Pengalaman Casting Pertama

Bulan Juni kemarin saya sempat tertarik untuk mengikuti audisi model iklan salah satu produk kecantikan (facial wash). Awalnya saya mendapat info dari fanspagenya yang saya like di facebook. Di postingan facebook itu memberi tahu bahwa produk tersebut sedang mencari remaja putri usia 13-18 tahun untuk menjadi bintang iklannya. Jadi mereka mengadakan casting.

Tahap pertama saya diminta mengirimkan pesan melalui facebook yaitu foto close-up, data diri, dan menjawab pertanyaan ini:

  1. Apa pengalaman atau prestasi yang paling kamu banggain?
  2. Apa sih yang kamu ingin orang lain lihat dari diri kamu? Apa alasannya?

Lima hari kemudian, saya dapat telepon dari nomor tak dikenal. Waktu itu sekitar jam setengah 4 sore, saya masih tidur siang. Akhirnya saya jawab panggilan telepon itu dengan nyawa yang belum ngumpul sepenuhnya alias setengah sadar. Ternyata saya disuruh datang langsung ke kantor atau PH (Production House) untuk casting. Padahal menurut saya, wajah saya nggak cantik tapi juga nggak jelek. Yah biasa-biasa aja gitu. Saya benar-benar nggak nyangka kalau bisa lolos ke tahap selanjutnya. 😀

FDFDFD

Foto yang saya kirimkan

Perasaan saya waktu itu kaget banget dan senang pastinya!

Sebenarnya sih saya termasuk orang yang ‘demam panggung’, dan paling nggak bisa kalau disuruh tampil di depan banyak orang. Pasti saya langsung grogi, keringat dingin, gemetar, dan lain sebagainya. Tapi ini juga menjadi tantangan tersendiri buat diri saya.

Hmm, kira-kira pas casting nanti saya disuruh ngapain aja ya?

Pertanyaan ini yang terus berputar-putar di pikiran saya. Karena saya sama sekali nggak ada pengalaman casting sebelumnya. Ini CASTING PERDANA.

Well, selanjutnya saya akan sharing tentang pengalaman casting pertama saya.

Ketika saya sampai PH yang berada di suatu perumahan, saya baru tahu kalau ternyata bangunannya seperti rumah (bukan gedung kantor seperti yang saya bayangkan). Saat saya masuk, ternyata di dalam sudah banyak orang (yang ingin ikut casting dan yang mengantar). Saya sendiri juga ditemani orang tua saya, tapi papa hanya menunggu di mobil. Lalu saya dan mama saya duduk di kursi tunggu, dan ada seorang ibu-ibu yang memberi tahu saya untuk mengisi daftar nama (seperti absen), alamat, agency asal, tinggi & berat badan, ukuran pakaian, celana dan sepatu. Setelah itu menunggu, menunggu dan menunggu…

Setelah penantian panjang saya berakhir (kurang lebih 45 menit), pintu ruang casting terbuka. Beberapa remaja putri keluar dari sana, lalu ada seorang pria membawa kamera yang dikalungkan di lehernya berteriak “Yang mau casting masuk! 10 orang dulu ya”. ‘Kalau bukan caster, dia pasti fotografernya’ pikir saya saat itu.

Saat casting, pertama saya hanya difoto close-up dari serong kanan 2x (senyum biasa & senyum kelihatan gigi) dan foto full body dari depan 1x. Hanya tersenyum di depan kamera. Tentunya itu bukan hal yang sulit, justru menurut saya sangat mudah.

Kedua, saya diminta untuk memperkenalkan diri saya (menyebutkan nama panjang, nama panggilan dan umur). Setelah itu saya berjalan beberapa langkah ke kanan, lalu menoleh ke kamera dan tersenyum. Berjalan beberapa langkah ke kiri, lalu menoleh ke kamera lagi dan tersenyum. Mundur beberapa langkah dari kamera, memutarkan badan 1x, berjalan ke arah kamera (catwalk) dan diakhiri dengan berpose. Dibagian kedua ini saya masih bisa menjalaninya dengan baik walau sedikit grogi.

Bagian ketiga ini, saya hanya disuruh duduk dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari caster. Tapi jangan kepikiran dulu, yang diberikan cuma pertanyaan-pertanyaan sepele koq, bukan seperti pertanyaan soal matematika, fisika, sejarah, dan kawan-kawannya, hehehe. Misalnya, ‘Apa arti bahagia menurut kamu?’, ‘Kebersihan itu apa?’ , ‘Bagaimana teman yang baik menurut kamu?’ atau ‘Bangga nggak dengan diri sendiri? Alasannya?’ dan sebagainya. Yang dilihat pada bagian ketiga ini adalah ekspresi wajah, cara berbicara, body language, dan mungkin juga wawasan. Nah, dibagian ini saya mulai merasa kesulitan. Selain karena ‘demam panggung’ yang mulai muncul dan membuat ucapan saya terbata-bata, saya itu bukan orang yang ekspresif. Teman-teman saya di sekolah aja manggil saya ‘gadis tanpa ekspresi’ atau ‘gadis misterius’ karena ekspresi saya emang datar banget. Saya masih bersyukur karena casting ini nggak sampai disuruh acting (haduh, nggak kebayang gimana jadinya).  -_-

Setelah itu, saya langsung diperbolehkan pulang dan jika lolos casting nanti akan dihubungi kembali. Saya pribadi nggak terlalu berharap bisa lolos, karena melihat yang lain lebih berpengalaman dibanding saya. Lolos atau nggak sih itu urusan nanti, yang penting saya sudah tahu bagaimana rasanya ikut casting dan pernah punya pengalaman. Kalau ditanya berminat ikut casting lagi atau nggak, jawaban saya sih sepertinya nggak. Karena saya merasa nggak punya bakat di bidang entertainment, kalau diberi kesempatan saya lebih memilih yang di belakang layar. Misalnya menjadi sutradara, penulis naskah film, atau editor film. Sebelum masuk jurusan psikologi, sebenarnya saya berniat melanjutkan kuliah di bidang perfilman. Sayangnya, situasi dan kondisi sepertinya tidak mengijinkan saya untuk kuliah di jurusan tersebut.

Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca, semoga bermanfaat! ^_^

 

>>> Selanjutnya Tips Casting dengan Sukses

Advertisements

3 thoughts on “Pengalaman Casting Pertama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s