Tips Casting dengan Sukses

Nah, buat para pemula atau kamu yg berminat terjun ke dunia entertainment dan mungkin bingung saat akan melakukan casting, berikut ada beberapa tips agar melewati casting dengan sukses yg bisa kamu lakukan.

Siapkan mental 
Sebisa mungkin gali informasi sebanyak mungkin tentang casting yang Anda lakukan agar menguasai “medan”. Misalnya karakter desainer (bila casting model catwalk), karakter produk (bila casting iklan), atau karakter program/stasiun TV untuk casting presenter. Dengan begitu secara mental Anda akan merasa siap menghadapi casting sekaligus menghindari kesalahan yang tidak perlu.

Pilih kostum yang tepat
Setelah mengetahui detail casting yang akan Anda jalani, sesuaikan kostum Anda. Jangan pernah berdandan atau bergaya berlebihan untuk menarik perhatian, tapi bergayalah seusai karakter yang dibutuhkan oleh user. Salah kostum pada saat casting selain mengurangi rasa percaya diri juga membuat Anda tak fokus karena salah tingkah.

Bisa karena biasa
Mencari referensi untuk latihan berjalan di atas catwalk, berpose, berakting atau berbicara di depan kamera penting dilakukan. Selain membantu Anda lebih percaya diri juga dapat membantu Anda memberikan penampilan yang terbaik pada saat casting.

Tepat waktu
Apabila casting-nya by appointment, usahakan untuk datang tepat waktu. Anda tidak mau ‘kan membuat klien mempertanyakan profesionalisme Anda. Tetapi apabila memang Anda sudah berusaha untuk datang tepat waktu tetapi ada halangan, usahakan untuk memberitahu pihak klien situasi Anda supaya mereka tidak menunggu tanpa kabar.

Jadilah diri sendiri 
Walaupun harus menyesuaikan tampilan dengan karakter yang diminta bukan berarti Anda harus menjadi orang lain. Tetap jadilah diri sendiri karena dengan berpura-pura menjadi orang lain akan terlihat berlebihan.

Bersikap santun
Jagalah sikap dan sopan santun Anda di tempat casting, karena Anda layaknya tamu yang mendatangi kantor orang lain. Sapalah semua orang begitu Anda datang dan ucapkan terima kasih serta berpamitan begitu sudah selesai. Sepele, tapi meninggalkan kesan pertama yang ramah tak pernah merugikan.

Percaya diri
Tanamkan rasa percaya diri pada diri Anda, sehingga Anda dapat menunjukkan kemampuan semaksimal mungkin. Rasa rendah diri atau malah terlalu percaya diri tidak akan berguna, karena keduanya justru bisa menghambat Anda untuk mengerahkan segala kemampuan.

Berhati-hati dan tetap waspada
Mengingat kasus yang dulu pernah terjadi, Anda juga harus waspada terhadap pihak-pihak “nakal”. Tidak pernah ada produk atau program yang memungut biaya untuk casting. Casting itu gratis. Dan, tak ada casting yang akan meminta model/TV host untuk  membuka baju dalam proses pemilihan.

Untuk iklan sabun atau perawatan kulit, gunakan kemben dan celana pendek, bila mereka menginginkan lebih dari itu sebaiknya Anda memilih sikap untuk mundur saja. Usahakan juga ada yang menemani pada saat casting di tempat yang kurang familiar bagi Anda.

Berikan yang terbaik 
Setelah semua doa dan usaha sudah dipersiapkan dan lakukan sebaik mungkin, tinggal menunggu dengan positif akan hasilnya. Apabila setelah seminggu belum ada kabar dan Anda penasaran, tidak ada salahnya Anda menghubungi pihak klien untuk menanyakan hasilnya. Dan jangan lupa, apabila bukan Anda yang terpilih, berusahalah untuk tetap bersikap sportif.

