohonan saat mobil berbelok.

     Ini adalah liburan yang bisa kubilang membosankan, namun sangat berharga. Aku bisa mengerti bahwa masih banyak orang yang garis kehidupannya berada di bawah. Sedangkan aku selalu melihat ke atas, berusaha menggapai apa yang tak mungkin untuk ku dapatkan sekarang. Aku kurang bersyukur.

     Ternyata mamaku dulu juga pernah hidup di masa sulit, ia harus menempuh perjalanan sejauh 6 km untuk ke sekolah dengan berjalan kaki. Tapi ia tidak pernah mengeluh. Dan seharusnya aku bisa meneladani sosoknya, apalagi aku ke sekolah dengan naik angkutan kota, tidak perlu susah payah berjalan kaki. Kini aku berjanji untuk lebih giat lagi dan tidak mengeluh, juga lebih bersyukur dengan keadaanku saat ini yang serba kecukupan.

Advertisements

Pengalaman Berkesan

Saat SMA kemarin, saya mendapat tugas dari guru Bahasa Indonesia untuk menulis sebuah cerpen berdasarkan pengalaman pribadi. Dan inilah pengalaman saya saat menghadapi UN di SMP yang penuh perjuangan (melawan penyakit) namun berbuah manis. Saya yakin itu semua karena adanya campur tangan Tuhan yang telah menyembuhkan saya dan memampukan saya untuk dapat lulus dengan nilai yang memuaskan. Semoga pengalaman saya bisa bermanfaat bagi pembaca semua. 🙂

Selamat membaca!

Cerpen: Pengalaman Berkesan

Minggu, 17 April 2011

            Sampai saat ini aku masih terbaring di tempat tidurku, dengan keadaan yang tidak berbeda jauh dengan hari-hari sebelumnya. Hampir 2 minggu penuh aku belum bisa kembali ke sekolah. Padahal beberapa hari lagi sudah menjelang Ujian Nasional, karena sekarang aku duduk di bangku kelas 3 SMP. Yah, setidaknya keadaanku sudah lebih membaik untuk saat ini. Aku mencoba bangkit dan duduk sesaat di pinggir tempat tidurku, tatapanku lurus memandang langit pagi cerah dari jendela yang ada di sudut kamarku. Ingin sekali aku bisa kembali masuk sekolah, aku benar-benar merindukannya.

            Tiba-tiba seseorang memanggil dan membuyarkan lamunanku. Aku pun tersentak kaget. Suara lemah lembut itu sudah tak asing lagi terdengar di telingaku.

“Denov, kamu sudah bangun nak?” sapa mamaku yang muncul dari balik pintu dengan membawa nampan yang berisi sarapan pagiku dan beberapa bungkus obat

“Eh iya ma. Aku baru aja bangun,” sahutku

“Gimana badanmu? Sudah baikan?” tanyanya dengan penuh perhatian

“Sudah ma. Oh ya, besok aku sudah bisa masuk sekolah lagi ‘kan ma?”

“Tunggu sampai badanmu benar-benar sehat ya”

“Tapi ma kalau aku terus-terusan nggak masuk, aku bisa ketinggalan pelajaran. Sebentar lagi ‘kan Ujian Nasional” tukasku

“Iya mama tahu, yang penting kamu sembuh dulu. Kalau badanmu belum benar-benar pulih, nanti kamu juga nggak akan bisa konsentrasi ‘kan?”

“Baik ma.” sahutku dengan senyuman

Senin, 18 April 2011

            Aku memasuki gerbang sekolah dengan perasaan gembira, tidak kusangka aku bisa kembali belajar dan bertemu sahabat-sahabatku. Saat itu suasana masih sunyi, baru terlihat beberapa murid saja yang sudah berada di sekolah. Ku lirik jam tanganku, pukul 6.45 “pantas saja !” batinku. Aku melanjutkan langkahku, tanpa sengaja ku lihat sebuah papan bertuliskan “Ujian Nasional tinggal 7 hari lagi” berdiri di antara persimpangan lorong kelas. Hal itu membuatku was-was. “Sudah siapkah aku mengikuti UN? Padahal aku cukup banyak tertinggal materi pelajaran.” Pikirku seraya terus berjalan menyusuri lorong menuju ke ruang kelas.

            Pada hari itu sampai 3 hari berikutnya aku sanggup mengikuti pelajaran seperti biasa dan dapat dikatakan aku mampu mengejar ketertinggalanku. Kukira aku sudah sembuh total dari penyakit maag yang divonis dokter padaku. Namun, aku kembali merasakan sakit pada daerah perutku dihari Sabtu tiba. Aku tidak mengerti mengapa penyakit ini datang lagi. Orang tuaku tidak membawaku ke dokter hari itu, karena aku yang memintanya. Aku memilih untuk meminum obat dari dokter yang belum sempat dihabiskan kemarin. Keadaanku mulai kembali membaik.

Minggu, 24 April 2011

            Seperti minggu-minggu biasanya, aku dan keluargaku pergi ke gereja untuk melaksanakan ibadah. Selain itu, aku hendak berterima kasih kepada Tuhan yang telah memberi kesembuhan kepadaku dan aku juga berdoa untuk persiapan UN besok. Pukul 7.00 kami berangkat dari rumah dan sekitar pukul 9.00 kami sudah tiba di rumah. Setelah aku beristirahat sejenak, kembali ku buka catatan-catatan mata pelajaran Bahasa Indonesia yang akan diujiankan besok.

            Di pertengahan waktu belajar, perutku kembali sakit dan terasa kaku. Kuputuskan untuk membaringkan tubuhku di kamar, berharap rasa sakit itu segera hilang. Namun, kenyataannya justru bertambah parah. Aku sudah tidak tahan merasakan sakit ini, hampir pingsan. Dan sore harinya, orang tuaku mengantarku ke rumah sakit Tugu Ibu. Setelah sampai di ruang UGD, tak berapa lama seorang dokter datang dan memeriksaku. Kemudian dokter itu berkata kepada mamaku “Bu, lebih baik anak ibu di rawat inap saja. Karena penyakitnya belum diketahui, jadi mungkin besok akan dilakukan USG.” Tanpa pikir panjang, kedua orang tuaku menyetujui perkataan dokter tersebut. Dokter itupun beranjak pergi untuk memeriksa pasien lain. Sementara papaku menghubungi wali kelas untuk mengabarkan keadaanku sekarang.

“Ma, aku nggak mau dirawat inap. Rawat jalan aja ya?” aku memohon

“Ya habisnya mau gimana lagi. Biarpun besok kamu masuk, apa kamu bisa konsentrasi ujian kalau masih sakit?” kata mamaku dengan sedikit kepanikan yang tersirat di wajahnya

Aku sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Mau tidak mau aku harus tetap menerima kenyataan pahit ini. Padahal Ujian Nasional susulan sama sekali tak pernah terlintas dalam benakku.

            Mamaku pergi ke kasir mengurus administrasi Rumah Sakit, meninggalkanku sendiri untuk beberapa saat. Aku hanya terbaring menatap langit-lagit rumah sakit yang bercat putih bersih, namun pikiranku melayang entah kemana.

Ujian susulan? Aku nggak mau ikut ujian susulan? Mengapa harus seperti ini? Kemarin aku sudah sehat, tapi sekarang? Kenapa seperti ini Tuhan? Apa salahku?

Sepersekian detik aku mulai marah kepada Tuhan, namun aku mulai tersadar, ini salahku, mengapa aku tidak menjaga diriku sebaik-baiknya. Ini semua memang kesalahanku sendiri.

            Kemudian mamaku kembali bersama seorang perawat di belakangnya. Aku tahu, perawat itu yang akan memasangkan infuse di pergelangan tanganku. Padahal aku masih bisa melihat bekas infuse yang baru dilepaskan beberapa minggu yang lalu dari tanganku. Setelah perawat itu selesai memasang infuse, ia membantuku duduk di kursi roda yang sudah disediakan untuk selanjutnya diantarkan ke kamar rawat inap.

Senin, 25 April 2011 (Ujian Nasional Hari Pertama)

            Alarm handphoneku berbunyi tepat pukul 5.00, aku sudah terbangun lebih dulu. Semalaman aku tidak bisa tidur nyenyak, selain merasakan sakitku, aku juga memikirkan Ujian Nasional yang berlangsung hari ini. Semestinya, hari ini aku datang ke sekolah sedikit lebih pagi untuk mencari tempat dimana aku duduk sesuai nomor ujian yang tertera di meja, lalu beberapa menit sebelum bel berbunyi aku dan sahabat-sahabatku saling bertanya jawab untuk mengingat kembali materi pelajaran sambil duduk santai di sepanjang koridor kelas.

            Tetapi itu semua hanya bayanganku saja yang sekejap langsung memudar seperti fatamorgana. Kenyataannya, pagi ini aku berada di sebuah ruangan yang seluruh dindingnya berwarna putih bersih dengan gorden hijau tosca yang digunakan sebagai penyekat antar tempat tidur. Dari keempat tempat tidur, hanya satu yang terisi, lainnya kosong. Dan bau obat-obatan mendominasi hampir di setiap ruangan. Rumah sakit, di sinilah aku berada sekarang. Aku masih memiliki harapan besar supaya dokter mengijinkanku pulang hari ini, walau sebenarnya keadaanku belum membaik.