Jangan menyerah
Tidak lolos casting bukan alasan untuk menyerah. Saya mengerti perasaan kesal pasti ada, karena saya  juga pernah merasa berkecil hati karena tidak lolos casting. Obat untuk perasaan itu hanya satu: kembali lagi menjalani casting lain yang ada. Sebab, pada akhirnya pasti akan ada casting yang lolos karena karakternya cocok dengan  Anda. Jadi, jangan pernah menyerah!

Yang penting untuk diingat adalah: tidak lolos casting tak selalu berarti Anda tidak berbakat. Bisa saja karena karakter Anda belum cocok dengan apa yang dicari klien. Tak perlu berkecil hati, selalu jadikan kegagalan sebagai kesuksesan yang tertunda.

Advertisements

Pengalaman Casting Pertama

Bulan Juni kemarin saya sempat tertarik untuk mengikuti audisi model iklan salah satu produk kecantikan (facial wash). Awalnya saya mendapat info dari fanspagenya yang saya like di facebook. Di postingan facebook itu memberi tahu bahwa produk tersebut sedang mencari remaja putri usia 13-18 tahun untuk menjadi bintang iklannya. Jadi mereka mengadakan casting.

Tahap pertama saya diminta mengirimkan pesan melalui facebook yaitu foto close-up, data diri, dan menjawab pertanyaan ini:

  1. Apa pengalaman atau prestasi yang paling kamu banggain?
  2. Apa sih yang kamu ingin orang lain lihat dari diri kamu? Apa alasannya?

Lima hari kemudian, saya dapat telepon dari nomor tak dikenal. Waktu itu sekitar jam setengah 4 sore, saya masih tidur siang. Akhirnya saya jawab panggilan telepon itu dengan nyawa yang belum ngumpul sepenuhnya alias setengah sadar. Ternyata saya disuruh datang langsung ke kantor atau PH (Production House) untuk casting. Padahal menurut saya, wajah saya nggak cantik tapi juga nggak jelek. Yah biasa-biasa aja gitu. Saya benar-benar nggak nyangka kalau bisa lolos ke tahap selanjutnya. 😀

FDFDFD

Foto yang saya kirimkan

Perasaan saya waktu itu kaget banget dan senang pastinya!

Sebenarnya sih saya termasuk orang yang ‘demam panggung’, dan paling nggak bisa kalau disuruh tampil di depan banyak orang. Pasti saya langsung grogi, keringat dingin, gemetar, dan lain sebagainya. Tapi ini juga menjadi tantangan tersendiri buat diri saya.

Hmm, kira-kira pas casting nanti saya disuruh ngapain aja ya?

Pertanyaan ini yang terus berputar-putar di pikiran saya. Karena saya sama sekali nggak ada pengalaman casting sebelumnya. Ini CASTING PERDANA.

Well, selanjutnya saya akan sharing tentang pengalaman casting pertama saya.

Ketika saya sampai PH yang berada di suatu perumahan, saya baru tahu kalau ternyata bangunannya seperti rumah (bukan gedung kantor seperti yang saya bayangkan). Saat saya masuk, ternyata di dalam sudah banyak orang (yang ingin ikut casting dan yang mengantar). Saya sendiri juga ditemani orang tua saya, tapi papa hanya menunggu di mobil. Lalu saya dan mama saya duduk di kursi tunggu, dan ada seorang ibu-ibu yang memberi tahu saya untuk mengisi daftar nama (seperti absen), alamat, agency asal, tinggi & berat badan, ukuran pakaian, celana dan sepatu. Setelah itu menunggu, menunggu dan menunggu…

Setelah penantian panjang saya berakhir (kurang lebih 45 menit), pintu ruang casting terbuka. Beberapa remaja putri keluar dari sana, lalu ada seorang pria membawa kamera yang dikalungkan di lehernya berteriak “Yang mau casting masuk! 10 orang dulu ya”. ‘Kalau bukan caster, dia pasti fotografernya’ pikir saya saat itu.

Saat casting, pertama saya hanya difoto close-up dari serong kanan 2x (senyum biasa & senyum kelihatan gigi) dan foto full body dari depan 1x. Hanya tersenyum di depan kamera. Tentunya itu bukan hal yang sulit, justru menurut saya sangat mudah.