            Dokter datang sekitar pukul 11.00, setelah memeriksaku, ia menyuruhku untuk USG agar diketahui apa sebenarnya penyakit yang kuderita. Sebelum USG, aku dianjurkan untuk tidak makan apapun dan hanya diperbolehkan minum air putih saja selama kurang lebih 3 jam. Aku pun mengikuti anjuran tersebut. Tiga jam berlalu, seorang perawat datang membawa kursi roda untuk menjemputku ke ruang USG. Pemeriksaan USG hanya sekitar 15 menit, dan dokter mengatakan bahwa ginjal kiriku mengalami sedikit masalah. Cairan yang ada di dalamnya membentuk kristal-kristal seperti pasir, itulah yang terkadang membuat perutku terasa kaku. Aku kaget mendengar pernyataan dari dokter, tapi aku sudah merasa lega mengetahui penyakit yang sebenarnya. Karena di beberapa dokter sebelumnya pernah berkata jika aku sakit radang usus besar, maag dan beberapa lagi perkiraan yang meleset.

Selasa, 26 April 2011 (Ujian Nasional Hari Kedua)

            Keadaanku berubah 80% membaik, setelah meminum obat yang diberikan oleh dokter. Dan aku yakin dokter akan memperbolehkanku pulang. Perkiraanku benar, akhirnya hari itu juga aku sudah diijinkan pulang. Aku sangatlah bersyukur kepada Tuhan. Sekitar setengah jam, mamaku sudah selesai mengurus administrasi dan melunasi semua pembayaran, kemudian seorang perawat melepaskan infuse dari tanganku dengan hati-hati. Aku sudah dapat kembali pulang tanpa rasa sakit sedikitpun, tidak seperti sebelumnya.

Aku tiba di rumah sekitar pukul 20.45. Kembali kuulang membaca materi mata pelajaran Bahasa Inggris yang akan diujiankan besok.

Ujian Nasional Susulan . . .

Aku menjalani ujian susulan di SMPN 103 dengan di dampingi oleh seorang guru. Ujian Nasional susulan yang ku ikuti adalah mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika. Dari awal sampai akhir semua berjalan dengan lancar tanpa suatu hambatan apapun.

Beberapa minggu kemudian . . .

Satu hal lagi yang tak terlupakan, ketika acara pentas seni perpisahan sekolah, dari 250an murid angkatan tahun 2011, akan ada sepuluh orang yang dipanggil ke atas panggung untuk menerima piagam penghargaan sebagai murid berprestasi. Aku memang dua kali berturut-turut meraih juara 1 umum (angkatan) saat kelas 7 dan 8. “Kali ini aku tidak mungkin masuk sepuluh besar. Kemarin saja aku ujian susulan” pikirku. Satu per satu nama mulai dibacakan, mulai dari peringkat ke sepuluh. Sampai peringkat ketiga, kurasa namaku memang tidak terdaftar di sana, harapanku makin pudar. Pembawa acara sejenak berhenti berbicara, kemudian melanjutkan “Ini dia yang kita tunggu-tunggu, kalian pasti sudah tahu dong siapa juara bertahan kita?” “Denov, bu!” teman-temanku di aula berteriak riuh. Aku tidak menanggapinya dengan serius, aku masih tidak peduli. “Mari kita panggil sang juara dari kelas 9-3 ‘Febriana Denovinsa’ !“

“Hah? Nggak salah?” gumamku, aku masih duduk termangu bagaikan patung bernyawa, tidak mempercayai apa yang baru saja ku dengar

“Sana maju Den!” teman-teman yang duduk di belakangku mendorong-dorong pundakku

Dengan langkah perlahan aku mulai menapaki anak tangga dan naik ke atas panggung. Ada perasaan senang, bangga dan tidak percaya yang bercampur aduk dalam hati. Tapi aku sangat-sangat bersyukur dengan semuanya ini. Selain mendapat piagam penghargaan, aku juga mendapat tabungan beasiswa. Biarpun jumlahnya tak seberapa, aku memberikan keseluruhannya pada mamaku untuk tambahan uang sekolah SMA nanti. Aku merasa sangat bersalah, karena aku telah menghabiskan uang orang tuaku untuk berobat dan ke rumah sakit.

Dan aku mulai menyadari hal berkesan yang kudapatkan dari pengalaman burukku ini setelah pendaftaran siswa baru. Awalnya aku berniat untuk mendaftar di sekolah swasta Kristen yang berada di Depok tak jauh dari rumah, tapi persyaratannya harus mengikuti tes terlebih dahulu. Sedangkan, tes penerimaan siswa baru itu dilaksanakan pada bulan April beberapa hari setelah UN. Padahal pada masa-masa itu aku masih bermasalah dengan penyakitku. Maka dari itu, aku batal mendaftar. Lalu hampir semua guru di sekolah termasuk wali kelasku menyarankanku untuk mendaftar di SMAN 99. Mereka mengatakan bahwa SMA itu adalah sekolah yang bagus dan favorit. Karena masih bingung harus memilih sekolah yang mana, akhirnya orang tuaku setuju.

Berkat sakit itulah, saat ini aku bisa menjadi salah satu bagian dari SMA Negeri 99 Jakarta. Sekolah yang luar biasa prestasinya, guru-guru yang tegas dan dislipin, serta teman-teman yang menyenangkan.

Dia untuk Sahabatku

Nggak sengaja waktu liat-liat file di laptop, saya menemukan cerpen ini. Cerpen ini murni saya buat sewaktu dulu masih SMP (tanpa saya edit lagi), jadi maaf-maaf ya kalau ceritanya terlalu mengkhayal, tanda bacanya salah atau pemilihan katanya kurang tepat (hehehe…)

Selamat Membaca! 🙂

Cerpen: Dia untuk Sahabatku

“Aduh,” ucap Grace seorang gadis berparas cantik yang juga seorang modeling, ketika tanpa sengaja kakinya terantuk karena terburu-buru mengambil HPnya yang berdering. “Halo Grace !” sapa Felish. Felish adalah seorang gadis cantik, ramah, & pintar, bahkan pernah menjuarai beberapa olimpiade sains mewakili sekolahnya di tingkat internasional. “Hai Felish, apa kamu sudah memesan hotel untuk pesta ku nanti?” Tanya Grace “Aku sudah usaha, tapi 5 hotel yang aku datangi sudah full semua. Maaf ya.” Felish menerangkan. “Nggak apa-apa, kamu kan sudah usaha. Kalau begitu biar aku saja yg urus. Makasih ya Felish sudah mau bantu aku !” sahut Grace. “Ok deh, ntar kalau kamu butuh bantuan lagi, nggak usah malu-malu minta tolong aku. Sudah dulu ya, besok kita sambung di sekolah, bye “  “bye-bye” Felish & Grace mengakhiri pembicaraannya.

                Felish & Grace adalah sahabat yang tak dapat di pisahkan, mereka sudah seperti saudara kandung. Mereka bersahabat sejak SMP, hingga kini mereka duduk di kelas 3 SMA. Dua minggu lagi Grace akan berulang tahun ke 17. Bagi beberapa kalangan, ulang tahun ke 17 adalah moment yang paling berharga. Karena di usia ini mereka bukan lagi anak-anak, melainkan sudah beranjak menjadi remaja.

                Setelah liburan akhir pekan usai, para siswa-siswa SMA Tunas Bangsa kembali bersekolah seperti biasanya. Begitu pula dengan Felish, Grace dan Thestral. Sebelum pelajaran dimulai, Felish & Grace selalu menyempatkan diri untuk membaca di perpustakaan sekolah. Sebenarnya Grace hanya menemani Felish saja. Ketika mereka sedang serius membaca buku, datanglah Thestral.  Thestral adalah ketua OSIS di sekolah mereka, dia tampan, berkulit putih & tinggi. Ia juga humoris, sampai terkadang susah diajak bicara serius. Dia juga merupakan anak seorang jutawan yang memiliki beberapa cabang Pom bensin, mall, dan showroom mobil. Namun kekayaannya itu tidak membuat ia sombong.

                Secara tiba-tiba Thestral berada di belakang Felish & Grace yang sedang duduk tenang sambil asyik membaca. Lalu Thestral dengan sengaja menarik rambut mereka berdua. “Aduh” teriak Grace, “siapa sih, pasti orang paling jail di sekolah ini !” ucap Felish seraya menoleh kebelakang. “Hai.” Ucap Thestral tanpa rasa bersalah. “ssstttt…..” terdengar isyarat penjaga perpus untuk menyuruh mereka bertiga diam. “Maaf.” Kata Thestral sambil duduk di kursi sebelah Felish. “Tumben pagi-pagi begini udah ke perpus. Bawa buku matematika. Mimpi apa semalam?” Tanya Grace sedikit meledek, karena biasanya Thestral sebelum masuk hanya di ruang kelas mengerjakan PRnya yang belum tuntas. “Aku..” sebelum Thestral sempat menyalesaikan kalimatnya, Felish memotong “Tunggu, biar aku ramal. Pasti mau tanya PR matematika ya?!” tebak Felish. “Hehe.. koq tahu?!” jawab Thestral sedikit malu. “Ya sudah deh, kita bantu!” lanjut Grace. “Thanks ya !” kata Thestral.