Kedua, saya diminta untuk memperkenalkan diri saya (menyebutkan nama panjang, nama panggilan dan umur). Setelah itu saya berjalan beberapa langkah ke kanan, lalu menoleh ke kamera dan tersenyum. Berjalan beberapa langkah ke kiri, lalu menoleh ke kamera lagi dan tersenyum. Mundur beberapa langkah dari kamera, memutarkan badan 1x, berjalan ke arah kamera (catwalk) dan diakhiri dengan berpose. Dibagian kedua ini saya masih bisa menjalaninya dengan baik walau sedikit grogi.

Bagian ketiga ini, saya hanya disuruh duduk dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari caster. Tapi jangan kepikiran dulu, yang diberikan cuma pertanyaan-pertanyaan sepele koq, bukan seperti pertanyaan soal matematika, fisika, sejarah, dan kawan-kawannya, hehehe. Misalnya, ‘Apa arti bahagia menurut kamu?’, ‘Kebersihan itu apa?’ , ‘Bagaimana teman yang baik menurut kamu?’ atau ‘Bangga nggak dengan diri sendiri? Alasannya?’ dan sebagainya. Yang dilihat pada bagian ketiga ini adalah ekspresi wajah, cara berbicara, body language, dan mungkin juga wawasan. Nah, dibagian ini saya mulai merasa kesulitan. Selain karena ‘demam panggung’ yang mulai muncul dan membuat ucapan saya terbata-bata, saya itu bukan orang yang ekspresif. Teman-teman saya di sekolah aja manggil saya ‘gadis tanpa ekspresi’ atau ‘gadis misterius’ karena ekspresi saya emang datar banget. Saya masih bersyukur karena casting ini nggak sampai disuruh acting (haduh, nggak kebayang gimana jadinya).  -_-

Setelah itu, saya langsung diperbolehkan pulang dan jika lolos casting nanti akan dihubungi kembali. Saya pribadi nggak terlalu berharap bisa lolos, karena melihat yang lain lebih berpengalaman dibanding saya. Lolos atau nggak sih itu urusan nanti, yang penting saya sudah tahu bagaimana rasanya ikut casting dan pernah punya pengalaman. Kalau ditanya berminat ikut casting lagi atau nggak, jawaban saya sih sepertinya nggak. Karena saya merasa nggak punya bakat di bidang entertainment, kalau diberi kesempatan saya lebih memilih yang di belakang layar. Misalnya menjadi sutradara, penulis naskah film, atau editor film. Sebelum masuk jurusan psikologi, sebenarnya saya berniat melanjutkan kuliah di bidang perfilman. Sayangnya, situasi dan kondisi sepertinya tidak mengijinkan saya untuk kuliah di jurusan tersebut.

Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca, semoga bermanfaat! ^_^

 

>>> Selanjutnya Tips Casting dengan Sukses

Resensi “Robohnya Surau Kami”

“Robohnya Surau Kami”

Judul             : Robohnya Surau Kami
Pengarang    : A.A. Navis
Tahun            : Cetakan ketujuh belas: November 2010
Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama
Dimensi         : 142 halaman
ISBN               : 978-979-22-6129-5
Harga Buku   : Rp 18.500,00