                Sedangkan dari sisi lain, dua pasang mata memperhatikan mereka. Salah seorang berkata “wah, senang banget ya kalau bisa menjadi salah satu dari mereka bertiga. Felish cantik, tinggi, berkulit putih, pintar, nggak sombong, di sayangi guru pula. Grace juga tidak jauh berbeda dengan Felish. Hanya saja Grace lebih populer dibanding Felish, karena dia seorang model. Thestral anak paling kaya di sekolah ini, tampan, sampai-sampai ia di juluki “perfect boy”. Pokoknya mereka sempurna deh !”  “Iya, jadi iri lihat mereka.” Sahut salah seorang yang lain.

Tidak terasa, bel masuk sekolah pun berbunyi. Mereka bertiga menuju ruang kelas untuk mengikuti pelajaran. Waktu serasa berlari, tepat pukul 10.00 bel istirahat berbunyi. “Hei, kalian nggak ke kantin? Pada ngomongin apa sih? Ngomongin aku ya?” kalimat yang dilontarkan oleh Thestral ini sama sekali tak di hiraukan oleh Felish & Grace yang sedang asyik berbincang-bincang. “Ih tega banget sih?!” tambah Thestral. “Oh ada Thestral ! dikira kamu tadi bukan ngomong sama kita” sahut Felish. “Trus ngomong sama siapa? Kan yang ada di kelas cuma kalian” Tanya Thestral. “sama tembok,” jawab Grace “memangnya aku sudah nggak waras?!” “nggak sih, baru tanda-tanda.” Sahut Felish. “sudah, nggak usah di bahas lagi.” kata Thestral sedikit kesal. “ya deh, tadi barusan kita tuh lagi ngomongin tentang acara ulang tahun ku nanti. Ada masalah nih, soalnya aku belum dapat tempat yang cocok. Semua hotel sudah penuh.” Grace menjelaskan. “Kenapa nggak di rumah aja?! Lagi pula rumahmu kan besar & luas banget.” Saran Thestral. “Rencananya sih begitu, tapi kan kalau di rumah lebih repot!” kata Grace. “Tenang aja, kita pasti bantu, apa sih yang nggak buat sahabat?! Ya kan?”ucap Felish “ya dong, Felish.” Sahut Thestral.

Tanpa terasa, ketika mereka sedang mengobrol waktu menunjukkan pukul 10.30 yang berarti mereka harus kembali melanjutkan pelajaran. Pukul 12.30 seharusnya mereka pulang, tetapi karena mereka sekarang sudah kelas 3 SMA yang akan melaksanakan Ujian Nasional, maka sekolah memberikan tambahan materi pelajaran sampai pukul 14.30 .

Sabtu pagi yang cerah, Felish sedang duduk sendirian di bangku taman sekolah sambil membaca buku. Melihat Felish sendiri, Thestral menghampirinya “Felish, koq sendirian sih? Mana Grace?” Tanya Thestral sambil celingukan mencari Grace. “Tadi setelah ekskul dia langsung pulang, katanya dia mau memesan undangan. Kan ulang tahunnya tinggal 3 hari lagi.” Jelas Felish. “Oh gitu ya, boleh aku duduk di sebelahmu?”  “Boleh, duduk aja!” Felish merasa jika hari ini ada yang kurang beres dengan Thestral. Tidak biasanya dia bisa berbicara dengan serius. Suasana di sekolah saat itu sangatlah sepi, karena di hari Sabtu siswa-siswi hanya mengikuti ekskul & tidak ada pelajaran seperti hari-hari biasanya. “Ayo Thestral, kamu pasti bisa” ucap Thestral dalam hati. Tetapi Thestral tak memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya pada Felish. Padahal ini saat yang tepat. Thestral tak kehilangan akal, ia sudah membuat surat yang mewakili isi hatinya. Lalu dengan sengaja Thestral menaruh surat itu di tempat ia duduk & segera pergi, seraya berkata “hmm.. aku pulang duluan ya Felish!”

Setelah Thestral sudah pergi menjauh, Felish baru menyadari jika ada sepucuk surat di sampingnya dan kemudian membacanya. Ternyata itu adalah surat cinta milik Thestral yang di tujukan pada Felish. Ternyata cinta Felish tidak bertepuk sebelah tangan. Segera ia berlari pulang untuk menjawab isi hati Thestral. Tentu saja ia akan bilang “Ya” pada Thestral. Sungguh tak dapat di ungkapkan perasaan Felish saat ini. Rasa bahagia yang tak terkira kini menghampiri dirinya.

Sesampainya di rumah, Felish langsung berlari ke kamarnya & cepat-cepat mengambil HPnya untuk segera menghubungi Thestral. Sejenak semua rasa itu melayang hilang, serasa diterpa oleh angin yang membawa ingatan Felish kembali ke masa lalu. Tiba-tiba ia terbayang akan ucapan Grace {“Felish, sebenarnya aku sudah memendam perasaan ini sejak pertama kali bertemu Thestral, aku jatuh cinta padanya. Aku akan melakukan apapun untuk bisa terus bersamanya. Tolong bantu aku Felish, kumohon!” “aku pasti akan menolongmu, aku janji” sahut Felish.} Felish tahu kalau Grace menyukai Thestral, tetapi Grace tidak mengetahui bahwa Felish juga menyukai Thestral.