• SINOPSIS

Di suatu tempat ada sebuah surau tua yang nyaris ambruk. Hanya karena seseorang yang datang ke sana dengan keikhlasan hatinya dan izin dari masyarakat setempat, surau itu hingga kini masih tegak berdiri. Orang itulah yang merawat dan menjaganya. Kelak orang ini disebut sebagai Garin. Meskipun orang ini dapat hidup karena sedekah orang lain, tetapi ada yang paling pokok yang membuatnya bisa bertahan, yaitu dia masih mau bekerja sebagai pengasah pisau. Dari pekerjaannya inilah dia dapat mengais rejeki, apakah itu berupa uang, makanan, kue-kue atau rokok. Kehidupan orang ini agaknya monoton. Dia hanya mengasah pisau, menerima imbalan, membersihkan dan merawat surau, beribadah di surau dan bekerja hanya untuk keperluannya sendiri. Dia tidak ngotot bekerja karena dia hidup sendiri. Hasil kerjanya tidak untuk orang lain, apalagi untuk anak dan istrinya yang tidak pernah terpikirkan.Suatu ketika datanglah Ajo Sidi untuk berbincang-bincang dengan penjaga surau itu. Lalu, keduanya terlibat perbincangan yang mengasyikan. Akan tetapi, sepulangnya Ajo Sidi, penjaga surau itu murung, sedih, dan kesal. Karena dia merasakan, apa yang diceritakan Ajo Sidi itu sebuah ejekan dan sindiran untuk dirinya. Dia memang tak pernah mengingat anak dan istrinya tetapi dia pun tak memikirkan hidupnya sendiri sebab dia memang tak ingin kaya atau bikin rumah. Segala kehidupannya lahir batin diserahkannya kepada Tuhannya. Dia tak berusaha mengusahakan orang lain atau membunuh seekor lalat pun. Dia senantiasa bersujud, bersyukur, memuji, dan berdoa kepada Tuhannya. Apakah semua ini yang dikerjakannya semuanya salah dan dibenci Tuhan ? Atau dia ini sama seperti Haji Saleh yang di mata manusia tampak taat tetapi dimata Tuhan dia itu lalai. Akhirnya, kelak ia dimasukkan ke dalam neraka. Penjaga surau itu begitu memikirkan hal ini dengan segala perasaannya. Akhirnya, dia tak kuat memikirkan hal itu. Kemudian dia memilih jalan pintas untuk menjemput kematiannya dengan cara menggorok lehernya dengan pisau cukur. Kematiannya sungguh mengejutkan masyarakat di sana. Semua orang berusaha mengurus mayatnya dan menguburnya. Kecuali satu orang saja yang tidak begitu peduli atas kematiannya. Dialah Ajo Sidi, yang pada saat semua orang mengantar jenazah penjaga surau dia tetap pergi bekerja.

• UNSUR INTRINSIK

1. Tema

Tema cerpen ini adalah seorang kepala keluarga yang lalai menghidupi keluarganya.

2. Amanat

Navis seperti ingin mengingatkan kita yang seringkali berpuas diri dalam ibadah, tapi sesungguhnya lupa memaknai ibadah itu sendiri. Kita rajin shalat, mengaji dan kegiatan ritual keagamaan lainnya karena kita takut masuk neraka. Kita menginginkan pahala dan keselamatan hanya untuk diri kita sendiri. Kita melupakan kebutuhan orang lain. Karenanya kita tidak merasa berdosa dan bersalah ketika mengambil hak orang lain, menyakiti perasaan sesama atau bahkan melakukan ketidakjujuran dan kemaksiatan di muka bumi.

Amanat-amanat yang dimaksud itu di antaranya:
(a) Jangan cepat marah kalau ada orang yang mengejek atau menasehati kita karena ada perbuatan kita yang kurang layak di hadapan orang lain.
“Marah ? Ya, kalau aku masih muda, tetapi aku sudah tua. Orang tua menahan ragam. Sudah lama aku tak marah-marah lagi. Takut aku kalau imanku rusak karenanya, ibadahku rusak karenanya. Sudah begitu lama aku berbuat baik, beribadah bertawakkal kepada Tuhan .…”(hlm. 9)
Dari ucapan kakek Garin itu jelas tegambar pandangan hidup/cita-cita pengarangnya mengenai karangan untuk cepat marah.