Tak mungkin ia harus mengingkari janjinya, itu berarti Felish telah mengkhianati Grace. Dan ia akan kehilangan sahabat terbaiknya. Tetapi di sisi lain Felish juga tak ingin membuat Thestral patah hati “Apa yang harus ku lakukan sekarang?!” Felish bertanya-tanya dalam hati, ia bingung. Felish pun mencoba mengambil keputusan yang bijak, yang terbaik untuk keduanya. Akhirnya dia lebih berpihak pada Grace, dan merelakan kesempatan emasnya untuk menjalin hubungan dengan Thestral hilang begitu saja. Felish pun menelepon Thestral “Halo Thestral” “Halo Felish” sahut Thestral agak ragu. “Aku sekarang sudah mengerti perasaanmu terhadap ku, tapi maaf..” Felish berhenti sejenak dan berusaha keras untuk melanjutkan kalimatnya, sebenarnya ia juga tak tega untuk mengatakannya “aku nggak bisa terima cintamu. Karena ini bukan waktu yang tepat. Aku harap kamu bisa mengerti. Kita mungkin lebih baik berteman saja.” Felish menerangkan. “Ok, aku bisa terima ini. Tapi kenapa? Aku butuh penjelasanmu Felish.” Tanya Thestral dengan nada penuh kekecewaan. “Jujur, sebenarnya aku juga menyayangimu, dan berharap bisa menjalin hubungan yang lebih dari teman. Tetapi ada seseorang yang lebih menyayangimu daripada aku. Bahkan dia merasa jika kamu adalah orang yang tepat untuknya. Walau selama ini kamu nggak pernah menyadarinya. Dan kurasa dia memang cinta sejatimu!” Felish mengungkapkan.

“Siapa dia?” Tanya Thestral penasaran, “Dia adalah Grace” jawab Felish. “Grace?!” Thestral tidak percaya & sangat terkejut mendengar jawaban dari Felish. “iya, Grace. Ku harap kamu bisa mengambil keputusan yang terbaik. Jangan buat cintanya bertepuk sebelah tangan. Aku tahu kamu bisa menerima Grace. Cintailah dia yang mencintaimu, seperti kamu mencintai aku. Lakukan semuanya yang terbaik untuk ku.” Sebelum Thestral sempat menjawab perkataan Felish, Felish sudah menutup teleponnya.

Hari yang di tunggu-tunggu oleh Grace akhirnya tiba juga. Hari ulang tahun yang ke 17, hari yang bersejarah bagi ketiga sahabat ini. Acara dilaksanakan di rumah Grace yang amat sangat mewah. Pada pukul 19.00 acara di mulai & semua teman-teman Grace di undang dalam pesta ini. Namun pada pukul 17.00 Thestral & Felish sudah berada di rumah Grace. Beberapa menit sebelum acara di mulai, semua orang sudah berkumpul di halaman belakang rumah Grace dekat kolam renang. Thestral mendekati Grace dan berusaha memberanikan diri untuk berkata di depan banyak orang “Grace, aku mencintaimu. Dan aku berharap kita bisa menjalin hubungan yang lebih dari sekedar sahabat. Maukah kamu menjadi orang yang special untuk ku?” ucap Thestral walaupun sebenarnya hatinya terpaksa & terasa berat untuk mengatakannya. “ya ampun Thestral, benarkah itu?” Tanya Grace tak percaya. “Tentu saja Thestral,” jawab Grace dengan penuh kebahagiaan. Semua orang yang berada di situ terdiam, tak terdengar suara sekecil apa pun dari mereka. Setelah mendengar jawaban Grace semuanya pun bersorak sorai & bertepuk tangan. Namun Felish hanya bisa terdiam, tanpa terasa air matanya berlinang. Ia juga tak mengerti, air mata apakah ini? air mata haru karena melihat sahabatnya bahagia ataukah air mata kesedihan karena melihat cinta sejatinya berpaling pada sahabatnya sendiri. Yang jelas Felish mempunyai prinsip “kebahagiaan ku adalah ketika melihat sehabat ku bahagia, walau aku harus menderita sekalipun”. Sungguh, Felish adalah sahabat Sejati.

Berbulan-bulan Thestral dan Grace nampak makin serius dalam menjalin hubungan. Namun Thestral tetap tidak memiliki perasaan apa pun pada Grace, ia terpaksa menjalin hubungan dengannya. Karena keputusan ini bukan berasal dari hatinya sendiri, seakan-akan ia merasa bahwa ini hanyalah status palsu yang ia buat untuk menyenangkan hati Felish.