(b) Jangan cepat bangga akan perbuatan baik yang kita lakukan karena hal ini bisa saja baik di hadapan manusia tetapi tetap kurang baik di hadapan Tuhan itu. Coba saja tengok pengalaman tokoh yang bernama Haji Saleh ketika dia disidang di akhirat sana:
“Alangkah tercengangnya Haji Saleh, karena di Neraka itu banyak teman-temannya didunia terpanggang hangus, merintih kesakitan. Dan tambah tak mengerti lagi dengan keadaan dirinya, karena semua orang-orang yang dilihatnya di Neraka itu tak kurang ibadahnya dari dia sendiri. Bahkan ada salah seorang yang telah sampai 14 kali ke Mekkah dan bergelar Syekh pula.”(hlm. 12-13).

(c) Kita jangan terpesona oleh gelar dan nama besar sebab hal itu akan mencelakakan diri pemakainya.

(d) Jangan menyia-nyiakan apa yang kamu miliki, untuk itu cermati sabda Tuhan dalam cerpen ini:
“…, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua, sedang harta bendamu kau biarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas, kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang Aku menyuruh engkau semuanya beramal disamping beribadat. Bagaimana engkau bisa beramal kalau engkau miskin .…”(hlm. 15).

(e) Jangan mementingkan diri sendiri, seperti yang disabdakan Tuhan.
”…. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat bersembahyang, tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan kehidupan anak istrimu sendiri, sehingga mereka itu kucar kacir selamanya. Inilah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis, padahal engkau didunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak memperdulikan mereka sedikitpun.”(hlm. 16)

3. Latar

-Latar Tempat : kota, dekat pasar, di surau, dan sebagainya
“Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar. Melangkahlah menyusuri jalan raya arah ke barat. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tuan di jalan kampungku. Pada simpang kecil kekanan, simpang yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu. Dan di ujung jalan itu nanti akan tuan temui sebuah surau tua. Di depannya ada kolan ikan, yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi.”(hal:1).

-Latar Waktu : Beberapa tahun yang lalu.
“Pada suatu waktu,” kata Ajo Sidi memulai, “..di Akhirat Tuhan Allah memeriksa orang-orang yang sudah berpulang ….” (hal. 10)

“Jika tuan datang sekarang, hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kebencian yang bakal roboh ………”

Sekali hari aku datang pula mengupah kepada kakek (hal. 8)

“Sedari mudaku aku di sini, bukan ?….” (hal.10)

-Latar Sosial
Di dalam latar ini umumnya menggambarkan keadaan masyarakat, kelompok-kelompok sosial dan sikapnya, kebiasaannya, cara hidup, dan bahasa.
“Dan di pelataran surau kiri itu akan tuan temui seorang tua yang biasanya duduk disana dengan segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Sudah bertahun-tahun Ia sebagai Garim, penjaga surau itu. Orang-orang memanggilnya kakek.” (hlm. 7).

4. Alur (plot)

Alur cerpen ini adalah alur mundur karena ceritanya mengisahkan peristiwa yang telah berlalu yaitu sebab-sebab kematian kakek Garin. Sedangkan strukturnya berupa bagian awal, tengah, dan akhir. Adapun alur mundurnya mulai muncul di akhir bagian awal dan berakhir di awal bagian akhir.

5. Penokohan

Tokoh-tokoh penting dalam cerpen ini ada empat orang, yaitu tokoh Aku, Ajo Sidi, Kakek, dan Haji Soleh

(a) Tokoh Aku: berwatak selalu ingin tahu urusan orang lain.
Tokoh ini begitu berperan dalam cerpen ini. Dari mulutnya kita bisa mendengar kisah si Kakek yang membunuh dirinya dengan cara menggorok lehernya dengan pisau. Pengarang menggambarkan tokoh ini sebagai orang yang ingin tahu perkara orang lain.
“Tiba-tiba aku ingat lagi pada Kakek dan kedatangan Ajo Sidi kepadanya. Apakah Ajo Sidi tidak membuat bualan tentang kakek ? Dan bualan itukah yang mendurjakan kakek ? Aku ingin tahu. Lalu aku tanya pada kakek lagi: “Apa ceritanya, kek ?”

“Ingin tahuku dengan cerita Ajo Sidi yang memurungkan Kakek jadi memuncak. Aku tanya lagi kakek : “Bagaimana katanya, kek ?”.(hlm.9).