Hingga pada suatu saat semuanya ini terbongkar. Pada pukul 20.30 di kamar, Grace sedang menyalin catatan milik Felish karena sudah beberapa hari ini ia tidak masuk sekolah karena sakit. Ketika ia membuka halaman berikutnya, Grace menemukan sepucuk surat “surat apa ini?” Grace bertanya-tanya dalam hati & lalu ia membacanya. Grace terkejut dan tidak percaya dengan apa yang barusan ia baca. “Hah, ini surat cinta milik Felish dari Thestral. Jadi selama ini mereka berpacaran tanpa sepengetahuan ku?! Tak ku sangka, mereka kejam sekali!” Grace salah paham.

Keesokan harinya di sekolah, Grace benar-benar mengabaikan Felish, sampai beberapa minggu. Ketika disapa Felish, Grace berpura-pura tidak lihat. Saat ditanya & diajak ngobrol oleh Felish, Grace hanya diam saja, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Grace. Felish bingung & ia bercerita pada Thestral “Thestral, akhir-akhir ini kamu merasa ada yang aneh nggak sama Grace? Aku bener-bener di cuekin sama dia!” “iya, aku juga sama sekali tak di anggap oleh Grace. Aku sms nggak di balas, ku telepon nggak di angkat. Aku juga bingung. Aku ada ide!” kata Thestral. Lalu Thestral membisikkan idenya ke Felish. “Itu ide gila. Aku nggak setuju. Masa kita harus menculik Grace dulu, terus kita interogasi kaya teroris. Yang ada dia tambah marah sama kita.” “Terus gimana? Memangnya kamu ada ide lagi!” Tanya Thestral. Lalu Felish menjawab “Lebih baik kita ajak ketemuan di suatu tempat, terus kita ajak ngobrol baik-baik, gimana?” “Ok” sahut Thestral.

Lalu di hari Minggu malamnya mereka bertiga janjian di suatu restaurant, Grace bersedia datang untuk menemui kedua sahabatnya. Ketika ketiganya sudah datang suasana terasa sedikit tegang, “Grace ada apa sebenarnya, kenapa kamu bersikap seperti ini. Kalau kamu marah kasih tahu, masalah apa yang membuat kamu jadi kesal sama kita berdua?” Tanya Felish dengan lemah lembut. “Memangnya kalian nggak bisa instropeksi diri kalian masing-masing. Kalian memang nggak tahu diri, sudah bersalah masih aja nggak nyadar.” Seketika itu Grace langsung pergi meninggalkan Thestral & Felish. “ayo Felish, kejar!” ucap Thestral. Mereka berdua berlari mengikuti Grace yang hendak menaiki mobil pribadinya. Secepat kilat, tangan Thestral menahan Grace sambil berkata “Tunggu Grace kami belum mengerti permasalahanmu ini? Jelaskan dulu.”  “Apa kalian lupa dengan surat ini?” Tanya Grace sambil memegang surat cinta milik Felish di tangan kanannya. “ Jadi selama ini kalian berdua berpacaran di belakangku?! Aku nggak nyangka kalian bener-bener setega itu!” Grace terlihat benar-benar marah & sakit hati.

Lalu dibuangnya surat itu ke tanah dan Grace langsung mengalihkan pandangannya ke Felish “Felish, asal kamu tahu ya, aku sudah menganggap kamu lebih dari sekedar sahabat, aku menganggapmu sebagai saudara kandung ku. Tapi kamu jahat Felish, kamu kejam & sangat licik.” Felish hanya terdiam, mendengarkan semua kalimat negatif yang di lontarkan Grace padanya. “Tunggu, kamu harus mendengarkan penjelasan Felish dulu, kamu tak boleh main hakim sendiri!” “Baik, apa yang mau kau jelaskan lagi?” Tanya Grace yang emosinya sedikit mereda. Akhirnya Felish menjelaskan semuanya secara detail. Namun tak ada tanggapan dari Grace, ia langsung masuk ke mobilnya. “Grace tunggu!” kata Thestral seraya memukul-mukul kaca mobil Grace. Grace mengemudikan mobilnya dengan kencang & meninggalkan kedua sahabatnya. “Thestral, lebih baik kita mengikuti Grace dari belakang, perasaan ku dari tadi tidak enak” saran Felish. Mereka pun pergi menyusul Grace dengan memakai mobil kepunyaan Thestral. Sekitar pukul 22.00 jalan raya terlihat sangat lengang. Dari kejauhan nampak mobil Grace yang melaju secepat kilat, menuju arah rumahnya. Di dalam mobil, Grace terus memikirkan penjelasan Felish tadi. Dia percaya, tak mungkin sahabatnya berbohong. Tiba-tiba Grace kehilangan kendali, lalu ia melaju di jalur lawan arah. Sebuah truk besar dari arah sebaliknya melaju dengan cepat.