“Astaga. Ajo Sidi punya gara-gara,” kataku seraya ceepat-ceepat meninggalkan istriku yang tercengang-cengang. Aku cari AjoSidi ke rumahnya. Tapi aku berjumpa sama istrinya saja. Lalu aku tanya dia.(hlm.16).

(b) Ajo Sidi: berwatak orang yang suka membual.
Tokoh ini sangat istimewa. Secara jelas tokoh ini disebut sebagai si tukang bual. Sebutan ini muncul melalui mulut tokoh Aku. Menurut si tokoh Aku, Ajo Sidi disebutkan sebagai si tukang bual yang hebat karena siapa pun yang mendengarnya pasti terpikat.
“….Maka aku ingat Ajo Sidi, si pembual itu. Sudah lama aku tak ketemu dia. Dan aku ingin ketemu dia lagi. Aku senang mendengar bualannya. Ajo Sidi bisa mengikat orang-orang dengan bualannya yang aneh-aneh sepanjang hari. Tapi ini jarang terjadi karena ia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Sebagai pembual, sukses terbesar baginya ialah karena semua pelaku-pelaku yang diceritakannya menjadi pemeo akhirnya. Ada-ada saja orang di sekitar kampungku yang cocok dengan watak pelaku-pelaku ceritanya….”(hlm.8-9).

(c) Kakek: berwatak orang yang egois dan lalai, mudah dipengaruhi dan mempercayai orang lain dan lemah imannya.
Tokoh ini agaknya menjadi tokoh sentral. Dia menjadi pusat cerita. Oleh si pengarang tokoh ini digambarkan sebagai orang yang mudah dipengaruhi dan gampang mempercayai omongan orang, pendek akal dan pikirannya, serta terlalu mementingkan diri sendiri dan lemah imannya.
“ Sedari mudaku aku di sini, bukan ? tak kuingat punya istri, punya anak, punya keluarga seperti orang-orang lain, tahu? Tak terpikirkan hidupkusendiri…”(hlm.10).

(d) Haji Soleh: berwatak orang yang terlalu mementingkan diri sendiri.
Tokoh ini adalah ciptaan Ajo Sidi. Pemunculannya sengaja untuk mengejek atau menyindir orang lain. Watak tokoh ini digambarkan sebagai orang terlalu mementingkan diri sendiri.

6. Sudut Pandang

Di dalam cerpen ini pengarang memposisikan dirinya dalam cerita ini sebagi tokoh utama atau akuan sertaan sebab secara langsung pengarang terlibat di dalam cerita dan ini terasa pada bagian awal cerita. Selain itu pengarang pun berperan sebagai tokoh bawahan ketika si kakek bercerita tentang Haji Soleh di depan tokoh aku.

7. Gaya bahasa

Di dalam cerpen ini ternyata pengarang menggunakan kata-kata yang biasa digunakan dalam bidang keagamaan (Islam), seperti garin, Allah Subhanau Wataala, Alhamdulillah, Astagfirullah, Masya-Allah, Akhirat, Tawakal, dosa dan pahala, Surga, Tuhan, beribadat menyembah-Mu, berdoa, menginsyafkan umat-Mu, hamba-Mu, kitab-Mu, Malaikat, neraka, haji, Syekh, dan Surau serta fitrah Id, juga Sedekah.
Selain ini, pengarang pun menggunakan pula simbol dan majas. Simbol yang terdapat dalam cerpen ini tampak jelas pula judulnya, yakni Robohnya Surau Kami.
Sedangkan majas yang digunakan dalam cerpen ini di antaranya majas alegori karena di dalam cerita ini cara berceritanya menggunakan lambang.
Di dalam cerpen ini pengarang benar-benar memanfaatkan kata-kata. Gaya bahasanya sulit di pahami, gaya bahasanya menarik dan pemilihan katanya pun dapat memperkaya kosa kata siswa dalam hal bidang keagaman.