Dan kecelakaan pun tak dapat dihindarkan, Grace mengalami kecelakaan. Suasana di sekitar tempat kejadian mendadak menjadi ramai. Orang-orang yang berada di sana berusaha mengevakuasi Grace & supir truk. Felish & Thestral yang mengikuti dari belakang, secepat mungkin turun dari mobil dan memindahkan Grace ke dalam mobil Thestral. “Thestral, cepat antar Grace ke rumah sakit! Grace bertahanlah” ucap Felish seraya menggenggam tangan Grace yang berlumuran darah. Setibanya di rumah sakit Grace langsung dilarikan ke Ruang ICU. Kemudian Felish mengabarkan berita ini kepada orang tua Grace di rumah.

Selama 1 minggu lebih Grace mengalami koma, dan setelah ia sadarkan diri, Grace mengalami kelumpuhan. Beruntung kejadian ini terjadi ketika siswa-siswi SMA telah selesai mengikuti Ujian Negara & Ujian Sekolah. Mereka melanjutkan sekolah ke Universitas yang berbeda, Grace berkuliah di London, Inggris karena ia juga ingin melakukan pengobatan. Sedangakan Felish & Thestral berkuliah di Universitas yang sama. Kepergian Grace meninggalkan kekecewaan yang mendalam pada kedua temannya. Salah satu kalimat terakhir yang di ucapkan Grace saat berpisah masih teringat dalam benak Felish “Felish, maafkan ucapan ku yang telah menyakiti hatimu. Aku salah paham dengan masalah surat itu. Aku sudah menuduhmu yang bukan-bukan. Kurasa aku tidak akan pernah menemukan sahabat sejati sebaik dirimu, di kampus ku nanti. Selamat tinggal Felish, aku tahu suatu saat nanti kita pasti akan bertemu lagi.”

Setelah Grace pergi, tak berapa lama kemudian Felish & Thestral menjalin hubungan yang serius, sampai mereka berdua bertunangan. Beberapa tahun kemudian, setelah lulus kuliah Felish dan Thestral bekerja pada suatu perusahaan yang sama. Di kantor itu mereka bertemu kembali dengan Grace. Grace ternyata juga bekerja di situ. Grace sudah dapat berjalan dengan normal, bahkan dia juga telah bertunangan dengan seorang pria asing yang bernama Smith Richman.

Tips Membuat Kue Kering

Welcome December! 🙂

Tidak terasa kita sudah mulai memasuki bulan terakhir di tahun 2014 ini. Dan ini berarti Hari Natal sebentar lagi tiba. Saya sendiri merasa sangat senang jika bulan Desember, karena saya sudah mulai merasakan Christmas Atmosphere alias suasana Natal (sayangnya di Indonesia nggak ada salju). Natal sudah dekat, pastinya umat Kristiani sudah mulai mempersiapkan semuanya, mulai dari memasang pohon natal di rumah, membeli pakaian atau sepatu baru dkk, termasuk persiapan kue untuk tamu dan keluarga yang akan datang, dan masih banyak hal lagi. Sedangkan saya sendiri masih harus persiapan UTS di kampus (hiks hiks). ;(

Kalau kalian berniat untuk membuat kue sendiri, sekarang saya akan berbagi tips dalam membuat kue kering (seperti nastar, kaastengels, dan butter cookies). Hal-hal berikut ini biasanya dianggap sepele dan kurang diperhatikan saat membuat kue kering, tetapi sebenarnya cukup berpengaruh dengan keberhasilan kue yang kalian buat.

  1. Perhatikan tanggal kadaluarsa bahan, pastikan semua bahan yang digunakan harus segar.
  2. Tepung terigu yang digunakan sebaiknya berprotein rendah dan harus benar-benar kering. Sebelum digunakan harus diayak.
  3. Telur yang digunakan harus yang baru. Jika sebelumnya disimpan di dalam kulkas, telur harus dikeluarkan dan dibiarkan hingga mencapai suhu ruangan.
  4. Adonan sebaiknya dikocok tidak terlalu lama, karena akan melebar ketika dipanggang.
  5. Tepung terigu sebaiknya dimasukkan ke dalam adonan sedikit demi sedikit dan diaduk menggunakan sendok kayu (tidak menggunakan tangan) agar kue yang dihasilkan renyah dan tidak keras.
  6. Jika adonan terlalu lembek, masukkan adonan ke dalam kulkas dan diamkan selama 15 menit.
  7. Adonan kue dicetak dengan ketebalan yang sama agar matangnya merata.
  8. Jika kue sudah berwarna kekuningan dan bagian tepinya kering, segera dikeluarkan dari oven dan biarkan di atas loyang (jangan langsung diangkat) hingga kue dingin.