• UNSUR EKSTRINSIK :

• Nilai Sosial:
Kita harus saling membantu jika orang lain dalam kesusahan seperti dalam cerpen tersebut karena pada hakekatnya kita adalah makhluk sosial.

• Nilai Moral :
Kita sebagai sesama manusia hendaknya jangan saling mengejek atau menghina orang lain tetapi harus saling menghormati.

• Nilai Agama :
Kita harus selau malakukan kehendak Allah dan jangan melakukan hal yang dilarang oleh-Nya seperti bunuh diri, mencemooh dan berbohong.

• Nilai Pendidikan :
Kita tidak boleh putus asa dalam menghadapi kesulitan tetapi harus selalu berusaha dengan sekuat tenaga dan selalu berdoa.

• Nilai Adat :
Kita harus menjalankan segala perintah Tuhan dan memegang teguh nilai- nilai dalam masyarakat.
• Hal-hal yang menarik

(1) Surau tidak difungsikan, anak-anak menggunakannya sebagai tempat bermain berbagai macam kesukaan, dan perempuan sering mencopoti papan atau lantai di malam hari untuk dijadikan kayu bakar. Bersikap masa bodoh dan tidak memelihara sebagai mana mestinya,
(2) Bualan Ajo Sidi tentang kejadian di neraka membuat si kakek akhirnya muram dan akhirnya bunuh diri.
(3) Seorang laki-laki menikah dan hanya mengabdikan hidupnya sepanjang hari di surau tanpa memikirkan hidup duniawi harta ataupun kekayaan, dan melalaikan tugasnya sebagai seorang suami dan seorang ayah.
(4) Taat beribadah saja, membiarkan negara kacau balau, melarat, hasil bumi dikuasai negara lain tanpa memikirkan kehidupan anak cucu, pemalas dan tidak mau bekerja,
(5) Melakukan perbuatan sesat dengan cara bunuh diri,
(6) Ajo Sidi tidak ikut melayat orang yang meninggal akibat bualannya, hanya berpesan agar dibelikan kain kafan 7 lapis sedangkan dai tetap pergi bekerja.

• Keunggulan dan Kelemahan

Keunggulan dari cerita robohnya surau kami terletak pada bagaimana A.A. Navis mengakhiri cerita dengan kejadian yang tak terduga, lalu pada teknik penceritaan A.A.Navis yang tidak biasa pada saat itu. Tidak biasanya karena Navis menceritakan suatu peristiwa yang terjadi di alam lain. Bahkan di sana terjadi dialog antara tokoh manusia dengan Sang Maha Pencipta. Kelemahannya terletak pada gaya bahasa yang terlalu tinggi, sehingga sulit untuk dibaca.
Unsur perkampungan juga memberi latar yang pas dalam penceritaan. Pembaca dibawa menelusuri latar perkampungan yang masih kental. Dimana anak-anak bermain di surau, ataupun ibu-ibu yang suka mencopoti papan pada malam hari untuk kayu bakar.

• Kesimpulan
Cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis ini memang sebuah sastra (cerpen) yang menarik dan baik. Hal ini dapat dilihat dari unsur-unsur intrinsik dan kesesuaiannya sebagai bahan pembelajaran.
Berdasarkan uraian di atas, maka cerpen “Robohnya Surau Kami” juga sangat cocok dan layak jika dijadikan bahan ajar dalam pembelajaran karena bahasa yang digunakannya bisa dipahami. Tokoh-tokohnya pun tidak terlalu sulit untuk dipelajari, selain itu konflik-konflik psikologis yang dimunculkan masih sesuai dengan perkembangan psikologis dan latar budaya yang ditampilkannya pun masih tampak umum sehingga yang berlatar belakang budaya Islam, Kristen, Hindu, dan Budha pun dapat menerimanya.

• Saran
Cerita ini sangat cocok dibaca untuk semua kalangan, karena memberikan hal-hal yang menarik tentang kehidupan. Tetapi, sebaiknya harus dibaca secara utuh dan diulang beberapa kali agar memahami isinya.